Represi Mematikan: Kebangkitan Protes dan Ketegangan di Iran
ORBITINDONESIA.COM – Iran menghadapi represi paling berdarah sejak Revolusi Islam 1979, dengan tindakan keras pemerintah mengundang perhatian dunia.
Di tengah pemutusan internet oleh otoritas Iran, detail mengenai tindakan keras terhadap demonstran mulai terungkap. Demonstrasi yang dimulai dari keruntuhan mata uang rial di Grand Bazaar Tehran kini telah meluas ke seluruh negeri. Kerusakan yang diakibatkan protes ini mencapai $125 juta, menurut laporan dari kantor berita IRNA.
Jumlah korban tewas terus meningkat, memperlihatkan taktik Iran yang brutal dalam menanggapi protes. Amnesty International melaporkan bahwa sebagian besar demonstran adalah damai, namun pihak berwenang menembak secara sembarangan. Video menunjukkan polisi dan Basij menggunakan senjata api untuk melawan massa, meski otoritas membantahnya.
Para pakar percaya bahwa rezim Iran melihat protes ini sebagai ancaman eksistensial, memilih untuk menekan dengan kekerasan ketimbang membiarkan protes berkembang. Ini menyoroti pola lama dalam sejarah Iran yang menanggapi perbedaan pendapat dengan represi brutal.
Dengan ketidakpastian atas tindakan Amerika Serikat dan kemungkinan protes berlanjut saat peringatan 40 hari korban tewas, masa depan Iran tetap tidak pasti. Apakah tindakan keras ini akan menyelesaikan krisis atau justru memperburuknya? Dunia menunggu dengan cemas.