Cerpen Iyek Aghnia: Ketika Kasih Tak Beraroma Cinta
ORBITINDONESIA.COM - Kampung kami yang damai mendadak geger.
Kegegeran itu bukan karena ada warga yang tertangkap tangan oleh KPK. Bukan pula karena bencana alam atau konflik berdarah. Sama sekali bukan.
Panggung publik kampung kami yang selama ini sunyi dan tenteram tiba-tiba riuh oleh satu nama: Matliluk, mantan kepala desa kampung kami.
Dari berbagai sumber yang—kata orang—terpercaya, terkuak kabar bahwa mantan kades itu memiliki sejumlah wanita simpanan di kota. Profesi mereka beragam. Ada yang biduan. Ada yang penjual motor. Bahkan ada pula pemilik kafe ternama.
Matliluk memimpin kampung kami selama sepuluh tahun. Di masa kepemimpinannya, pembangunan berjalan masif. Jalan kampung diaspal, gedung sekolah berdiri, fasilitas publik diperbaiki. Tak heran, namanya digadang-gadang sebagai calon orang nomor satu di kota.
“Kota kita butuh figur seperti Pak Matliluk,” ujar seorang petinggi partai.
“Kota ini perlu pemimpin visioner sepertinya,” sambung tokoh masyarakat.
“Kota ini akan berkarakter jika ia memimpin,” celoteh tokoh pemuda.
“Dan akan religius bila Matliluk yang menakhodai,” tambah tokoh agama.
Matliluk dikenal sebagai lelaki tampan, flamboyan, dan mudah memikat. Ia kades populer. Idola lintas kalangan. Kemenangannya dalam pilkades tak lepas dari dukungan kaum perempuan Kampung Kami yang habis-habisan membelanya.
Kini, keriuhan tentang Matliluk melampaui angin dari empat penjuru.
Setiap sudut kampung kami menjadi panggung cerita. Seolah dengan membicarakan Matliluk, kesulitan hidup warga sejenak terhenti. Tiada hari tanpa kisah tentang mantan kades itu.
“Tak disangka,” gumam seorang warga.
“Dasar lelaki jalang,” semprot yang lain.
“Buaya darat!” teriak yang lain lagi.
“Ternyata doyan kawin,” celetuk seseorang.
Di warung kopi, kisah Matliluk mengalahkan berita bencana.
“Luar biasa kelakuannya,” ujar Mang Kelakar.
“Itulah permainan dunia,” sahut Mang Roi.
“Wajar, publik figur,” kata Mang Guntur.
“Perbuatan dan ucapan tak lagi seirama,” tutup Mang Cerita.
Di sebuah rumah eksotis di ujung kampung, Matliluk berdiri memandangi rimbun pepohonan di belakang rumahnya. Napasnya berat. Seolah beban hidup menumpuk di dadanya. Degup jantungnya tak beraturan.
Ia sendirian. Tanpa kawan. Tanpa sahabat. Apalagi pembela. Para buzzer menghilang entah ke mana. Semua menjauh. Termasuk sang istri yang telah meninggalkan rumah sejak kisah itu berkembang biak di ruang publik.
Tiba-tiba, ponsel di saku bajunya bergetar.
“Jangan ganggu aku lagi. Ternyata engkau bukan lelaki sejati,” bunyi pesan pertama.
Tak lama berselang, pesan lain masuk.
“Aku menunggu tanggung jawabmu sebagai ayah anakku.”
Lalu satu pesan terakhir.
“Selamat tinggal. Kariermu tamat.”
Matliluk kembali menatap rimbun dedaunan. Napasnya semakin berat. Dadanya sesak. Jantungnya berdegup liar, lalu tiba-tiba sunyi.
Ia ambruk di lantai belakang rumahnya.
Tak lama kemudian, dari pengeras suara masjid Kampung Kami terdengar pengumuman:
“Telah berpulang ke rahmatullah mantan Kepala Desa Kampung Kita, Matliluk.”
Awan menghitam. Hujan turun deras, membasahi bumi—seakan ikut berkabung atas sebuah hidup yang runtuh bukan oleh kekuasaan, melainkan oleh kasih yang tak pernah beraroma cinta.
Toboali, Januari 2026
Iyek Aghnia, nama pena Rusmin Sopian, penulis dan pegiat literasi yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan. ***