Radio dan Bedug Buka Puasa
Catatan Ramadan | Yusrizal Karana
Sekretaris Perkumpulan Penulis Satupena Indonesia Provinsi Lampung
Dulu, ketika saya masih bocah, tinggal di sebuah desa yang sepi di Krui, Pesisir Barat, Lampung, menunggu waktu berbuka puasa bukan seperti sekarang: menatap layar televisi atau handphone sambil menghitung mundur detik digital.
Dulu, tidak ada aplikasi azan, tidak ada notifikasi, melainkan cuma suara bedug masjid, atau paling banter dari siaran radio tetangga, yang terdengar berdesis pelan dari sudut ruang tamunya. Karena rumah kami jauh dari masjid, maka radio tetangga itulah satu-satunya penentu nasib: apakah sudah boleh makan kolak, atau masih harus bersabar sambil mencium aroma masakan Mak.
Pengalaman semacam itu mungkin hanya dialami oleh mereka yang lahir sejak adanya radio hingga tahun 1980, atau yang disebut sebagai Generasi X – di mana mereka tumbuh hanya bersama suara, bukan layar.
Tapi di kota besar, mereka yang lahir di era 1981 (milenial) ke sini, orang menunggu magrib cukup dari notifikasi aplikasi. Ada suara azan versi premium, ada hitung mundur digital, dan ada pilihan nada lembut yang dramatis.
Tapi masyarakat yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, terluar negeri ini, penanda waktu berbuka masih mengandalkan siaran radio. Mungkin cuma ini perangkat yang tidak membutuhkan kuota, tidak ngambek kalau sinyal hilang, dan tidak perlu pembaruan sistem.
Jika dilihat dari kaca mata kekinian, radio itu sederhana. Tapi justru karena dengan kesederhanaannya itu, ia bisa bertahan hingga beberapa generasi. Lalu ada yang bertanya. “Di zaman akal buatan atau AI seperti sekarang, apakah keberadaan radio masih relevan?”
Pertanyaan itu biasanya muncul dari kalangan anak muda di ruang ber-AC, dengan Wi-Fi stabil, sambil scroll layar handphone dan menyeruput kopi Rabusta Lampung. Jarang yang bertanya dari dapur reot di kampung yang listriknya saja kadang masih byar-pet.
Kini, radio bukan primadona lagi. Ratingnya kadang kalah dari platform streaming dan podcast. Pengiklan malah cenderung tergoda dengan angka-angka digital: impression, engagement, conversion rate. Dan di rapat level manajemen, kata “Artificial Intelligence” lebih merdu terdengar dibanding “Frekuensi FM”.
Tapi sejatinya, radio tidak pernah hidup dari kesempurnaan. Ia hidup dari kreativitas manusia. Perhatikan saja, penyiar radio itu jauh dari kata ideal. Ada yang ngantuk saat siaran menjelang imsak, suaranya kadang berat seperti baru bangun dari mimpi dikejar rating.
Kadang ada juga yang keselek saat baca iklan sirup Marjan. Yang lucunya lagi, ada yang suaranya cempreng tapi pedenya luar biasa. Ada insiden salah menyebut nama narasumber lalu pura-pura batuk. Tapi justru di situlah letak kehangatannya.
Berbeda dengan AI. Ia bisa membaca rundown siaran tanpa salah, dan dijamin tidak akan batuk-batuk atau keselek. AI juga dipastikan tidak akan salah menyebut sponsor. Dan uniknya lagi, ia tidak akan minta cuti “halangan” atau alasan karena suaranya hilang. Dari sisi efisiensi, AI adalah karyawan Impian, karena ia tidak bisa protes, tidak akan minta gaji, dan tidak akan demo.
Bayangkan sebuah stasiun radio bonafit yang full AI. Siarannya bisa 24 jam nonstop tanpa jeda. Tidak ada cerita penyiarnya telat masuk kerja. Tidak ada suara serak karena habis begadang nobar sepak bola, dan tentu saja tidak ada lagi drama rebutan jam prime time.
Semuanya bisa dikerjakan secara rapi, on time dan presisi. Tapi mungkin juga terasa hambar, anyep, karena radio bukan hanya masalah suara yang terdengar dari speaker. Radio itu tentang cerita kecil yang nyeletuk, dan menyelinap di antara iklan dan lagu. Kemudian juga soal penyiar yang tiba-tiba curhat tipis-tipis tentang banjir di kelurahan sebelah. Lalu ada lagi soal candaan internal yang hanya dipahami oleh pendengar setianya. Malah kadang juga terdengar canda yang tak sengaja karena lupa mematikan mic.
Nah, di bulan puasa, human interest seperti itu mulai dirindukan. Penyiar yang siaran sahur datang ke studio pukul 03.00 WIB dini hari sambil menahan kantuk. Tapi ia mencoba tetap ceria agar pendengar tidak ketiduran. Ada juga penyiar yang mengingatkan waktu imsak dengan nada setengah panik, karena ia sendiri lupa sahur. Padahal, ia baru sadar lima menit lagi harus puasa.
Ketika azan magrib diputar, ada sedikit jeda hening yang terasa khusyuk. Itu bukan sekadar audio file. Itu merupakan momen kolektif. AI bisa memutar azan tepat waktu, namun ia tidak pernah menunggu kebersamaan. Itulah bedanya penyiar radio manusia dengan AI.
Soal iklan dan rating, radio memang sedang diuji, karena pemasang iklan biasanya ingin data real-time, ingin tahu karakter pendengar, umur audien, dan cara meng-klik untuk memesan lagu. Sungguh dunia ini bergerak sangat cepat, namun radio kadang terlihat santai saja.
Namun di situlah letak paradoksnya. Ketika semua platform berlomba mengejar followers dan perhatian, radio justru menemani tanpa paksaan. Ia tidak membutuhkan visual, tidak juga meminta like. Ia hanya hadir sebagai latar kehidupan manusia, baik di rumah, warung kopi, di pos penjagaan perbatasan, atau yang sedang dalam perjalanan.
Meskipun begitu, tapi AI tidak otomatis membunuh radio. Justru yang bisa membunuh radio adalah radio itu sendiri, karena tidak bisa beradaptasi. Penyiar yang cuma bisanya membaca skrip datar memang akan kalah dengan akal buatan yang lebih konsisten. Tapi penyiar yang memiliki empati, punya sudut pandang, ada wawasan yang menyentuh isu lokal, itu masih sulit digantikan.
Mengapa begitu? Karena kecerdasan buatan bekerja dengan data, sedangkan manusia bekerja dengan rasa, dan rasa itulah yang membuat radio tetap memiliki tempat di hati pendengarnya.
Hari ini, radio mungkin tidak lagi jadi pusat perhatian. Ia tidak lagi dikelilingi oleh sponsor besar seperti era kejayaannya. Namun selagi masih ada masyarakat yang membutuhkan informasi tanpa internet, selama masih ada umat Islam yang menunggu waktu buka puasa dari suara yang sudah akrab di telinga, maka radio akan tetap relevan.
Radio mungkin saja bukan sebagai simbol nostalgia. Ia mungkin juga bukan sekadar romantisme analog. Tapi sebagai pengingat, bahwa manusia masih ingin ditemani manusia meski di tengah algoritma yang makin canggih. (*)
Bandar Lampung, 21 Februari 2026