Mengapa Para Diplomat Iran Memakai Jas Tanpa Dasi? Ada Alasan Historis dan Ideologis
ORBITINDONESIA.COM - Kalau Anda perhatikan, mayoritas pejabat dan diplomat Iran --mulai dari Presiden, para menteri, hingga duta besar-- mengenakan jas, tetapi tanpa dasi. Mengapa?
Pejabat Iran umumnya memakai jas tanpa dasi karena alasan historis, budaya, dan politik:
Simbol anti-Barat
Setelah Revolusi Islam 1979, dasi dianggap sebagai simbol budaya Barat, khususnya Amerika Serikat dan Eropa. Memakainya dipandang sebagai bentuk penyerahan diri pada pengaruh asing. Karena itu, banyak pejabat Iran menolak dasi sebagai pernyataan identitas nasional dan perlawanan terhadap dominasi Barat .
Pada masa awal pascarevolusi, dasi sempat dilarang secara tidak resmi di ruang publik dan pemerintahan. Akibatnya, gaya berpakaian formal di Iran berkembang tanpa dasi, meskipun tetap menggunakan jas dan kemeja .
Makna ideologis
Dasi dikaitkan dengan elitisme dan status sosial ala Barat. Dengan menanggalkannya, pejabat Iran ingin menunjukkan kesederhanaan dan kedekatan dengan rakyat, sesuai dengan semangat revolusi Islam.
Dalam konteks diplomasi internasional, gaya berpakaian pejabat Iran yang memakai jas tanpa dasi punya makna simbolis yang cukup kuat.
Saat menghadiri pertemuan internasional, pejabat Iran tetap mempertahankan gaya tanpa dasi sebagai penegasan identitas nasional dan ideologi pascarevolusi. Ini menjadi cara mereka menunjukkan bahwa Iran berbeda dari standar protokol Barat.
Ketika duduk bersama pemimpin dunia lain yang umumnya mengenakan jas dan dasi, penampilan pejabat Iran memberi pesan tersirat: mereka tidak tunduk pada norma Barat, melainkan membawa tradisi dan nilai sendiri ke meja perundingan.
Persepsi luar negeri
Di mata diplomat Barat, gaya ini kadang dianggap tidak konvensional atau bahkan "kurang formal." Namun bagi Iran, justru itulah bentuk kemandirian dan penolakan terhadap simbol kolonialisme budaya.
Praktis sekaligus ideologis
Selain alasan ideologis, gaya tanpa dasi juga dianggap lebih sederhana dan sesuai dengan citra pejabat yang ingin tampil dekat dengan rakyat, bukan sebagai elit bergaya Barat.
Menariknya, meskipun gaya ini sering dipandang sebagai "anti-Barat," Iran tetap menggunakan jas sebagai simbol modernitas. Jadi, kombinasi jas tanpa dasi adalah kompromi: tetap terlihat resmi, tapi dengan sentuhan ideologis khas Iran.
Perubahan terkini, meski masih jarang, belakangan ini dasi mulai muncul kembali di kalangan anak muda dan sebagian profesional di Iran. Namun, di lingkaran pejabat tinggi, gaya tanpa dasi tetap menjadi norma.
*Satrio Arismunandar, pakar SCSC (South China Sea Council).