Kisah Tragis Kematian Hind Rajab, Bocah Palestina Berusia 6 Tahun, di Tangan Militer Israel

ORBITINDONESIA.COM - Di bawah bayang-bayang perintah evakuasi militer Israel, Bashar Hamadeh membuat keputusan sulit untuk membawa keluarganya keluar dari lingkungan Tel al-Hawa, Kota Gaza. Ia berharap menemukan keamanan.

Bashar memuat tujuh orang ke dalam mobil kota kecil berwarna hitam, sebuah Kia Picanto. Di dalamnya ada istrinya, empat anak mereka (Layan, Sana, Raghad, Mohammed), dan keponakan mereka yang baru berusia 6 tahun, Hind Rajab.

Sekitar pukul 14.30, perjalanan mereka terhenti secara brutal di dekat SPBU Fares. Mereka tidak menyadari bahwa mereka telah masuk langsung ke jalur lintasan kendaraan lapis baja Israel.

Saat moncong tank terlihat, Layan Hamadeh (15 tahun), sepupu Hind, dengan panik menelepon Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS). Dalam rekaman yang kemudian mengguncang dunia, suara Layan terdengar bergetar:

"Mereka menembaki kami. Tanknya ada di sebelahku."

Hanya beberapa detik kemudian, jeritan Layan tenggelam oleh suara rentetan tembakan yang memekakkan telinga. Analisis forensik audio di kemudian hari mengungkap fakta mengerikan: dalam waktu hanya 6 detik, senapan mesin tank tersebut memuntahkan 64 peluru ke arah mobil keluarga itu. Sambungan telepon terputus. Layan dan lima anggota keluarganya tewas seketika.

I. Tiga Jam Penuh Teror

29 Januari 2024 - Sore Menjelang Malam

Keheningan menyelimuti mobil yang kini penuh asap dan darah itu. Namun, satu nyawa masih bertahan. Hind Rajab, gadis kecil berusia 6 tahun itu, selamat dari hujan peluru pertama.

Hind kembali menghubungi operator PRCS. Kali ini, suara di ujung telepon bukan lagi remaja yang panik, melainkan anak kecil yang ketakutan luar biasa.

"Tolong jemput aku. Datanglah dan bawa aku pergi. Aku sangat takut, tolong datang," bisiknya.

Ia dikelilingi oleh jenazah paman, bibi, dan sepupu-sepupunya.

Selama kurang lebih tiga jam, operator PRCS berusaha menemaninya lewat sambungan telepon. Hari mulai gelap, Hind terluka, dan posisi tank Israel berdasarkan analisis visual hanya berjarak 13 hingga 23 meter darinya. Pada jarak sedekat itu, di siang hari bolong, awak tank seharusnya bisa melihat dengan jelas bahwa penumpang yang tersisa hanyalah seorang anak kecil di antara warga sipil yang tewas.

II. “Lampu Hijau” yang Mematikan

29 Januari 2024 - Pukul 17.40

Di pusat operasi, PRCS menghadapi dilema yang menyiksa. Mereka tidak bisa bergerak tanpa izin militer (prosedur dekonflik). Setelah negosiasi panjang, pada pukul 17.40, militer Israel (melalui COGAT) memberikan "Lampu Hijau": rute dinyatakan aman untuk evakuasi.

Dua paramedis pemberani, Yusuf Al-Zeino dan Ahmed Al-Madhoun, segera memacu ambulans unit 116 menuju lokasi. Mereka menyalakan lampu dan sirene, menembus kegelapan malam dengan harapan menyelamatkan Hind.

Sekitar pukul 18.00, harapan itu tampak di depan mata. Kru ambulans melapor melalui radio: "Kami bisa melihat mobilnya." Mereka sudah sangat dekat. Namun, laporan itu menjadi kata-kata terakhir mereka. Suara ledakan besar terdengar di radio, diikuti keheningan total. Kontak dengan ambulans dan dengan Hind hilang selamanya.

III. Dua Belas Hari Keheningan

30 Januari – 9 Februari 2024

Dunia bertanya-tanya. Di mana Hind? Di mana Yusuf dan Ahmed? Selama hampir dua minggu, area tersebut menjadi zona militer tertutup. Tidak ada yang bisa masuk atau keluar. Ibu Hind menunggu dalam ketidakpastian yang menyiksa, berharap putrinya masih diselamatkan atau setidaknya bersembunyi.

IV. Pengungkapan Fakta yang Mengerikan

10 Februari 2024

Pasukan Israel menarik diri dari Tel al-Hawa pada dini hari. Keluarga dan tim penyelamat langsung menyerbu lokasi. Pemandangan yang mereka temukan adalah mimpi buruk.

Mereka menemukan mobil Kia Picanto hitam itu. Bodinya hancur, menyerupai saringan. Investigasi Euro-Med Monitor menghitung ada 335 lubang peluru di mobil itu sebagian besar di sisi kanan, arah tank berada. Ini bukan sekadar tembakan peringatan; ini adalah eksekusi dengan intensitas tinggi.

Di kursi belakang, jenazah Hind ditemukan membusuk di antara keluarganya. Ia tewas sendirian. Hanya 50 meter dari sana, teka-teki hilangnya tim penyelamat terjawab. Ambulans PRCS ditemukan hangus menjadi kerangka besi. Yusuf dan Ahmed tewas di dalamnya.

V. Menuntut Kebenaran (Bukti Forensik)

Militer Israel awalnya menyangkal, mengklaim pasukan mereka "tidak ada di sana". Namun, bukti ilmiah berbicara lain:

- Mata di Langit: Investigasi The Washington Post menggunakan citra satelit yang membuktikan bahwa setidaknya 15 kendaraan lapis baja Israel berada di lokasi kejadian pada sore itu, mengepung area di mana Hind terjebak.

- Jejak Senjata Amerika: Di puing-puing ambulans, ditemukan sirip peluru M830A1 HEAT. Ini adalah peluru anti-tank 120mm buatan Amerika Serikat. Ambulans tersebut tidak tertembak peluru nyasar; ia diledakkan oleh tembakan langsung tank, meskipun telah mendapat izin melintas.

- Visibilitas: Forensic Architecture menyimpulkan bahwa penembak memiliki pandangan jelas. Pembunuhan Hind, keluarganya, dan para paramedis bukanlah "kabut perang", melainkan tindakan yang dilakukan dengan kesadaran penuh akan targetnya.

Kisah Hind Rajab berakhir di antara puing-puing Gaza, namun rekaman suaranya yang memohon pertolongan tetap abadi sebagai saksi bisu kekejaman yang merenggut masa kecilnya.***