MRI: Meracik Keberanian Lewat Jamu Nusantara di Tengah Arus Minuman Kekinian
Ketika sebagian besar brand berlomba menaklukkan pasar anak muda lewat kopi kekinian, MRI—Minuman Rempah Indonesia, justru berdiri di jalur sebaliknya. Ia mengangkat jamu, minuman tradisional yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan generasi lama. Dari dapur rumah hingga gerobak sederhana, MRI membawa warisan rempah Nusantara ke ruang-ruang urban dengan bahasa yang lebih dekat pada anak muda.
Keberanian MRI bukan sekadar strategi bisnis. Ia berangkat dari pengalaman personal. Desti, Co-Founder MRI, bercerita bahwa usaha ini bermula dari kondisi kesehatan suaminya, Buyung Salbi Alghifari, Founder MRI, yang di usia muda justru memiliki tubuh ringkih. Mereka terbiasa meracik minuman rempah di rumah sebagai ikhtiar untuk menjaga kesehatan.
“Produk ini menyelesaikan masalah kesehatan kami,” ujar Desti. Dari dapur kecil itulah, keyakinan tumbuh: jika rempah bisa menyembuhkan mereka, mengapa tidak dibagikan pada lebih banyak orang?
Sebelum MRI lahir, Desti dan Salbi sempat menjalankan usaha keripik pisang yang mengharuskan mereka melakukan perjalanan ke luar kota. Dalam salah satu perjalanan tersebut, keduanya bertemu dengan penjual jamu tradisional dan menyaksikan secara langsung proses peracikannya. Dari momen sederhana itulah, sebuah ide besar lahir: menghadirkan jamu dalam kemasan yang lebih kekinian, tanpa kehilangan esensi dan nilai tradisionalnya.
Sekembali ke Bandung, keduanya bergerak cepat. Mereka membagi peran, mencari resep, menggandeng peracik jamu, hingga menyiapkan gerobak. MRI resmi berdiri pada 4 Juli 2021. Seiring waktu, usaha ini berkembang bukan hanya secara jumlah, tetapi juga kualitas. Tim produksi MRI kini tersertifikasi herbalis, dan menu dirancang berdasarkan kebutuhan tubuh konsumen, bukan sekadar tren rasa.
Di sinilah MRI mengambil posisi yang berbeda. Ia tidak memaksa jamu menjadi “manis” secara makna, tetapi mengedukasi pasar dengan sabar. Kekhawatiran soal rasa pahit, keamanan, hingga stigma jamu dihadapi melalui dialog langsung dengan pelanggan. Hasilnya terasa nyata. Dalam sehari, kedai MRI kini bisa menjual 300–350 gelas.
Bahkan kini MRI juga memiliki delapan cabang di berbagai titik Bandung dan sekitarnya, dengan lebih dari 20 menu yang fokus pada daya tahan dan kesehatan tubuh. Favorit pelanggan pun beragam, mulai dari Ice Immun Booster Series dengan topping puding kunyit hingga menu hangat seperti rempah kencur, detox, dan temulawak. Menariknya, banyak pelanggan datang bukan untuk “ikut-ikutan”, melainkan memesan menu sesuai kebutuhan tubuh mereka.
Bagi Desti, MRI bukan sekadar bisnis minuman. Ia adalah upaya melestarikan warisan. “Orang-orang zaman dulu selalu kembali ke alam untuk menjaga kesehatan,” ujarnya. Nilai itu yang ingin ia hidupkan kembali, terutama untuk generasi muda.
Seperti yang dirasakan Nuru Fitry, salah satu pelanggan setia. Baginya, MRI menghadirkan pengalaman baru: rempah-rempah Indonesia yang diracik modern, menarik, dan relevan dengan gaya hidup hari ini.
Terkadang, yang membuat sebuah ide terasa mustahil bukanlah keterbatasan, melainkan pandangan bahwa ia terlalu berbeda. MRI lahir dari keberanian menepis keraguan itu. Dengan tekad dan kerja gigih, perjalanan mereka menjadi bukti bahwa usaha yang dijalani dengan keyakinan akan selalu menemukan bentuk keberhasilannya sendiri.