Literasi Keuangan Pekerja Migran di Vietnam Jadi Kunci Masa Depan
ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan pekerja migran kembali jadi sorotan saat Universitas Trisakti menggelar program SMART Financial Planning di Ho Chi Minh City, Vietnam. Perencanaan keuangan pekerja migran dan strategi remitansi keluarga diposisikan sebagai cara paling realistis mengubah gaji menjadi masa depan.
Pekerja migran sering hidup di antara dua tuntutan yang sama kuat. Mereka harus bertahan di negara tujuan, tetapi juga diminta menopang keluarga di kampung halaman.
Di Asia Tenggara, remitansi menjadi nadi ekonomi rumah tangga dan komunitas. Bank Dunia mencatat remitansi ke negara berpendapatan rendah dan menengah masih sangat besar secara global, meski fluktuatif mengikuti siklus ekonomi dan biaya transfer.
Masalahnya jarang sesederhana “kurang uang”. Masalahnya sering berupa arus kas yang tak terbaca, pengeluaran kecil yang bocor, dan keputusan keuangan yang diambil karena tekanan sosial.
Di titik itulah program “SMART Financial Planning: Building Sustainable Financial Management for Migrant Workers” masuk. Program satu hari ini menargetkan keterampilan praktis, bukan sekadar menambah pengetahuan.
Trisakti merancang lima tahap yang terdengar sederhana, yaitu Goal, Plan, Save, Protect, dan Achieve. Kesederhanaan ini penting, karena pekerja migran butuh alat yang bisa dipakai saat lelah dan waktu terbatas.
Logika “income – savings = available spending” sengaja membalik kebiasaan umum. Menabung ditempatkan sebagai keputusan pertama, bukan sisa dari pengeluaran.
Pembedaan needs, savings, dan wants juga bukan teori kelas menengah belaka. Bagi pekerja migran, kategori itu membantu mengatakan “tidak” pada belanja impulsif dan permintaan yang tidak masuk rencana.
Bagian paling relevan adalah pembahasan biaya migrasi. Banyak pekerja berangkat dengan informasi parsial, lalu menanggung beban utang perekrutan, dokumen, kesehatan, perjalanan, dan biaya hidup awal.
Program ini mengajak peserta menghitung komponen biaya sebelum berangkat secara rinci. Pendekatan ini bisa mencegah jebakan “gaji besar tapi habis untuk cicilan” pada tahun pertama.
Alternatif pembiayaan migrasi juga dibedah, dari tabungan, menjual aset, hingga pinjaman. Di sini, pelatihan akan efektif bila berani menamai risiko, termasuk bunga tinggi, potongan gaji, dan kontrak yang tidak transparan.
Pelatihan juga menempatkan remitansi sebagai keputusan yang direncanakan. Pesan kuncinya jelas, yaitu kirim uang berdasarkan tujuan, bukan karena rasa bersalah atau tekanan sesaat.
Pola ini sejalan dengan temuan banyak riset remitansi, bahwa uang kiriman sering habis untuk konsumsi harian bila tidak diberi “label tujuan”. Ketika remitansi diarahkan ke pendidikan, tabungan, atau modal usaha, dampak jangka panjangnya cenderung lebih kuat.
Aspek Protect menjadi penanda kedewasaan program. Dana darurat, perlindungan kesehatan, dan kerapian dokumen sering diabaikan, padahal kecelakaan kerja dan sakit adalah guncangan paling mahal bagi pekerja migran.
Bagian 30-Day Financial Action Plan membuat pelatihan lebih terukur. Satu tujuan, satu kebiasaan baru, satu prioritas perlindungan, dan satu jadwal evaluasi memberi arah yang bisa dieksekusi.
Program ini kuat karena tidak memposisikan pekerja migran sebagai korban pasif. Program ini menempatkan mereka sebagai pengambil keputusan, meski ruang geraknya sering sempit.
Namun, literasi keuangan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan akar struktural. Biaya migrasi yang tinggi, praktik perekrutan yang tidak akuntabel, dan biaya remitansi yang mahal tetap perlu dibenahi lewat kebijakan.
Di sinilah kritik yang perlu diajukan secara jujur. Pelatihan satu hari akan cepat menguap bila pekerja kembali ke ekosistem yang mendorong utang dan memotong pendapatan sebelum diterima.
Efek nyata akan lebih besar bila ada pendampingan lanjutan. Klinik anggaran daring, modul berbahasa sederhana, dan komunitas sesama pekerja dapat menjadi “pengingat” agar rencana tidak kalah oleh rutinitas.
Program Trisakti juga menyiratkan satu hal penting. Ketika remitansi dikelola sebagai proyek keluarga, keluarga di rumah ikut memikul disiplin, bukan hanya pekerja di luar negeri.
Kalimat kunci “Work with Purpose. Manage Your Money with Intention. Build Your Future” terasa tepat. Kalimat itu menggeser fokus dari sekadar bertahan hidup menjadi membangun lintasan mobilitas sosial.
SMART Financial Planning menunjukkan bahwa literasi keuangan pekerja migran bisa diajarkan dengan bahasa yang membumi. Program ini menghubungkan gaji, anggaran, tabungan, proteksi, dan remitansi dalam satu peta yang mudah diikuti.
Tetapi masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar seseorang menyusun angka. Masa depan juga ditentukan oleh seberapa adil sistem migrasi, perekrutan, dan layanan keuangan memperlakukan pekerja.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tertinggal bagi kita sederhana namun menohok. Apakah remitansi hanya akan menjadi uang yang habis setiap bulan, atau akan menjadi modal yang memutus siklus kerentanan satu generasi ke generasi berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Oktober 2026)