Memanjakan Tubuh Tetapi Mengabaikan Jiwa, Padahal Jiwa Akan Hidup Selamanya
ORBITINDONESIA.COM - Ada ironi yang sunyi namun tajam dalam cara manusia merawat dirinya. Setiap hari tubuh dipoles, dimanjakan, dijaga dengan penuh perhatian, seolah ia akan tinggal selamanya. Waktu, tenaga, dan pikiran dicurahkan agar raga tetap tampak utuh dan diterima dunia.
Sementara itu, jiwa sering dibiarkan lapar, letih, dan tak terurus. Padahal secara eksistensial, tubuh hanyalah persinggahan sementara, sedangkan jiwa adalah rumah yang akan dibawa melampaui usia dan waktu.
Dalam kehidupan sosial modern, nilai seseorang kerap diukur dari tampilan luar. Penampilan menjadi bahasa penerimaan, sementara kedalaman batin dianggap urusan pribadi yang tidak mendesak.
Secara psikologis, manusia terdorong untuk merawat apa yang terlihat karena ia ingin diakui. Namun di balik semua itu, ada kekosongan yang pelan-pelan menganga. Jiwa yang diabaikan akan mencari cara untuk bersuara, melalui kegelisahan, kehampaan, dan rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.
1. Tubuh dirawat untuk dilihat, jiwa diabaikan karena tak terlihat
Manusia cenderung mencintai apa yang bisa disaksikan oleh mata orang lain. Tubuh menjadi proyek sosial, dipamerkan, dinilai, dan dibandingkan. Jiwa tidak memiliki panggung semacam itu. Secara filosofis, ini menunjukkan bias manusia terhadap yang kasatmata. Padahal yang tidak terlihat justru menentukan kualitas hidup yang paling dalam. Jiwa yang terawat memancarkan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh penampilan apa pun.
2. Kenikmatan raga sering meninabobokan kesadaran batin
Ketika tubuh terus dimanjakan, ada risiko kesadaran menjadi tumpul. Kenikmatan yang berlebihan membuat manusia lupa bertanya tentang makna. Secara psikologis, pelarian ke kenyamanan fisik sering terjadi saat jiwa kelelahan menghadapi pertanyaan eksistensial. Alih-alih mendengar suara batin, manusia memilih membungkamnya dengan kesenangan sementara, tanpa sadar bahwa kebisuan jiwa justru semakin dalam.
3. Jiwa yang diabaikan akan menuntut perhatian dengan caranya sendiri
Tidak ada jiwa yang bisa diabaikan tanpa konsekuensi. Ia akan bersuara melalui kecemasan, kehampaan, atau rasa hampa yang muncul di tengah kelimpahan. Secara sosial, ini sering disalahartikan sebagai kurang bersyukur atau lemah mental. Padahal itu adalah tanda bahwa ada kebutuhan batin yang tidak terpenuhi. Jiwa tidak meminta kemewahan, ia hanya ingin didengar dan diakui keberadaannya.
4. Merawat jiwa adalah keberanian melawan arus zaman
Di tengah budaya yang memuja tampilan dan kecepatan, merawat jiwa terasa seperti tindakan yang tidak populer. Ia membutuhkan keheningan, refleksi, dan kejujuran pada diri sendiri. Secara filosofis, ini adalah bentuk perlawanan halus terhadap dunia yang terus mendorong manusia keluar dari dirinya. Merawat jiwa berarti berani melambat dan bertanya tentang arah, bukan sekadar tujuan.
5. Yang abadi seharusnya mendapat perhatian paling serius
Tubuh memiliki batas yang pasti, sementara jiwa membawa jejak setiap pilihan yang kita buat. Secara eksistensial, memperlakukan jiwa sebagai prioritas adalah keputusan yang menentukan kualitas hidup, bukan hanya di dunia, tetapi juga dalam makna yang lebih luas. Ketika jiwa dirawat, tubuh menemukan keseimbangannya. Namun ketika jiwa diabaikan, tidak ada kemewahan raga yang mampu menutup kekosongan itu.
Jika hari ini waktumu, energimu, dan perhatianmu dihitung dengan jujur, berapa banyak yang kau berikan untuk tubuhmu, dan berapa sedikit yang tersisa untuk jiwamu yang akan hidup jauh lebih lama darinya?
(Sumber: Suluhsalik) ***