Denny JA - Pak Harto sebagai Pahlawan: Potret yang Tidak Hitam Putih

- Pengantar Buku Kumpulan 40 Karya Penulis SATUPENA

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Menjelang Hari Pahlawan, dua perempuan berdiri di depan patung yang sama.

Satu menabur bunga.

Satu menggenggam arang.

Dua duanya mengenang Suharto, atau yang akrab disebut Pak Harto, presiden Indonesia yang paling lama menjabat.

Yang satu bernama Dewi.

Yang lain bernama Ratih.

Dewi mengingat jalan yang dibangun, bendungan yang mengairi sawah, lampu yang mengusir gelap, di era Pak Harto.

Ratih mengingat pintu digedor, malam tanpa pamit, kakak yang tak pernah kembali, juga di era Pak Harto.

Di hadapan patung itu, mereka tidak sedang memperdebatkan satu tokoh.

Mereka sedang mempertemukan dua pengalaman hidup.

Dewi berbicara tentang pembangunan.

Ratih berbicara tentang kehilangan.

Yang satu melihat Soeharto sebagai pahlawan.

Yang lainnya melihat Soeharto sebagai pemimpin yang otoriter.

Keduanya jujur.

Keduanya sah.

(Kutipan dari puisi esai: Dua Wajah Pemimpin, DJA, 2025)

Di situlah buku ini bermula.

Bukan dari kepastian, melainkan dari pertanyaan yang belum selesai.

-000-

Buku kumpulan tulisan ini bukan kitab pembenaran, bukan pula palu penghakiman. Ia adalah ruang perjumpaan.

Empat puluh penulis dari komunitas SATUPENA, guru, penyair, sejarawan, aktivis, akademisi, dan penulis muda, datang dengan suara masing masing. Editor buku ini Jonminofri Nazir, dosen dan wartawan senior yang juga Ketua Harian Perkumpulan Penulis Satupena.

Ada yang datang membawa bunga, ada yang membawa arang.

Ada yang berbicara dengan data, ada yang dengan luka. Ada yang menulis dengan bahasa esai, ada yang memilih puisi, ada pula yang memadukan keduanya.

Inilah keberagaman buku ini:

• Esai sejarah dan politik

• Opini reflektif kewargaan

• Puisi dan puisi esai

• Prosa sastra dan kesaksian personal

Buku ini memuat:

• 25 esai argumentatif dan reflektif

• 10 puisi dan puisi esai

• 5 prosa kesaksian dan refleksi personal

Ia tidak disusun untuk menyamakan suara,

melainkan untuk memperdengarkan perbedaan.

-000-

Di buku ini, baik yang pro maupun kontra Pak Harto sebagai pahlawan nasional, keduanya hadir. Ini memang disengaja agar Pak Harto tergambar dari banyak sisi.

Apa argumen yang pro?

1) Peran Historis Awal (1965–1966)

Pendukung menempatkan Soeharto pada momen paling rapuh dalam sejarah republik. Itu ketika negara nyaris runtuh oleh konflik ideologi, fragmentasi elite, dan kekosongan otoritas. 

Dalam pembacaan ini, tindakan keras pada fase transisi dipahami sebagai respons darurat untuk mencegah perang saudara dan disintegrasi nasional. 

Soeharto dilihat bukan sebagai figur ideal. Ia melainkan aktor sejarah yang bersedia mengambil risiko ketika institusi sipil dan politik gagal bekerja. Bagi pendukung, penilaian atas fase ini harus mempertimbangkan konteks Perang Dingin dan trauma pascakolonial. 

Mereka menilai bahwa tanpa konsolidasi cepat, betapapun brutalnya, Indonesia bisa terjerumus menjadi negara gagal. Maka jasa historis awal ini dipandang sebagai fondasi keberlangsungan republik, meski fondasi itu dibangun dengan harga moral yang mahal.

2) Pembangunan Fisik dan Ekonomi

Argumen pembangunan bertumpu pada pengalaman hidup konkret, bukan semata grafik makro. Jalan yang menghubungkan desa terpencil, bendungan yang menghidupkan sawah, program pangan yang menekan kelaparan, semua itu membentuk rasa hadirnya negara. 

Bagi jutaan warga, Orde Baru adalah periode ketika kebutuhan dasar mulai terpenuhi secara sistematis. Pendukung mengakui ketimpangan dan kesalahan, tetapi menekankan efektivitas negara dalam menggerakkan sumber daya secara terpusat. 

Mereka melihat Soeharto sebagai pemimpin teknokratik yang menempatkan stabilitas dan pertumbuhan sebagai prioritas. 

Dalam logika ini, pembangunan dipandang sebagai bentuk pengabdian nyata yang mengubah nasib generasi. Ini karenanya layak dicatat sebagai jasa historis, tanpa harus menutup mata pada kekurangannya.

3) Stabilitas Nasional

Stabilitas dipandang sebagai syarat dasar bagi negara majemuk seperti Indonesia. Pendukung berargumen bahwa pada era konflik ideologi dan identitas, ketertiban menjadi kebutuhan eksistensial. 

Kekerasan negara dipahami, meski tidak selalu dibenarkan, sebagai upaya mencegah kekacauan yang lebih luas. Mereka mengingat ketakutan akan konflik horizontal, separatisme, dan fragmentasi sosial. 

Dalam ingatan ini, Soeharto dilihat sebagai figur yang menahan retakan agar bangsa tetap utuh. Stabilitas memberi ruang bagi pembangunan, pendidikan, dan integrasi nasional. 

Bagi pendukung, menilai masa itu semata dari perspektif kebebasan politik tanpa mempertimbangkan ancaman disintegrasi dianggap ahistoris. Stabilitas, bagi mereka, adalah jasa yang sering diremehkan karena justru bekerja dalam keheningan.

-000-

Bagaimana dengan argumen yang kontra? Ada tiga alasan utama.

1) Pelanggaran HAM Berat

Bagi penentang, pelanggaran HAM bukan sekadar catatan kelam, melainkan inti dari penilaian moral. Penghilangan paksa, pembantaian massal, dan kriminalisasi pikiran meninggalkan trauma lintas generasi. 

Negara bukan hanya lalai, tetapi aktif memproduksi ketakutan. Korban kehilangan nyawa, keluarga kehilangan kebenaran, dan masyarakat kehilangan rasa aman. 

Dalam perspektif ini, waktu tidak menghapus luka, justru memperjelas tanggung jawab. Menjadikan Soeharto pahlawan dipandang sebagai pengingkaran terhadap penderitaan yang belum dipulihkan. Pahlawan, menurut argumen ini, harus berdiri bersama korban, bukan di atas mereka. 

Tanpa pengakuan dan keadilan, gelar kehormatan hanya memperpanjang sunyi yang menyakitkan.

2) Kekuasaan yang Terlalu Panjang

Kekuasaan yang berlangsung puluhan tahun menciptakan struktur ketakutan dan kepatuhan. Kritik menjadi berbahaya, perbedaan dianggap ancaman. 

Negara berubah menjadi monolog, bukan dialog. Dampaknya bukan hanya politik, tetapi juga psikologis. Warga belajar diam, institusi kehilangan keberanian, dan regenerasi kepemimpinan terhambat. 

Penentang menilai bahwa panjangnya kekuasaan merusak mekanisme koreksi internal, sehingga kesalahan membesar tanpa rem. Kejatuhan rezim yang dramatis menjadi bukti rapuhnya fondasi yang dibangun di atas kontrol, bukan partisipasi. 

Dalam pandangan ini, pahlawan sejati justru yang tahu kapan berhenti dan menyiapkan transisi sehat, bukan yang melekat pada kekuasaan hingga negara kehilangan daya bernapas.

3) Korupsi Struktural (KKN)

Kritik KKN melihat korupsi sebagai sistem, bukan penyimpangan. Kekuasaan terpusat melahirkan jaringan kroni yang mengaburkan batas negara dan keluarga. 

Akibatnya, sumber daya publik terkonsentrasi, kompetisi ekonomi timpang, dan kepercayaan publik runtuh. Dampak KKN menjalar lama setelah rezim berakhir. Institusi melemah, hukum menjadi selektif, dan ketidakadilan ekonomi diwariskan lintas generasi. 

Penentang menilai bahwa menobatkan pahlawan tanpa pertanggungjawaban struktural berisiko mengajarkan pelajaran keliru, bahwa hasil dapat membenarkan cara. 

Bagi mereka, pahlawan adalah teladan etika kekuasaan, yang memastikan kekayaan negara tidak berubah menjadi warisan segelintir orang.

Di antara jasa yang nyata dan dosa yang mendalam, sejarah menuntut ketelitian dan keberanian moral. Perdebatan ini bukan tentang memilih satu sisi, melainkan menjaga dua kebenaran sekaligus. 

Agar ingatan kolektif tidak berubah menjadi propaganda, dan luka tidak dipaksa lupa.

-000-

Sebagai penulis pengantar ini, saya tidak berdiri di luar sejarah.

Saya adalah bagian dari generasi yang tumbuh di bawah bayang bayang Orde Baru, menyerap narasi pembangunan di satu sisi, dan perlahan mengenali luka yang lama disenyapkan di sisi lain.

Saya memahami mengapa Dewi bersyukur.

Saya juga mengerti mengapa Ratih tak bisa melupakan.

Dalam perjalanan menulis dan membaca puluhan esai di buku ini, satu hal menjadi semakin jelas bagi saya. Sejarah Indonesia tidak akan pernah sehat jika kita memaksanya sederhana. 

Kita justru merusak ingatan kolektif ketika memaksa semua orang untuk mengingat dengan cara yang sama.

Buku ini adalah latihan kedewasaan.

Latihan untuk mendengar tanpa tergesa menyangkal.

Latihan untuk mengakui jasa tanpa menutup mata pada dosa.

Latihan untuk merawat bangsa tanpa mematikan nurani.

-000-

Mengapa sebuah bangsa bisa terbelah oleh satu tokoh?

Fenomena ini bukan khas Indonesia. Di dunia, Napoleon Bonaparte adalah contoh klasik. Ia dielu elukan sebagai jenius militer dan pembaru hukum. Namun, ia juga dikecam sebagai tiran yang menumpahkan darah Eropa. Satu tokoh, dua memori.

Psikologi menjelaskan ini dengan terang.

1. The True Believer, Eric Hoffer

Hoffer menjelaskan bagaimana manusia mencari makna melalui identifikasi dengan figur besar. 

Tokoh kuat menjadi cermin harapan bagi mereka yang merasa hidupnya tertata oleh kepastian. Bagi kelompok ini, pemimpin adalah simbol stabilitas dan identitas. 

Kritik terhadap tokoh itu terasa seperti serangan terhadap diri mereka sendiri. 

Sebaliknya, mereka yang mengalami luka langsung akan memandang tokoh yang sama sebagai sumber penderitaan. Perbedaan pengalaman melahirkan perbedaan cinta dan benci.

2. Political Psychology

Buku ini menjelaskan bahwa sikap politik dibentuk oleh pengalaman awal, trauma kolektif, dan identitas sosial. 

Tokoh politik besar sering berfungsi sebagai jangkar emosional. Mereka dicintai oleh satu segmen karena memberi rasa aman dan arah, namun dibenci segmen lain karena menjadi simbol ancaman dan ketidakadilan. 

Ingatan politik bukan arsip netral, melainkan emosi yang diwariskan.

-000-

Sejarah tidak pernah selesai menulis Pak Harto. Setiap generasi akan kembali ke patung itu, dengan bunga atau dengan arang.

Buku ini tidak meminta kita memilih Dewi atau Ratih. Ia hanya mengajak kita mendengarkan keduanya.

Sebab bangsa yang dewasa bukan bangsa yang menyucikan masa lalu, atau mengutuknya tanpa sisa, melainkan bangsa yang berani melihat sejarah dalam warna warni yang jujur.

Di antara statistik dan air mata, di antara monumen dan makam tanpa nama, kita belajar bahwa menilai pemimpin berarti sekaligus mengadili diri sendiri: seberapa jauh kita berani jujur pada ingatan.

Sejarah yang jujur bukanlah penghakiman akhir, melainkan dialog abadi. Dengan mengakui prestasi sekaligus memulihkan luka, kita mengubah beban masa lalu menjadi fondasi etis bagi masa depan bangsa yang lebih adil.

Putih dan hitam terlalu sederhana untuk hidup manusia.

Dan mungkin, hanya dengan keberanian itu, kita bisa berdamai dengan masa lalu tanpa kehilangan nurani.*

Jakarta, 2 Februari 2026

REFERENSI

1. The True Believer

Penulis: Eric Hoffer

Penerbit: Harper & Brothers

Tahun terbit pertama: 1951

2. Political Psychology

Editor: David O. Sears, Leonie Huddy, Robert Jervis

Penerbit: Oxford University Press

Tahun terbit pertama: 2003

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1F5ZMkyqQV/?mibextid=wwXIfr