Puisi Senandika: Hutanku, Hutanmu, Hutan Kita
ORBITINDONESIA.COM - Alam menemukan caranya tuk berbisik
Desiran angin yang menghanyutkan hati
Memang tak ada satupun kata yang terucap
Namun membawa kisah lama bersamanya
Tempat bersinggah bagi jiwa yang letih
Adakah hutan tanpa pohon-pohonnya
Para makhluk serakah itu
Mereka akan merasakan murkanya alam
Bukankah kita sudah tercukupi olehnya
Ia menggeram menahan luka demi luka
Yang datang dari tangan perusak
Perlu berapa banyak teguran lagi
Untuk kita membuka mata dan tersadar
Bukan alam yang perlu diselamatkan
Kitalah yang celaka jika mengusik alam
Belum terlambat untuk memulai
Ia telah menjaga kita sejak dulu kala
Sekarang giliran kita tuk menjaganya
-000-
Pesan dari Manusia untuk Bumi
Senandika
Rinai hujan perlahan membasahi
Membantu membasuh jiwa kotor ini
Maafkanlah kami para manusia
Yang begitu angkuh berpijak di atasmu
Tak terhitung berapa banyak peringatanmu
Itupun masih tak berhasil untuk menyadarkan
Apalah daya bagi titik kecil ini tuk membantu
Janganlah pupus harapan pada kami
Bersabarlah sedikit lebih lama lagi
Percayalah, kelak akan lahir sosok hebat
Yang mampu menghilang rasa sakitmu
Tetaplah teguh wahai betalaku
Hingga fajar baru tiba suatu saat nanti
-000-
Hari Ini dan Esok Hari
Senandika
Terpikir olehku suatu hal.
Bagaimana jika aku tiada lagi di dunia.
Jikalau panjang umurku nanti.
Kiranya aku pergi tanpa penyesalan.
Sempatkah aku melihat masa depan bumi.
Apalah daya bagi tubuh tua nan lapuk ini.
Tak lagi dapat berbuat banyak untuknya.
Kini telah teguh hatiku.
Akan kupastikan anak cucuku melihatnya
Bumi elok nan indah
Tanpa adanya kerusakan
Hari ini kan menjadi sejarah
Dan esok hari pasti akan tiba
Untuk bumi dan untuk kita semua
-000-
Lekaslah Pulih Lautku
Senandika
Di balik permukaannya yang tampak tenang
Menyimpan banyak cerita penuh teka-teki
Rumah bagi ribuan ragam hayati
Hidup rukun dalam harmoni syahdu
Engkau menghidupi kami para manusia
Meski kau tahu tangan kamilah yang berbuat
Tak terhitung banyaknya kekhilafan kami
Rusak sudah paras elokmu
Yang kini dinodai sampah busuk tak berarti
Engkau sudah sangat sabar dengan kami
Mudah saja bagimu tuk menghakimi manusia
Pantaskah dunia tenggelam atas perbuatan
Ulah para insan yang berbuat tanpa berpikir
Izinkanlah kami menebusnya untukmu
-000-
Tamparan untuk Kita Semua
Senandika
Nikmatilah udara di setiap tarikan napas kita
Karena kelak tak kan bisa merasakannya lagi
Angkuhnya diri ini sampai berbuat sesuka hati
Manusia dengan berbagai perangainya
Lihatlah akibat dari sebuah perbuatan
Tindakan sembrono tanpa pikir panjang
Pemikiran dangkal yang mendatangkan bala
Bencana yang datang karena diundang
Suatu saat akan runtuh tempat kita berpijak
Gunung-gunung memuntahkan laharnya
Membawa segala malapetaka bersamanya
Dan kala itu hanya penyesalan yang tersisa
Maafkanlah manusia yang tak tahu diri
Berilah kami kesempatan tuk kesekian kalinya
Mungkin tak benar-benar seperti sedia kala
Namun inilah hal terbaik dari kami
Tuk menjagamu kenal lestari
-000-
Senandika adalah nama pena dari Muhammad Surya Andika, seorang pelajar di SMAN 2 Jorong. Ia telah membuktikan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk melampaui batas ruang kelas. Namanya mulai dikenal berkat karya-karya tulisnya yang menghiasi beberapa media online. Dengan semangat yang tak kenal lelah, Surya menjelajahi berbagai sudut pandang kehidupan, menuangkannya menjadi narasi yang mengalir dan penuh makna. Akun Ig surya_aja_gin.