Mengenang Peristiwa 25 Februari 1851: Rambut Batin Tikal dan Misteri yang Menggetarkan Bangka
ORBITINDONESIA.COM - Tanggal 25 Februari 1851 merupakan salah satu hari yang cukup bersejarah bagi perlawanan rakyat terhadap kolonialisme di Bangka.
Tepat tanggal 25 Februari, 175 tahun yang lalu, sosok pejuang kharismatik, Batin Tikal, dijebak dan ditangkap oleh Belanda setelah dijanjikan membuat jalan dari kampung Gudang ke Sungai Selan, yang dikomandoi oleh Mayor DW. Becking.
Dan di Sungai Selan, Batin Tikal dipaksa memotong rambut panjangnya di hadapan umum oleh pemerintah kolonial Belanda.
Batin Tikal dikenal bukan hanya sebagai pemimpin perlawanan, tetapi juga sebagai figur yang diselimuti kharisma dan kepercayaan rakyat.
Rambutnya yang panjang dan keriting diyakini memiliki “hikmah”, bahkan disebutkan keras seperti kawat. Dan keyakinan inilah yang dianggap takhayul oleh Belanda.
Untuk mematahkan kepercayaan masyarakat tersebut, Batin Tikal diperintahkan untuk menggunting rambutnya di depan khalayak.
Konon, tiga buah gunting dicoba untuk memotong rambutnya. Namun ketiga gunting itu tak satupun yang mampu memotong rambut Batin Tikal.
Hal ini karena tidak ada izin dari Batin Tikal sendiri. Karena tiada satupun yang mampu memotongnya, akhirnya Batin Tikal sendiri mengambil gunting itu, lalu ia mengusapnya dengan jari, kemudian menyerahkannya kembali. Setelah itu, rambutnya pun terpotong.
Tak lama berselang, langit Bangka mendadak gelap. Hujan deras turun disertai petir menyambar-nyambar. Tiang bendera di depan rumah tuan kongsi dilaporkan patah tersambar petir, bahkan api sempat menyambar bagian rumah sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.
Beberapa jam kemudian, Mayor Becking mendadak jatuh sakit dan meninggal dunia.
Versi rakyat meyakini peristiwa itu berkaitan dengan “kesaktian” rambut Batin Tikal yang dipotong bertentangan dengan kehendaknya.
Namun pihak Belanda menyatakan bahwa sang mayor telah lama menderita sakit disentri. Mayor DW. Becking dimakamkan di Sungai Selan.
Ada versi yang mengatakan bahwa DW. Becking mati berdiri dan dimakamkan dalam posisi berdiri.
Terlepas dari perbedaan versi, 25 Februari 1851 menjadi simbol perlawanan rakyat Bangka terhadap kolonial Belanda, dan benturan antara keyakinan rakyat dan kekuasaan kolonial.
Peristiwa itu tak sekadar tentang rambut yang terpotong, tetapi tentang harga diri, perlawanan, dan keyakinan yang tak mudah dipatahkan.
(Kulul Sari, penulis dan Ketua Lembaga Adat Melayu Bangka Selatan) ***