Ali Samudra: Takdir Di Mata Manusia Modern (2)

Takdir Di Mata Manusia Modern (2) - Ketika Segala Peristiwa Telah Ditulis: Antara Ilmu Allah, Ikhtiar Manusia, dan Kesalahpahaman Fatalistik

Oleh Ali Samudra

ORBITINDONESIA.COM - Seri pertama tulisan ini telah menegaskan bahwa dalam Islam, Qodho adalah ketetapan universal dan azali, sedangkan Qadhar adalah bagaimana ketetapan itu bekerja dalam ruang dan waktu melalui hukum, sebab, pilihan, dan proses .

Takdir tidak pernah dimaksudkan untuk mematikan akal dan etos kerja; ia justru fondasi keseimbangan antara iman, ikhtiar, dan Keadilan Ilahi. Seri kedua ini hendak melangkah lebih tajam: menunjukkan bagaimana kesalahpahaman terhadap takdir dapat membuat agama kehilangan daya hidupnya.

Ada sebuah paradoks yang sering tak disadari: ketika takdir dipahami secara fatalistik, orang mengira ia sedang memuliakan Allah. Padahal yang terjadi bisa sebaliknya: ia sedang menisbatkan kepada Allah sesuatu yang bertentangan dengan kemuliaan-Nya, yaitu kezaliman.

Ia tidak menyebut kata “zalim”, tetapi konsekuensi logikanya mengarah ke sana. Sebab fatalisme menjadikan manusia tidak sungguh-sungguh memilih, tetapi tetap dimintai pertanggungjawaban. Jika demikian, apakah hisab masih bermakna? Apakah surga dan neraka masih adil? Apakah perintah dan larangan masih serius?

Di sinilah kita perlu bekerja dengan tenang namun radikal: membedakan iman kepada takdir dari fatalistisme teologis, serta membedah dalil-dalil yang paling sering dipakai sebagai legitimasi pasrah. Kita tidak menolak takdir. Kita menolak cara membaca takdir yang mematikan agama.

Takdir Bukan Fatalisme

Dalam percakapan keagamaan umat Islam, dua hadits tentang takdir sering menjadi kata kunci terakhir yang menutup diskusi:

“Semua sudah ditulis 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan” dan “nasib manusia sudah ditentukan sejak janin.”

Kedua hadits ini kerap dipahami secara sederhana dan absolut, lalu dijadikan dalil fatalisme: bahwa hidup manusia tidak lebih dari perjalanan yang sudah diputuskan sejak awal, sehingga usaha, doa, dan pilihan moral tidak lagi memiliki bobot menentukan.

Namun, pertanyaannya bukan apakah hadits-hadits itu sahih—karena keduanya memang sahih—melainkan bagaimana cara memahaminya. Apakah benar Nabi Muhammad bermaksud mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki ruang ikhtiar? Apakah benar Islam mengajarkan takdir sebagai penjara eksistensial? Ataukah justru manusia modern yang membaca teks-teks agung itu dengan kacamata putus asa?

Seri kedua tulisan Takdir di Mata Manusia Modern ini berupaya mendudukkan dua hadits tersebut secara utuh, tidak terpotong, tidak ahistoris, dan tidak bertentangan dengan prinsip dasar Al-Qur’an tentang keadilan ilahi dan tanggung jawab manusia.

 Hadits Pertama: “Semua Telah Ditulis 50.000 Tahun Sebelum Langit dan Bumi Diciptakan”

Bunyi Hadits Lengkap: Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” (HR. Sahih Muslim, no. 2653 )

Hadits ini sering dipahami sebagai berikut: karena semua telah ditulis sejak sebelum alam semesta ada, maka tidak ada ruang perubahan, tidak ada peran doa, dan tidak ada nilai usaha. Manusia tinggal menjalani skenario yang sudah selesai.

Pemahaman ini terdengar logis di permukaan, tetapi rapuh secara teologis. Ia mengandung lompatan nalar: menyamakan pengetahuan Allah dengan pemaksaan Allah. Padahal, penulisan takdir dalam hadits ini berbicara tentang keluasan ilmu Allah, bukan tentang penafian kehendak manusia.

“Ditulis” Tidak Sama dengan “Dipaksakan”

Dalam bahasa Al-Qur’an dan Sunnah, kata kataba (menulis) tidak selalu berarti “menetapkan secara kaku tanpa sebab”. Ia sering bermakna: dicatat dalam ilmu Allah, berada dalam sistem hukum-Nya, terjadi dalam kerangka sunnatullah.

Allah mengetahui seluruh kemungkinan dan kenyataan sekaligus. Ilmu Allah tidak berkembang, tidak menunggu waktu, dan tidak dipengaruhi peristiwa. Namun pengetahuan tidak identik dengan paksaan. Jika ilmu Allah dianggap sebagai sebab langsung perbuatan manusia, maka: pahala dan dosa menjadi tidak adil, perintah dan larangan menjadi formalitas, hisab menjadi kehilangan makna.

Karena itu Al-Qur’an menegaskan berulang kali: “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun.” (QS. Yunus: 44)

Hadits penulisan takdir 50.000 tahun tidak bisa dipahami dengan cara yang menafikan ayat ini. Jika sebuah pemahaman hadits melahirkan kesimpulan bahwa Allah menghukum manusia atas sesuatu yang tidak ia pilih, maka pemahaman itulah yang keliru, bukan haditsnya.

Takdir Mubram dan Takdir Mu‘allaq

Para ulama sejak awal membedakan dua wilayah takdir: Takdir Mubram

Ketetapan yang pasti dan tidak berubah, seperti: kepastian kematian sebagai prinsip, hukum-hukum kosmik, kondisi-kondisi dasar eksistensi.

Takdir Mu‘allaq Ketetapan yang terkait dengan sebab, doa, usaha, dan pilihan manusia. Al-Qur’an sendiri menegaskan adanya wilayah perubahan dalam ketetapan: “Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra‘d, 13 : 39)

Jika semua takdir bersifat mubram secara absolut, ayat ini menjadi tidak bermakna. Hadits penulisan takdir sebelum penciptaan alam mencakup keduanya, bukan menghapus perbedaan ini.

Hadits Kedua: Hadits Janin Empat Puluh Hari dan Penulisan Nasib Manusia

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah  selama itu, kemudian menjadi mudhghah selama itu. Kemudian diutuslah malaikat kepadanya, lalu ditiupkan ruh dan diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan apakah ia celaka atau bahagia.

Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian beramal dengan amal ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta, lalu ketetapan mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amal ahli neraka dan masuk neraka.

Dan sungguh salah seorang di antara kalian beramal dengan amal ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta, lalu ketetapan mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amal ahli surga dan masuk surga.”

(HR. Sahih Bukhari, no. 3208; HR. Sahih Muslim, no. 2643)

Titik Salah Paham Fatalistik dalam Hadits Janin

Dari hadits ini, muncul kesimpulan yang sangat populer namun problematik: “Nasib manusia sudah ditentukan sejak janin, jadi usaha tidak menentukan apa-apa.” Kesalahan ini muncul karena dua hal: Penulisan disamakan dengan pemaksaan.

Frasa “ketetapan mendahuluinya” dibaca sebagai takdir mengalahkan ikhtiar. Padahal, hadits ini tidak sedang mengajarkan determinisme metafisik, melainkan peringatan moral yang sangat tajam.

Tujuan Moral Hadits Janin: Menghancurkan Ujub, Bukan Mengajarkan Putus Asa.    Nabi tidak sedang menjelaskan teori kosmologi tentang takdir, tetapi mendidik kesadaran spiritual umat. Pesan utama hadits ini adalah: jangan merasa aman hanya karena amal lahiriah, jangan putus asa hanya karena masa lalu yang gelap, yang dinilai adalah akhir perjalanan, bukan sekadar penampilan di tengah jalan. Itulah sebabnya Nabi  menutup hadits ini dengan perintah, bukan dengan kepasrahan:

“Beramallah kalian…” Jika takdir berarti paksaan mutlak, perintah ini tidak masuk akal. Nabi tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang tidak memiliki makna etis.

Bantahan Fatalisme dari Al-Qur’an

Al-Qur’an secara konsisten menolak pemahaman bahwa manusia tidak memiliki peran:

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan; ada yang bersyukur dan ada yang kufur.”QS. Al-Insan, 76 : 3

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra‘d, 13 : 11

“Barang siapa berbuat kebaikan, maka (pahalanya) untuk dirinya; dan barang siapa berbuat keburukan, maka (dosanya) atas dirinya.” QS. Fussilat, 41 : 46

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”QS. Al-Baqarah, 2 : 286

"Yang menjadikan mati dan hidup, Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi pengampun. QS Al-Mulk: 2

"Dan yang menentukan Qodhar dan memberi petunjuk" QS. Al-A'lla, 87: 3

Ayat-ayat ini tidak memberi ruang bagi fatalisme. Ia menempatkan manusia sebagai subjek moral yang bertanggung jawab.

Mengembalikan Agama pada Daya Transformasinya

Dalam skala sosial, fatalisme sering menjadi alat legitimasi ketidakadilan. Ketimpangan ekonomi, penindasan politik, dan keterbelakangan pendidikan dibingkai sebagai “takdir”. Dengan cara ini, struktur yang zalim terlindungi dari kritik moral.

Sejarah menunjukkan bahwa fatalisme lebih sering menguntungkan penguasa, bukan rakyat. Ia mengajarkan penerimaan tanpa perlawanan, kesabaran tanpa upaya perbaikan. Ini bertentangan dengan etos profetik yang selalu berpihak pada keadilan.

Melawan fatalisme teologis adalah bagian dari jihad intelektual dan spiritual. Ia adalah upaya mengembalikan agama kepada fungsi aslinya: membangunkan kehendak, menajamkan nurani, dan membangun peradaban yang adil.

Agama tidak datang untuk mengajarkan manusia menerima nasib secara pasif, tetapi untuk mengajarkan cara mengubah nasib dengan cara yang bermakna. Takdir bukan alasan untuk menyerah, melainkan alasan untuk bertanggung jawab.

Sholat sebagai Pendidikan Anti-Fatalisme

Sholat adalah bantahan paling konkret terhadap fatalisme teologis. Setiap sholat adalah tindakan sadar, disengaja, dan penuh niat. Sholat mengajarkan disiplin waktu, kesadaran tubuh, dan tanggung jawab batin.

Dalam setiap rakaat, seorang Muslim menyatakan dua hal sekaligus: kami menyembah dan kami memohon pertolongan. Ini adalah dialektika ikhtiar dan tawakkal. Tidak ada sholat bagi manusia yang merasa dirinya robot, dan tidak ada sholat bagi manusia yang merasa dirinya mandiri tanpa Tuhan.***

Pondok Kelapa,  2 Desember 2026

*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin

(Pengantar Diskusi Ba'da Sholat Jumat, 2 Januari 2026 Masjid baitul Muhajirin -  Pondok Kelapa - Jakarta Timur) ***