Denny JA: Bersatulah Negara Menengah!

Hari Kelima World Economic Forum 2026, Soal Tatanan Dunia Yang Mulai Retak

BERSATULAH NEGARA MENENGAH!

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - “Tatanan global lama sedang retak. Ketika kekuatan besar mengubah aturan menjadi senjata, negara negara kekuatan menengah harus berdiri bersama atau dihancurkan satu per satu.”

(Mark Carney, Davos, 2026)

Kalimat itu melayang di udara Davos seperti retakan halus di kaca tebal.

Tidak langsung pecah. Tetapi cukup untuk membuat siapa pun sadar bahwa sesuatu yang lama kita anggap kokoh, kini mulai rapuh.

Dunia yang dibangun dengan kesepakatan, hukum bersama, dan janji kolaborasi, perlahan kehilangan pijakannya.

Bukan karena kekurangan institusi. Bukan pula karena kekurangan teknologi. Melainkan karena hilangnya kesepakatan moral tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan.

-000-

Hari kelima World Economic Forum 2026, tak ada lagi agenda resmi.

Salju turun dengan hening sejak pagi, seolah ingin menenangkan kegelisahan dunia.

Seusai berjalan pagi dengan jaket tebal, saya duduk di sebuah kafe di hotel tempat saya menginap. Di hadapan saya, orang orang dari berbagai bangsa lalu lalang, membawa lencana Davos di dada mereka.

WEF 2026 dihadiri sekitar 65 kepala negara dan lebih dari 700 pemimpin bisnis, profesional, serta aktivis global. Angkanya mengesankan. Namun suasananya berbeda.

Tahun ini, hampir semua pemimpin mengakui hal yang sama, baik secara terang maupun tersirat. Tatanan dunia lama yang dulu mereka dukung bersama terasa tak lagi berlaku.

Kehadiran Donald Trump menajamkan perasaan itu. Ia membawa kembali semangat nasionalisme transaksional, dengan tarif, sanksi, dan ancaman ekonomi sebagai instrumen utama.

-000-

Dalam pidatonya, Trump tidak berbicara tentang dunia sebagai komunitas. Ia berbicara tentang dunia sebagai arena tawar menawar.

Negara, dalam pandangannya, bukan mitra moral, melainkan lawan negosiasi.

Ia menekankan bahwa Amerika Serikat terlalu lama dirugikan oleh perdagangan global. Perjanjian multilateral, menurutnya, lebih sering menguntungkan pihak lain.

Tarif bukan lagi alat darurat, melainkan bahasa diplomasi. Siapa patuh diberi akses. Siapa melawan dihukum secara ekonomi.

Trump berbicara dengan kosakata bisnis. Surplus, defisit, leverage. Dalam logika ini, kekuatan tidak diukur dari kepercayaan dunia, melainkan dari kemampuan memaksa.

Pernyataannya soal Greenland memperjelas cara pandangnya. Pulau es itu tidak dilihat sebagai wilayah dengan sejarah, penduduk, dan kedaulatan, melainkan sebagai aset strategis. Penting bagi keamanan, jalur Arktik, dan dominasi masa depan.

Jika perlu ditekan secara ekonomi atau politik, itu dianggap sah.

Inilah nasionalisme transaksional. Tidak mencari kesepakatan jangka panjang. Tidak membangun institusi bersama. Melainkan memaksimalkan keuntungan sesaat bagi negara terkuat.

Pidato itu menggugah, bukan karena menawarkan harapan, melainkan karena kejujurannya. Trump tidak menutupi satu hal pun. Dunia baginya adalah permainan menang kalah. Jika Amerika menang, yang lain harus siap kalah.

-000-

Ironinya tajam.

Dunia lama yang kini diretas oleh Trump adalah dunia yang dibangun dan dipimpin oleh Amerika Serikat sendiri pasca Perang Dunia II.

Dunia itu bertumpu pada institusi. PBB, IMF, Bank Dunia, WTO.

Pada prinsip. Perdagangan bebas, aturan bersama, multilateralisme.

Pada keyakinan. Stabilitas global menguntungkan semua, termasuk sang pemimpin.

Amerika memimpin bukan hanya dengan kekuatan militer, tetapi dengan legitimasi moral. Dollar dipercaya. Pasar terbuka. Aturan dihormati. Bahkan ketika Amerika diuntungkan, ia tetap menjaga ilusi keadilan bersama.

Namun bagi Trump, dunia itu cacat. Terlalu lambat. Terlalu banyak kompromi. Terlalu memberi ruang bagi pesaing baru seperti Tiongkok.

Ia melihat globalisasi bukan sebagai mesin stabilitas, melainkan mesin kebocoran kekuasaan. Pabrik pindah. Pekerja marah. Kelas menengah tertekan. Dalam narasi ini, aturan global bukan pelindung, melainkan belenggu.

Maka dunia lama harus diruntuhkan, bahkan jika itu berarti Amerika menghancurkan arsitektur yang dulu ia bangun sendiri.

Bagi Trump, kepemimpinan tidak lagi berarti menjaga sistem, melainkan memaksimalkan dominasi di atas puing puingnya.

-000-

Dua buku berikut membantu menjelaskan mengapa dunia itu dibangun, dan mengapa kini ia runtuh dari tangan penciptanya sendiri.

Dalam The World Order (2014), Henry Kissinger menggambarkan dunia pasca Perang Dunia II sebagai arsitektur kesadaran kolektif, bukan sekadar sistem kekuasaan.

Amerika Serikat muncul bukan hanya sebagai pemenang perang, tetapi sebagai arsitek tatanan global.

Dunia ini dibangun di atas tiga pilar utama. Pertama, aturan bersama. Hukum internasional, perjanjian, dan institusi multilateral seperti PBB, IMF, dan WTO.

Kedua, legitimasi moral. Gagasan bahwa kekuasaan harus dibatasi oleh hukum dan nilai, bukan semata oleh kekuatan.

Ketiga, kepemimpinan Amerika yang bersedia menahan diri demi stabilitas jangka panjang.

Kissinger menekankan bahwa kekuatan Amerika justru terletak pada kesediaannya menjaga sistem yang kadang tidak selalu menguntungkan dirinya sendiri.

Inilah paradoks hegemon yang sukses. Ia memimpin dengan menciptakan keteraturan, bukan ketakutan.

Namun tatanan ini rapuh karena bergantung pada kepercayaan bersama. Ketika negara negara mulai meragukan niat sang pemimpin, aturan berubah menjadi simbol kosong.

Dalam kerangka Kissinger, dunia lama runtuh bukan karena kalah perang, melainkan karena kehilangan keyakinan bahwa aturan masih dihormati oleh penciptanya sendiri.

-000-

Jika Kissinger menjelaskan bagaimana dunia dibangun, Peter Zeihan menjelaskan mengapa dunia itu tak mungkin bertahan.

Dalam The End of the World Is Just the Beginning (2022), Zeihan berargumen bahwa tatanan global runtuh bukan karena kesalahan ideologis, melainkan karena Amerika Serikat berhenti membutuhkannya.

Globalisasi, menurut Zeihan, adalah proyek geopolitik Amerika untuk menghadapi Uni Soviet. Ketika ancaman itu hilang, alasan utama menjaga dunia terbuka pun memudar.

Amerika tidak lagi membutuhkan jalur laut global yang aman, pasar terbuka universal, atau stabilitas geopolitik lintas benua.

Donald Trump, dalam analisis Zeihan, bukan penyebab utama kehancuran dunia lama, melainkan gejala paling jujur. Ia mengungkap kelelahan Amerika menjadi penjaga dunia.

Tarif, proteksionisme, penarikan diri dari perjanjian, dan sikap transaksional adalah ekspresi dari satu keputusan strategis. Amerika menarik diri dari peran hegemon global.

Trump tidak membangun dunia baru. Ia hanya mempercepat akhir dunia lama, sebuah dunia yang selama puluhan tahun hidup dari perlindungan Amerika tanpa menyiapkan alternatif.

Zeihan menutup dengan kesimpulan dingin. Dunia ke depan bukan lebih adil atau lebih tertib, melainkan lebih terfragmentasi, regional, dan keras.

-000-

Di sinilah pidato Perdana Menteri Kanada menjadi kontras yang menyentuh.

Tenang. Jernih. Realistis.

Ia tidak menyangkal kenyataan pahit. Ia justru memulainya dengan pengakuan bahwa tatanan lama telah retak. Aturan bersama kini kerap dipakai sebagai senjata oleh negara adikuasa. Tarif, embargo, dan tekanan ekonomi menggantikan dialog.

Namun dari pengakuan itu lahir seruan yang jernih. Jika negara negara menengah berdiri sendiri, mereka akan dihancurkan satu per satu.

Negara menengah bukan negara kecil. Mereka memiliki ekonomi signifikan, demokrasi relatif stabil, dan kepentingan global. Tetapi mereka juga bukan raksasa yang bisa memaksakan kehendak.

Karena itu, ia menyerukan solidaritas baru. Koalisi fleksibel antar negara menengah. Perdagangan berbasis kepercayaan. Pertahanan atas hukum internasional tanpa harus menunggu restu adikuasa.

Ini bukan romantisme multilateralisme lama.

Ini realisme baru.

Negara negara menengah harus saling membuka pasar, berbagi teknologi, melindungi rantai pasok, dan berbicara dengan satu suara ketika ditekan.

Bukan untuk menantang kekuatan besar, melainkan untuk membatasi kesewenang wenangan.

Dalam dunia yang retak, solidaritas bukan kelemahan. Ia adalah bentuk kekuatan baru.

-000-

Indonesia adalah negara menengah dengan keunikan strategis. Populasi besar, sumber daya alam, posisi geopolitik, dan legitimasi Global South.

Sikap pertama. Tidak terjebak pada satu kutub. Indonesia harus aktif membangun jejaring negara menengah lintas kawasan. Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa non adikuasa.

Sikap kedua. Memperkuat ekonomi domestik sebagai fondasi diplomasi. Tanpa ketahanan pangan, energi, dan industri, kedaulatan hanya menjadi slogan.

Sikap ketiga. Menjadi jembatan, bukan penonton. Indonesia bisa memfasilitasi dialog, tetapi juga tegas ketika aturan bersama diinjak.

Di dunia yang retak, keberanian Indonesia bukan pada berteriak paling keras, melainkan pada konsistensi menjaga martabat nasional sambil membangun solidaritas global.

Dalam diplomasi internasional, Prabowo Subianto cukup jeli membawa Indonesia ke level yang berbeda. Menjadi pemain yang kini lebih diperhitungkan.

Di kafe kecil itu, salju terus turun dengan hening. Lagu lama Rolling Stones terdengar sayup.

Tatanan dunia lama tidak runtuh karena kalah perang, tetapi karena kehilangan kepercayaan. 

Dalam dunia yang retak, kekuatan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling besar, melainkan oleh siapa yang paling mampu menjaga kata, menepati aturan, dan berdiri bersama ketika hukum dijadikan senjata. 

Di tengah puing puing kekuasaan lama, masa depan tidak akan dimenangkan oleh yang paling keras mengancam, tetapi oleh negara negara menengah yang memilih solidaritas sebagai strategi, dan martabat sebagai fondasi peradaban.

Di ruang sunyi di luar ruang sidang, negara menengah sesungguhnya sedang diuji: berani merumuskan arsitektur baru, atau sekadar menambal reruntuhan sambil berharap kemurahan hati kekuatan lama.

Kekuatan sejati di era retak ini adalah kemampuan untuk menahan diri. Hegemoni lama runtuh karena keserakahan. 

Arsitektur baru harus dibangun di atas fondasi langka: legitimasi moral dan kesediaan berbagi.

Saya bersiap pulang ke tanah air dengan satu keyakinan yang menguat. Tatanan dunia lama telah retak. Masa depan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat, melainkan oleh siapa yang mampu membangun kepercayaan di tengah reruntuhan.*

Zurich, Swiss, 23 Januari 2026

REFERENSI

1. The World Order, Henry Kissinger, Penguin Press, 2014

2. The End of the World Is Just the Beginning, Peter Zeihan, Harper Business, 2022

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1CJ8QG5nwG/?mibextid=wwXIfr