Mengusik Mata Elang: Iran Menguji Urat Syaraf Amerika Serikat di Selat Hormuz

ORBITINDONESIA.COM - Apa yang terjadi di Laut Arab awal Februari 2026 ini bukanlah tindakan gegabah Iran. Ini bukan letupan emosi, apalagi langkah nekat menuju perang terbuka. Yang berlangsung justru sebuah uji sistem—dingin, terukur, dan penuh perhitungan.

Pada 3 Februari 2026, Teheran melakukan semacam uji tekanan (stress test) terhadap tekad Amerika Serikat. Tidak ada rudal yang ditembakkan. Tidak ada korban jiwa. Tekanan yang diberikan cukup halus untuk dibaca, cukup terkendali untuk dibantah, dan cukup aman untuk dibalikkan kapan saja.

Tujuannya satu: membaca sikap Washington menjelang perundingan diplomatik yang jauh lebih menentukan.

Respons Amerika Serikat pun muncul persis seperti yang diperkirakan Teheran.

Drone Shahed-139 Iran yang terbang mendekati gugus tempur kapal induk di sekitar USS Abraham Lincoln bukanlah serangan. Itu adalah penyelidikan.

Sebuah upaya untuk mengumpulkan data: seberapa cepat respons militer AS, bagaimana aturan keterlibatan diterapkan, di mana batas toleransi ditarik, dan bagaimana psikologi eskalasi akan bekerja di lapangan.

Seberapa dekat yang masih dianggap aman? Berapa lama sebelum keras dibalas keras?

Jawaban itu datang cepat. Penembakan jatuh drone Iran itu oleh pesawat F-35C yang diterbangkan dari kapal induk AS —yang dilakukan secara disiplin, terkendali, tanpa eskalasi lanjutan—menyampaikan pesan yang jelas.

Ternyata tidak ada serangan susulan oleh militer AS. Tidak ada hiruk-pikuk retorika. Hanya sebuah garis tegas yang ditegakkan.

Dari sudut pandang Iran, ditembaknya drone Shahed-139 itu bukanlah provokasi yang gagal. Itu justru adalah data yang berharga.

Beberapa jam sebelumnya, pola yang sama terlihat di Selat Hormuz. Kapal perang IRGC (Korps Garda Revolusi Islam) dan drone Mohajer Iran mengganggu kapal niaga M/V Stena Imperative.

Namun ini bukan pembajakan, bukan penyitaan, dan bukan krisis. Yang terjadi adalah gesekan terkendali: manuver cepat, perintah verbal, drone yang sengaja terlihat.

Selat Hormuz yang strategis dan jalur utama lalu lintas minyak Timur Tengah kembali diperlakukan bukan sebagai pemicu konflik, melainkan sebagai alat ukur tekanan.

Ketika kapal perusak rudal USS McFaul tiba disertai perlindungan udara Angkatan Udara AS, pesan itu sampai ke Teheran dengan jelas. Amerika akan melindungi jalur pelayaran. Amerika tidak akan bereaksi berlebihan. Jalur laut tetap dijaga terbuka tanpa menyulut api yang lebih besar.

Sekali lagi, Iran mendapatkan apa yang dicari: kepastian.

Mengapa semua ini terjadi sekarang? Karena pembicaraan diplomatik sudah di depan mata. Pertemuan antara Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan pejabat Iran dijadwalkan berlangsung di Istanbul. Sebelum duduk di meja perundingan, Teheran ingin memastikan satu hal: keseimbangan emosi dan rasionalitas lawannya.

Iran tidak sedang mencari perang. Mereka sedang mencari pengaruh.

Dengan menguji respons AS di laut, Teheran memasuki perundingan dengan pemahaman yang lebih tajam: seberapa cepat Washington meningkatkan eskalasi, sejauh apa mereka bersedia bertindak tanpa provokasi langsung, dan seberapa solid disiplin komando CENTCOM di bawah tekanan.

Semua itu informasi penting dan krusial, ketika isu-isu besar—dari rudal, sanksi, hingga proksi regional—mulai dibicarakan.

Namun dinamika ini berjalan dua arah. Washington juga belajar sesuatu. Mereka menegaskan bahwa Iran masih bermain di bawah ambang konflik terbuka—menyelidik, bukan menyerang; memberi sinyal, bukan memicu krisis.

Iran, pada saat yang sama, mengingatkan bahwa mereka tetap memegang pengaruh di perairan Hormuz, tanpa menciptakan kondisi yang akan menyatukan Washington, mengguncang harga minyak global, atau memancing pembalasan langsung.

Ini bukan permainan di tepi jurang. Ini adalah kalibrasi bersama. Sama-sama membuat analisis terukur.

Sinyal terkuat justru terletak pada apa yang tidak terjadi. Tidak ada warga Amerika yang terluka. Tidak ada kapal Iran yang ditenggelamkan. Tidak ada kapal tanker yang disita. Tidak ada spiral konflik.

Semua itu bukan kebetulan—itulah intinya.

Amerika menunjukkan dominasi tanpa ekspansi. Iran menunjukkan relevansi tanpa provokasi berlebihan. Keduanya menjaga eskalasi tetap terkunci, di tempat yang seharusnya, sambil mempertajam pemahaman satu sama lain.

Intinya sederhana: minggu ini bukan tentang Iran menantang Amerika Serikat. Ini tentang Iran mengukur Amerika Serikat. Dan untuk saat ini, kedua pihak lulus ujian masing-masing.

Laut tetap terbuka. Senjata tetap diam. Dan diplomasi—rapuh, tegang, namun krusial—masih diberi ruang untuk berlanjut ke babak berikutnya. Begitulah permainan tingkat tinggi digelar. ***

*Satrio Arismunandar, pakar SCSC (South China Sea Council), dinarasikan berdasarkan data The Movement For Social Change-GH.