Film Kuyank: Meresapi Kehangatan Budaya Banjar di Kalimantan
ORBITINDONESIA.COM – Di balik produksi film 'Kuyank' di Kalimantan, Rio Dewanto dan kru menemukan kehangatan budaya Banjar yang mengesankan.
Film 'Kuyank' tidak sekadar menjadi ajang unjuk kebolehan para aktornya, tetapi juga menjelma sebagai wadah bagi seluruh tim produksi untuk menyelami tradisi dan kehidupan masyarakat Banjar. Pengalaman ini memberi perspektif baru tentang betapa kaya dan beragamnya budaya Indonesia yang kerap kali terabaikan oleh industri perfilman mainstream.
Memilih Kalimantan sebagai lokasi syuting bukan tanpa alasan. Selain menyajikan lanskap yang eksotis, daerah ini menjadi pusat budaya Banjar yang masih terjaga kearifannya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2025, Kalimantan Selatan memiliki populasi 4,3 juta jiwa dengan 74% di antaranya merupakan etnis Banjar. Kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan penduduk setempat memberikan kesempatan unik bagi para pemain, termasuk Rio Dewanto, untuk merasakan langsung keramahan dan keragaman budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Menghadirkan budaya lokal dalam film menjadi tantangan tersendiri bagi para pembuat film. Namun, ini juga menjadi peluang besar untuk menampilkan sisi lain dari Indonesia yang jarang tersorot. Dari sudut pandang kritis, film seperti 'Kuyank' berperan penting dalam mengangkat dan mempromosikan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus menyadarkan kita akan pentingnya pelestarian budaya lokal di tengah gempuran budaya global.
Film 'Kuyank' tidak hanya berhasil menyuguhkan cerita menarik, tetapi juga membangun jembatan antara penonton dan budaya Banjar. Ini membuktikan bahwa perfilman bisa menjadi sarana ampuh untuk mengedukasi dan memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia. Dengan lebih banyak produksi seperti ini, mungkin kita bisa mulai melihat pergeseran dalam cara kita menghargai dan melestarikan warisan budaya kita. Apakah film Indonesia ke depan akan lebih banyak mengangkat tema lokal? Hanya waktu yang akan menjawab.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Januari 2026)