Diskusi Buku "Puisi Sebagai Potret Kegelisahan" - Dinas Kebudayaan Sumbar Fasilitasi Ruang Kreatif bagi Sastrawan
ORBITINDONESIA.COM — Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat mengajak para sastrawan, budayawan, dan penulis untuk memanfaatkan secara optimal berbagai fasilitas yang tersedia guna mengembangkan kegiatan kebudayaan di daerah ini. Salah satu fasilitas yang dapat dimanfaatkan adalah ruang di lantai 5 Kantor Dinas Kebudayaan yang selama ini masih jarang digunakan.
Ajakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Syaiful Bahri, SP, MM saat membuka diskusi buku Puisi Sebagai Potret Kegelisahan (Kumpulan Kritik Sastra Atas SAKTI) karya Dr. Andria Catri Tamsin, M.Pd, dkk, Jumat, 27 Februari 2026 di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat, Jalan Diponegoro, Padang.
Menurut Syaiful Bahri, pihaknya menyambut baik ketika Ketua Festival Literasi Internasional Minangkabau (IMLF-4), Sastri Bakry, menyampaikan rencana pelaksanaan diskusi buku tersebut.
“Kami sangat senang dapat memberikan dukungan terhadap para sastrawan dan budayawan dalam berkarya. Kita siapkan ruang rasa dan ruang budaya agar para seniman bisa terus berproses melahirkan karya, baik berupa lukisan, tarian, musik, seni suara, pameran karya tulis, workshop patung, dan sebagainya,” ujarnya.
Bagian dari Pra IMLF-4
Sementara itu, Sekretaris IMLF-4 sekaligus panitia pelaksana, Armaidi Tanjung, melaporkan bahwa diskusi buku ini merupakan rangkaian kegiatan Pra-Festival Literasi Internasional Minangkabau (IMLF-4). Festival tersebut akan digelar pada 3–7 Juni 2026 di Bukittinggi, bertepatan dengan peringatan 100 Tahun Jam Gadang.
Beragam agenda telah disiapkan, antara lain seminar, penanaman 100 pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap isu kebencanaan, pembacaan 100 puisi dunia, penerbitan 100 puisi tentang Jam Gadang, peluncuran 100 buku, peragaan 100 busana Minang, serta berbagai lomba dan kegiatan literasi lainnya.
“Diskusi buku ini menghadirkan dua pembicara, yakni akademisi FBS UNP sekaligus penyair Dr. Andria Catri Tamsin, M.Pd, dan seorang Penyair ASEAN, dengan moderator Dr. Hermawan,” jelas Armaidi Tanjung yang dikenal sebagai penulis puluhan buku.
Acara juga diselingi pembacaan puisi oleh Rani Silvia, Mindasari, Dadang Leona, Fauzul El Nurca, Yenny Ibrahim, Hendra Munur, dan Muslim Nur. Masing-masing pembaca puisi memperoleh buku dari Sastri Bakry sebagai bentuk apresiasi.
Buku Puisi Sebagai Potret Kegelisahan diterbitkan oleh Kosa Kata Kita (KKK) dengan ketebalan xxiv + 136 halaman.
Dinamika Kreativitas Sastri Bakry
Dalam sesi diskusi, pembicara Syarifuddin Arifin menyoroti konsistensi Sastri Bakry dalam berkarya. Ia menyebut Sastri sebagai sosok yang terus menulis tanpa menghiraukan komentar miring terhadap dirinya.
“Sastri sering tampil dengan gaya yang dianggap seleb atau borjuis. Sebagian orang menilai ia tidak pantas menulis tentang mereka yang terlantar dan menderita. Namun ia tidak peduli. Baginya, penampilan bukan ukuran. Yang penting adalah lompatan pikiran dan tindakan nyata,” ujar Syarifuddin.
Menurutnya, pengalaman batin Sastri disalurkan melalui berbagai karya, mulai dari naskah teater, opera, cerpen, novel, hingga puisi. Ia dikenal kerap menulis secara spontan dan membiasakan diri mencatat berbagai hal sebagai bagian dari proses kreatifnya.
Hadirnya Tokoh Sastra dan Budaya
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Taman Budaya Sumbar M. Devid, SSTP, Penulis Prolifik Satupena 2023 Saunir Saun, para penyair, budayawan, akademisi, penulis, perwakilan Asosiasi Siti Mangopoh, serta undangan lainnya.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan berbuka puasa bersama di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat.***