Festival Sastra Adelaide Writers’ Week 2026 Bubar Gara-Gara Mencabut Undangan ke Seorang Penulis Palestina
ORBITINDONESIA.COM - Kontroversi besar terjadi di Australia yang berujung pada pembatalan salah satu festival sastra dan seni terbesar negara itu, yaitu Adelaide Writers’ Week 2026. Pembatalan terjadi setelah panitia mencabut undangan terhadap seorang penulis Australia-Palestina.
Awalnya, Panitia Adelaide Writers’ Week — bagian dari Adelaide Festival of Arts — mengumumkan pada 8 Januari 2026 bahwa mereka menarik kembali undangan kepada Dr. Randa Abdel-Fattah, seorang penulis dan akademisi Australia berdarah Palestina, dari daftar pembicara di festival tersebut.
Alasan yang diberikan adalah bahwa “mengundangnya tidak akan culturally sensitive (sensitif secara budaya) pada masa kini — terlalu dekat dengan tragedi Bondi Beach”.
Pernyataan ini merujuk pada penembakan massal antisemitik di Bondi Beach pada bulan Desember 2025, di mana puluhan orang tewas atau luka dalam serangan terhadap komunitas Yahudi di Sydney — tragedi yang memicu nasional debat soal kebencian dan keamanan komunitas Yahudi di Australia.
Pihak festival juga menegaskan bahwa Dr. Abdel-Fattah tidak ada hubungan langsung dengan serangan tersebut, namun mereka menganggap kehadirannya berpotensi dianggap “tidak sensitif” di tengah suasana duka dan ketegangan sosial.
Reaksi Dr. Randa Abdel-Fattah
Dr. Abdel-Fattah mengecam keputusan itu sebagai “rasisme anti-Palestina dan bentuk penyensoran”. Ia menyatakan keberadaan atau suara Palestina tidak boleh dikaitkan secara otomatis dengan kekerasan atau tragedi yang sama sekali tidak ia lakukan, dan menolak asosiasi dirinya dengan serangan Bondi.
Ia juga menolak permintaan atau tuntutan untuk berhenti mengadvokasi isu Palestina atau menyuarakan kritik terhadap situasi di wilayah konflik.
Dia menggambarkan keputusan tersebut sebagai penghapusan dirinya dari ruang publik hanya karena identitas atau pandangannya, dan sampai menolak permintaan maaf yang kemudian dikeluarkan festival dengan alasan “bagaimana keputusan itu disampaikan”, bukan isi keputusan itu sendiri.
Kontroversi itu meledak: Solidaritas dan boikot
Keputusan untuk mengeluarkan Abdel-Fattah dari program langsung memicu protes luas di komunitas sastra dan budaya, baik di Australia maupun internasional:
Lebih dari 180 penulis dan pembicara — termasuk tokoh terkenal seperti Jacinda Ardern (mantan PM Selandia Baru), Zadie Smith (novelis Inggris), dan sejumlah penulis pemenang penghargaan internasional — mengumumkan penarikan diri mereka dari festival sebagai bentuk solidaritas.
Direktur festival, Louise Adler, juga mengundurkan diri, menyatakan ia tidak bisa menjadi bagian dari apa yang dianggapnya sebagai tindakan membungkam suara-suara tertentu dan tunduk pada tekanan politik atau lobi.
Mayoritas dewan panitia festival mengundurkan diri, sebagian besar mengundurkan diri di tengah protes, yang memperlemah struktur organisasi acara tersebut.
Festival dibatalkan sepenuhnya
Akibat gelombang penarikan pembicara dan mundurnya para pemimpin festival, Adelaide Writers’ Week 2026 akhirnya dibatalkan sepenuhnya. Panitia menyatakan bahwa tanpa jumlah peserta yang memadai, acara tidak bisa dilanjutkan, dan mereka juga meminta maaf atas dampak keputusan serta mengundurkan diri.
Permasalahan yang lebih luas: kebebasan berekspresi vs sensitivitas budaya
Peristiwa ini bukan sekadar tentang satu undangan, tetapi mencerminkan ketegangan nasional dan internasional yang lebih dalam terkait:
Kebebasan berbicara dan peran institusi budaya terhadap suara-suara kontroversial. Banyak yang menilai pencabutan undangan sebagai bentuk sensor yang tidak dapat dibenarkan dalam konteks sastra dan diskusi intelektual.
Persepsi tentang apa yang dianggap “sensitif secara budaya” setelah tragedi nasional, dan bagaimana respons institusi terhadap tekanan komunitas atau pemerintah dapat memengaruhi keputusan mereka.
Isu identitas, politik identitas, serta hubungan antara konflik internasional (seperti konflik Palestina–Israel) dengan wacana publik di negara lain. Kritik yang diarahkan kepada panitia banyak mengaitkan tindakan ini dengan pola yang dinilai menyingkirkan suara-suara Palestina dalam ruang publik yang berpengaruh.
Dampak dan refleksi
Kasus ini menjadi studi tentang bagaimana peristiwa kekerasan (seperti serangan Bondi Beach) dapat berdampak luas pada dinamika budaya dan kebijakan publik, dan bagaimana ketegangan tentang narasi politik dapat meluas ke dunia seni.
Keputusan kontroversial seperti ini memicu debat tentang batas kebebasan berekspresi, serta peran festival dan institusi seni sebagai ruang dialog atau sensor dalam konteks politik yang memanas.
Ringkasnya, berita ini bukan sekadar soal pembatalan undangan, tetapi tentang ombak solidaritas, kebebasan berpendapat, sensitivitas budaya setelah tragedi, dan konflik identitas yang memecah komunitas seni di Australia dan internasional.
(Satrio Arismunandar)