Keajaiban Prasangka Baik di Bulan Ramadan
Penulis : Jovi Fernando Setiawan
Mahasiswa Pecinta Film dan Buku
Bulan Ramadan selalu membawa suasana yang sangat berbeda bagi relung hati kita semua. Ada ketenangan luar biasa yang menyusup pelan di antara rutinitas keseharian yang melelahkan. Di bulan suci penuh ampunan ini, kita diajak untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia. Kita diminta untuk kembali melihat ke dalam diri dan mengevaluasi perjalanan spiritual kita. Lebih dari sekadar menahan rasa lapar dan haus, ini adalah waktu untuk menata hati.
Di tengah keheningan malam saat makan sahur, kita sering kali menemukan kejernihan pikiran. Kita merenungkan sejauh mana langkah kaki ini telah berjalan mengarungi kehidupan yang fana ini. Ramadan layaknya sebuah oase di tengah padang pasir yang menyegarkan dahaga spiritual jiwa kita. Ini adalah waktu di mana pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya bagi siapa saja yang tulus meminta. Oleh karena itu, sungguh merugi jika kita membiarkan bulan suci ini berlalu tanpa makna, Salah satu hal terindah yang diajarkan dalam agama Islam adalah selalu berprasangka baik. Sikap mulia ini sering kita kenal dengan istilah husnuzhan kepada ketetapan Gusti Allah SWT. Mengapa sikap ini menjadi sangat penting dalam menjalani dinamika kehidupan kita sehari-hari? Karena Allah SWT pernah berfirman bahwa Dia selalu sesuai dengan prasangka hamba-hamba-Nya. Jika kita yakin Allah merencanakan yang terbaik, maka kebaikanlah yang pada akhirnya akan datang.
Meskipun terdengar indah, mempraktikkan husnuzhan di saat sulit sungguh tidak semudah membalik telapak tangan. Sebagai manusia biasa, saya menyadari betul masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam diri saya. Perkenalkan, nama saya Jovi Fernando Setiawan, dan saya ingin berbagi sebuah kisah refleksi nyata. Ramadan kali ini benar-benar menjadi momen tamparan halus sekaligus teguran yang mendalam bagi saya. Saya berefleksi dan menyadari satu kebiasaan buruk yang rupanya masih sesekali menempel kuat.
Terkadang, tanpa sadar saya masih suka ngerasani atau membicarakan keburukan dan aib orang lain. Padahal, kita semua sangat tahu bahwa membicarakan orang lain itu sungguh perbuatan yang tidak baik. Ibaratnya, kita mengumpulkan pahala puasa dari pagi hingga petang dengan penuh susah payah. Namun, pahala yang berharga itu bocor begitu saja hanya karena lisan yang tidak terjaga. Menyadari kenyataan memalukan ini membuat saya merasa sangat kerdil di hadapan Gusti Allah.
Saya bertekad menjadikan momen Ramadan tahun ini sebagai titik balik untuk memperbaiki lisan saya. Mengingat betapa besarnya kasih sayang Allah, rasanya sungguh tak pantas jika lisan ini berbuat dosa. Ketika Allah menutupi aib kita dan memberikan rezeki melimpah, mengapa kita berani menggunjing orang lain? Kesadaran inilah yang perlahan menuntun saya untuk lebih berhati-hati dalam menjaga ucapan dan hati. Saya ingin mulut ini lebih banyak berzikir daripada membicarakan kelemahan sesama makhluk ciptaan-Nya. Sehari-hari, saya menggantungkan hidup dari sektor pariwisata yang pergerakannya sangat dinamis dan tak menentu. Saya bekerja sebagai pemandu, pelayan, sekaligus penjaga kebersihan di 'SEKUKUSAN' Desa Wisata Lerep. Pekerjaan ini menuntut saya untuk selalu tampil ramah dan melayani setiap tamu dengan sepenuh hati. Desa wisata yang asri ini biasanya cukup ramai, membawa senyum bagi kami para pekerja. Namun, roda kehidupan manusia memang tidak selalu berada di atas dan berjalan mulus.
Beberapa waktu belakangan mendekati bulan puasa, jumlah kunjungan tamu ke 'SEKUKUSAN' Desa Wisata Lerep mengalami penurunan yang cukup drastis. Sepinya pengunjung wisata tentu saja berdampak langsung pada penghasilan harian yang saya bawa pulang. Sebagai pekerja lepas pariwisata, kondisi sepi ini membuat pemasukan berkurang secara sangat signifikan. Jujur saja hal ini sebenarnya cukup wajar terutama mendekati dan saat bulan puasa jumlah tamu secara statistik memang selalu berkurang, namun ada perasaan cemas dan khawatir yang sempat menghampiri pikiran dan batin saya. Kebutuhan hidup terus menuntut untuk dipenuhi, sementara sumber rezeki utama tampak sedang surut.
Penurunan jumlah pengunjung wisata ini memang sebuah fenomena yang berada di luar kendali kami. Ketika melihat meja-meja pengunjung yang kosong dan jalur wisata yang lengang, ada desir kesedihan tersendiri. Penghasilan harian yang biasanya cukup untuk ditabung, perlahan hanya cukup untuk kebutuhan makan seadanya. Di titik terendah inilah mental saya diuji untuk tidak mengeluh pada keadaan yang serba sulit. Saya belajar bahwa rezeki dari Tuhan tidak pernah sekadar hitungan matematika kasar buatan manusia.
Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi tingkat keimanan dan prasangka kita sebagai seorang hamba. Di saat dompet semakin menipis dan kekhawatiran melanda, setan mudah sekali membisikkan rasa keputusasaan. Namun, saya teringat kembali pada ajaran luhur untuk selalu berhusnuzhan kepada kehendak Gusti Allah. Saya meyakinkan diri sendiri bahwa rezeki manusia tidak pernah tertukar dan selalu ada jalannya. Saya tetap berangkat kerja ke 'SEKUKUSAN' Desa Wisata Lerep dengan hati yang berusaha seikhlas dan setabah mungkin.
Sambil menanti kedatangan tamu yang tak kunjung ramai, saya mendadak memiliki sedikit tambahan waktu istirahat karena volume tamu yang berkurang. Pada bulan Januari lalu, saya melihat ada sebuah informasi yang sangat menarik di dunia maya. Ada lomba Puisi Esai yang diselenggarakan oleh pihak Denny JA Foundation secara terbuka. Lomba sastra ini rupanya juga bekerja sama dengan pihak Orbit Indonesia yang kredibel (yang kebetulan saya bisa kenal website ini lewat lomba tersebut). Awalnya, saya hanya melihatnya sekilas tanpa ada niat atau ambisi yang terlalu menggebu-gebu.
Waktu luang di tempat kerja akhirnya saya coba manfaatkan untuk hal yang lebih produktif. Daripada sekadar duduk diam atau melamunkan nasib, saya memutuskan untuk mencoba mengikuti lomba tersebut. Saya sama sekali tidak memiliki ekspektasi atau angan-angan tinggi untuk memenangkan kompetisi bergengsi itu. Niat saya pada saat itu hanyalah ingin mencurahkan isi hati dan perasaan yang sedang berkecamuk. Menulis perlahan menjadi sebuah terapi penyembuhan tersendiri di tengah sepinya pengunjung 'SEKUKUSAN' Lerep.
Ajang kompetisi Puisi Esai dari Denny JA Foundation dan Orbit Indonesia ini terasa sangat unik. Mereka memberikan ruang berekspresi bagi para penulis dari berbagai kalangan secara sangat membebaskan. Saya merasa telah menemukan wadah yang tepat untuk menumpahkan segala gelisah yang lama tertahan. Saya merenung dalam diam, menyusun diksi, dan membiarkan jari-jemari saya menari di atas layar. Tanpa sadar, aktivitas menulis ini sukses mengalihkan pikiran saya dari beratnya beban ekonomi karena kebetulan tema lomba tersebut juga cukup relatable bagi saya.
Kata demi kata saya rangkai dengan jujur, mengalir apa adanya dari kedalaman relung jiwa. Saya menulis karya puisi esai itu dengan sangat santai, tanpa beban harus keluar sebagai juara. Di samping itu, saya juga rutin mengasah kemampuan dengan menulis beberapa karya esai lainnya. Semua itu saya lakukan murni dengan niat berkarya dan membagikan pemikiran yang berdampak positif. Saya serahkan semua hasil akhirnya sepenuhnya kepada ketetapan dan kehendak mutlak Gusti Allah.
Menjaga area 'SEKUKUSAN' Desa Wisata Lerep sebenarnya selalu memberikan ketenangan batin yang khas. Udara sejuk pegunungan dan panorama alamnya selalu sukses menyejukkan pandangan mata yang lelah. Sering kali, sembari menatap pepohonan yang rindang, saya merenungkan banyak hal tentang filosofi kehidupan. Alam mengajarkan saya bahwa setiap pohon dan daun pasti akan mendapatkan jatah airnya. Begitu pula manusia, pasti akan menerima jatah rezekinya masing-masing di waktu yang paling tepat.
Waktu pun terus berjalan tanpa terasa, berganti lembaran bulan dari Januari menuju Februari. Saya sudah hampir melupakan sepenuhnya tentang lomba puisi esai yang pernah saya ikuti tersebut. Pikiran saya kembali fokus pada rutinitas pekerjaan harian dan usaha gigih untuk bertahan hidup. Namun, janji Allah tentang turunnya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka sungguh benar-benar nyata. Suatu hari di pertengahan bulan Februari, sebuah kabar luar biasa datang menghampiri ponsel saya.
Saya menerima pesan pengumuman resmi dari pihak penyelenggara lomba puisi esai nasional tersebut. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena gugup, saya membaca pesan teks yang masuk itu. Alhamdulillah, sungguh ini adalah sebuah kejutan manis yang sama sekali tidak pernah saya duga. Nama saya, Jovi Fernando Setiawan, secara resmi dinyatakan menang sebagai peraih predikat Juara Favorit. Rasanya seperti sedang bermimpi indah, dada saya mendadak terasa sesak oleh keharuan yang luar biasa.
Beberapa hari setelah pengumuman membahagiakan itu, kebahagiaan saya kembali dilipatgandakan oleh kemurahan Gusti Allah. Saya mendapatkan transferan hadiah uang tunai langsung dari kemenangan kompetisi menulis tersebut. Jumlah nominal uang tersebut, bagi ukuran hidup saya, sungguh cukup banyak dan sangat berarti. Uang itu hadir secara presisi tepat pada saat perekonomian saya sedang berada di fase sulit. Ia datang laksana hujan deras yang menyirami tanah kering kerontang di puncak musim kemarau.
Keajaiban dari kekuatan prasangka baik ternyata tidak berhenti hanya sampai di titik itu saja. Hampir di waktu yang bersamaan, saya menerima deretan kabar baik lainnya yang tak kalah membahagiakan. Beberapa karya esai tulisan saya yang lain ternyata juga dinyatakan lolos tahapan kurasi oleh penerbit. Dan yang membuat saya semakin bersyukur tanpa henti, honor dari tulisan-tulisan tersebut juga ikut cair. Rentetan rezeki beruntun ini benar-benar membuat saya terdiam, merenungi betapa Maha Baiknya Sang Pencipta.
Di salah satu sudut ruang 'SEKUKUSAN' yang tenang, saya hanya bisa bersujud tanda syukur. Air mata haru rasanya sangat sulit dibendung mengingat betapa indahnya skenario yang Allah siapkan. Di saat saya merasa terhimpit karena penghasilan wisata menurun drastis, Allah justru membuka pintu lain. Pintu rezeki itu dibuka perlahan melalui hobi menulis yang awalnya hanya sekadar mengisi waktu luang. Ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa pertolongan Gusti Allah selalu datang di saat yang tepat.
Rangkaian kejadian menakjubkan ini menjadi sebuah bekal spiritual yang luar biasa berharga bagi saya. Memasuki bulan suci Ramadan pada tahun ini, hati saya dipenuhi dengan rasa syukur yang meluap. Ramadan bagi saya kini bukan lagi sekadar rutinitas fisik menahan haus dan lapar semata. Ramadan kali ini adalah tentang merayakan kebesaran Allah dan menundukkan kesombongan ego diri sendiri. Ini adalah momen pembuktian untuk membuang jauh-jauh sifat buruk seperti kebiasaan ngerasani tadi.
Melalui tulisan ringan dan sederhana ini, saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk merenung. Mari kita luangkan waktu sejenak di keheningan bulan Ramadan ini untuk melihat ke dalam diri. Sudahkah kita sepenuhnya menyerahkan segala urusan hidup kita kepada takdir dan kehendak Gusti Allah? Sudahkah kita selalu memelihara prasangka baik kepada-Nya, bahkan ketika masalah datang bertubi-tubi menyapa kita? Percayalah, ujian yang datang menghampiri hanyalah cara Allah untuk menaikkan derajat kesabaran hamba-Nya.
Bagi Anda yang mungkin saat ini sedang mengalami ujian kesulitan ekonomi atau masalah berat lainnya. Bagi Anda yang usahanya sedang sepi pembeli atau perjalanan karirnya sedang menemui jalan buntu. Jangan pernah sekalipun merasa bahwa Allah meninggalkan Anda berjuang sendirian terombang-ambing di dunia ini. Tetaplah tekun berbuat baik, tetaplah rajin berkarya, dan lakukan hal-hal positif yang Anda senangi. Pintu rezeki Allah itu teramat sangat luas, tidak hanya terpaku pada satu pintu pekerjaan saja.
Kisah nyata saya di Desa Wisata Lerep hanyalah satu dari jutaan bukti kebesaran-Nya di bumi. Gusti Allah selalu punya cara membalas kesabaran dan prasangka baik dengan cara yang sangat manis. Dia selalu menjawab setiap keresahan batin hamba-Nya dengan kejutan yang menggetarkan relung hati terdalam. Mari kita jadikan bulan Ramadan yang penuh berkah ini sebagai momentum mempertebal husnuzhan kita. Semoga kelak kita semua digolongkan ke dalam barisan hamba-hamba-Nya yang pandai memanjatkan rasa syukur.