Hamri Manoppo: Denny JA Sang Inovator Pertamina

Penyerahan penghargaan untuk Denny JA.

Penyerahan penghargaan untuk Denny JA.

Opini

Oleh Hamri Manoppo

ORBITINDONESIA.COM - Ada sebuah paradoks menarik dalam perjalanan Denny JA. Ia dikenal luas bukan pertama-tama sebagai tokoh industri minyak dan gas.

Namanya lebih dahulu melekat pada dunia intelektual, survei politik, konsultasi, kepenulisan, sastra, dan gagasan-gagasan sosial. Namun justru dari latar belakang yang lintas disiplin itulah ia kini memasuki salah satu ruang strategis bangsa: industri energi.

Pada 2 Oktober 2026 di Sanur, Bali, Denny JA menerima AMA Appreciation Award 2026 dalam ajang AMA Indonesia Conference 2026 yang mengusung tema From Management to Wealth Creation.

Asosiasi Manajemen Indonesia memberikan penghargaan tersebut atas kontribusinya sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT Pertamina Hulu Energi (PHE), khususnya dalam memperluas wawasan strategis, mendorong pengambilan keputusan yang profesional dan bertanggung jawab, serta memperkuat ekosistem pembelajaran dan kepemimpinan korporasi.[1]

Penghargaan itu menarik bukan semata karena siapa yang menerimanya, melainkan karena gagasan apa yang sedang diapresiasi. Denny JA tampaknya membawa sebuah cara berpikir yang berbeda ke dalam tubuh perusahaan energi.

Ia tidak datang hanya dengan pertanyaan, “Berapa banyak minyak yang dapat diproduksi?” Ia membawa pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang paling dibutuhkan Indonesia dari PHE pada zaman ini, dan perubahan apa yang dapat dilakukan [2]

Pertanyaan tersebut oleh Denny disebut sebagai defining question—pertanyaan yang menentukan arah sebuah organisasi. Di sinilah inovasi kepemimpinan Denny JA mulai terlihat.

Dari Manajemen Menuju Penciptaan Nilai

Tema AMA Indonesia Conference 2026, From Management to Wealth Creation, sesungguhnya sangat relevan dengan pemikiran Denny JA. Dalam pandangannya, wealth creation bukan sekadar memperbesar pendapatan, keuntungan, aset, atau ukuran perusahaan.

Kekayaan yang sesungguhnya lahir ketika sebuah organisasi mampu melihat kebutuhan yang belum terjawab, kemudian mengubahnya menjadi nilai baru melalui teknologi, keberanian, dan imajinasi.[3]

Cara berpikir seperti ini penting bagi perusahaan energi. Industri minyak dan gas tidak dapat hanya mengandalkan pola lama. Cadangan tidak tak terbatas. Teknologi terus berubah. Geopolitik energi semakin rumit. Kebutuhan energi nasional terus meningkat. Sementara itu, dunia bergerak menuju transisi energi.

Karena itu, perusahaan seperti PHE membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga berani bertanya: apa yang harus ditemukan, diciptakan, dan diubah? Di sinilah latar belakang Denny JA yang lintas bidang justru dapat menjadi kekuatan.

Ia pernah bergerak dalam dunia survei, konsultan, bisnis, hospitality, hingga pertambangan. Ia terbiasa membaca perubahan perilaku manusia, mengolah data, melihat kecenderungan, membangun strategi, dan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan.

Barangkali itulah salah satu alasan mengapa perspektifnya di PHE tidak semata-mata teknokratis. Ia mencoba melihat perusahaan energi sebagai bagian dari persoalan yang jauh lebih besar: ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia.

PHE dan Tantangan Kemandirian Energi

Ketika pertama kali dipercaya menjadi Komisaris Utama PHE pada Juli 2025, Denny JA telah menegaskan bahwa kemandirian energi bukan sekadar slogan. Ia menyebut kebutuhan menemukan sumber minyak baru sebagai sesuatu yang sangat penting bagi kedaulatan energi nasional.[4]

Pernyataan tersebut memiliki konteks yang kuat. Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara produksi minyak domestik dan kebutuhan nasional. Karena itu, peningkatan produksi menjadi salah satu tantangan strategis.

Dalam perkembangan berikutnya, PHE mencanangkan aspirasi 1M29, yakni target produksi satu juta barel minyak per hari pada 2029. Target tersebut membutuhkan eksplorasi, teknologi, optimalisasi lapangan yang ada, serta sumber-sumber pertumbuhan baru.[5]

Denny JA menyebut dua jalan besar yang harus berjalan bersamaan. Pertama, memperbesar produksi. Kedua, memperkuat institusi. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Produksi tanpa institusi yang kuat dapat melahirkan persoalan tata kelola. Sebaliknya, institusi yang terlalu takut mengambil risiko akan membuat perusahaan kehilangan keberanian untuk melakukan terobosan. Di sinilah gagasan Denny menjadi menarik.

Inovasi Tidak Selalu Berbentuk Teknologi

Ketika mendengar kata inovasi, orang sering membayangkan mesin baru, teknologi baru, perangkat digital, atau metode pengeboran baru. Denny JA memperlihatkan pengertian inovasi yang lebih luas. Inovasi dapat berupa cara baru dalam mengambil keputusan.

Industri hulu migas memiliki ketidakpastian yang sangat tinggi. Sebuah eksplorasi dapat menghabiskan dana besar tetapi belum tentu menghasilkan cadangan komersial. Pertanyaannya kemudian: apakah setiap kegagalan bisnis harus dipandang sebagai kesalahan?

Denny JA melihat persoalan tersebut sebagai salah satu tantangan institusional yang serius. Menurutnya, keputusan bisnis yang diambil secara profesional, berdasarkan informasi memadai, tanpa konflik kepentingan, dan sesuai aturan perlu dibedakan dari tindakan korupsi.[6]

Dari sinilah ia mendorong penguatan Business Judgment Rule (BJR). Gagasan tersebut bukan berarti memberikan kekebalan kepada pengambil keputusan. Korupsi tetap harus ditindak. Konflik kepentingan tetap harus diawasi. Penyalahgunaan jabatan tetap harus diproses. Tetapi dunia usaha membutuhkan ruang untuk mengambil risiko yang terukur.

Jika setiap kegagalan bisnis selalu dibayangi ketakutan akan kriminalisasi, seorang eksekutif dapat terdorong memilih keputusan yang paling aman bagi dirinya, bukan keputusan yang paling bernilai bagi perusahaan dan negara. Dalam industri migas, mentalitas semacam itu dapat berbahaya.

Eksplorasi membutuhkan keberanian. Inovasi membutuhkan keberanian. Investasi membutuhkan keberanian. Tetapi keberanian tersebut harus berdiri di atas integritas. Maka rumus yang ditawarkan Denny menjadi menarik: integritas tanpa keberanian dapat berubah menjadi stagnasi; keberanian tanpa integritas dapat berubah menjadi kesewenang wenangan. Korporasi negara membutuhkan keduanya.

PHE Goes Global : Melampaui Batas Geografis

Inovasi strategis lain yang mendapat perhatian adalah gagasan PHE Goes Global. Jika kebutuhan energi nasional lebih besar daripada kemampuan produksi domestik, maka pencarian sumber energi tidak harus berhenti di dalam batas geografis Indonesia. PHE dapat melakukan ekspansi internasional secara selektif melalui merger, akuisisi, atau investasi pada aset-aset yang memiliki nilai strategis.[7]

Ini merupakan perubahan cara pandang. Perusahaan energi nasional tidak cukup hanya menjadi pengelola ladang minyak dan gas di dalam negeri. Ia dapat berkembang menjadi pemain energi yang memiliki portofolio internasional.

Dengan demikian, energi yang diperoleh dari luar negeri bukan semata-mata dilihat sebagai impor, tetapi dapat ditempatkan dalam strategi kepemilikan dan investasi energi yang lebih luas.

Tentu saja, strategi semacam ini mengandung risiko. Karena itu diperlukan analisis investasi yang ketat, manajemen risiko, tata kelola yang transparan, serta pengawasan yang kuat. Di sinilah kembali terlihat pentingnya dua kaki yang selalu ditekankan Denny JA: pertumbuhan dan institusi.

Mengapa Denny JA Layak Mendapat Penghargaan? Ada setidaknya empat alasan mengapa penghargaan AMA tersebut memiliki dasar yang kuat.

1. Pertama, ia membawa perspektif lintas disiplin ke dalam industri energi.

2. Kedua, ia tidak berhenti pada target produksi, tetapi memikirkan institusi yang memungkinkan target tersebut dicapai secara sehat.

3. Ketiga, ia mendorong keberanian mengambil keputusan bisnis yang bertanggung jawab melalui penguatan prinsip Business Judgment Rule.

4. Keempat, ia mencoba menempatkan PHE dalam perspektif yang lebih luas, yakni sebagai instrumen ketahanan energi nasional.

Dengan kata lain, kontribusinya bukan sekadar berada di ruang rapat komisaris. Ia mencoba mengubah pertanyaan. Dari “bagaimana mempertahankan perusahaan?” menjadi “bagaimana menciptakan kemungkinan baru bagi perusahaan?”

Dari “bagaimana menghindari risiko?” menjadi “bagaimana mengambil risiko secara profesional?”

Dari “bagaimana mengelola kekayaan?” menjadi “bagaimana menciptakan nilai baru?”

Inilah inti inovasi kepemimpinan.

Seorang Komisaris Tidak Harus Menjadi Insinyur Minyak

Mungkin ada pertanyaan kritis: bukankah industri minyak dan gas membutuhkan orang yang memahami geologi, pengeboran, reservoir, produksi, dan teknologi energi? Tentu. Keahlian teknis tetap mutlak diperlukan. Tetapi seorang komisaris utama tidak harus menggantikan fungsi ahli geologi, insinyur perminyakan, ekonom energi, atau profesional teknis lainnya.

Fungsi komisaris berada pada tingkat pengawasan, arah strategis, tata kelola, dan kualitas pengambilan keputusan. Justru di situlah seorang pemimpin dengan wawasan lintas disiplin dapat memberikan nilai. PHE memiliki para profesional teknis.

Yang dibutuhkan dari seorang pemimpin strategis adalah kemampuan menghubungkan keahlian-keahlian tersebut dengan pertanyaan yang lebih besar: untuk apa perusahaan ini dibangun dan apa warisan yang hendak ditinggalkannya bagi Indonesia? Denny JA tampaknya memilih pertanyaan tersebut.

Penghargaan Bukan Garis Akhir

Menariknya, ketika menerima penghargaan AMA, Denny JA sendiri tidak memandang penghargaan itu sebagai puncak perjalanan. Ia justru menggunakannya sebagai momentum untuk kembali mempertanyakan hakikat kepemimpinan korporasi.[8]

Sikap ini penting. Penghargaan yang sehat bukanlah mahkota yang membuat seorang pemimpin berhenti bergerak. Ia seharusnya menjadi cermin: apakah gagasan yang diperjuangkan benar-benar menghasilkan perubahan? Karena pada akhirnya, keberhasilan PHE tidak diukur dari berapa banyak penghargaan yang diterima komisarisnya.

Keberhasilannya akan terlihat dari kemampuan perusahaan meningkatkan produksi secara berkelanjutan, menemukan sumber energi baru, memperkuat tata kelola, mengambil keputusan secara profesional, mengembangkan teknologi, memperluas portofolio global, dan terutama memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan energi Indonesia.

Dalam konteks itulah Denny JA layak disebut Sang Inovator Pertamina. Bukan karena ia datang membawa satu teknologi ajaib. Bukan pula karena ia berasal dari tradisi industri migas. Melainkan karena ia membawa sesuatu yang sering lebih sulit daripada teknologi: cara berpikir baru.

Ia mengingatkan bahwa perusahaan besar tidak boleh hanya menjadi penjaga aset lama. Perusahaan harus menjadi pencipta kemungkinan. Dan bagi Indonesia, mungkin itulah tantangan terbesar Pertamina dan PHE pada masa depan: bukan sekadar menemukan lebih banyak minyak, tetapi menemukan cara baru untuk memastikan energi, ekonomi, teknologi, dan keberanian institusional bergerak bersama menuju kedaulatan bangsa.

Denny JA kini berada di salah satu ruang strategis perjalanan itu. Penghargaan AMA 2026 bukan akhir perjalanan. Ia adalah tanda bahwa sebuah gagasan sedang diperhatikan. Dan gagasan itu sederhana, tetapi besar: pemimpin yang baik bukan hanya menjaga apa yang diwariskan kepadanya, melainkan berani menciptakan apa yang belum pernah ada.

CATATAN KAKI

[1] Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) memberikan AMA Appreciation Award 2026 kepada Denny JA dalam AMA Indonesia Conference 2026 di Sanur, Bali, atas kontribusinya terhadap wawasan strategis, pengambilan keputusan profesional, serta kepemimpinan di PHE.

[2] Denny JA menjelaskan konsep defining question, yakni pertanyaan mendasar mengenai kebutuhan zaman, manusia, dan lingkungan serta apa yang dapat diberikan organisasi kepada masyarakat.

[3] Dalam pidatonya, Denny JA mengaitkan wealth creation dengan kemampuan melihat kebutuhan yang belum terjawab dan mengubahnya menjadi nilai melalui teknologi, keberanian, dan imajinasi.

[4] Saat ditunjuk sebagai Komisaris Utama PHE pada Juli 2025, Denny JA menekankan pentingnya penemuan sumber minyak baru untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kemandirian energi Indonesia.

[5] Aspirasi 1M29 PHE menargetkan produksi satu juta barel minyak per hari pada 2029 melalui eksplorasi, teknologi, optimalisasi lapangan eksisting, dan sumber pertumbuhan baru.

[6] Denny JA mendorong penguatan Business Judgment Rule agar kerugian akibat risiko bisnis yang sah dapat dibedakan dari kerugian yang timbul karena korupsi atau pelanggaran hukum.

[7] Strategi PHE Goes Global diarahkan pada ekspansi internasional secara selektif melalui peluang merger dan akuisisi untuk memperkuat sumber produksi dan ketahanan energi.

[8] Denny JA menyatakan penghargaan tidak seharusnya dipandang sebagai puncak perjalanan kepemimpinan, tetapi sebagai momentum untuk kembali mempertanyakan makna kepemimpinan korporasi.

Kotamobagu, 06 Oktober 2026