WFH Diperpanjang Pemerintah: Hemat BBM Pertalite, Produktivitas Dipertaruhkan

RRI.co.id

RRI.co.id

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – WFH diperpanjang pemerintah untuk dua bulan ke depan, dengan klaim kunci: konsumsi Pertalite turun 9 persen. Di balik angka itu, publik mencari jawaban tentang dampaknya pada produktivitas, layanan publik, dan biaya hidup harian.

Pemerintah resmi memperpanjang kebijakan Work From Home (WFH) setelah evaluasi pelaksanaan dua bulan terakhir. Keputusan ini disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto usai rapat koordinasi terbatas pada 26 Mei 2026.

Airlangga menyebut hasil evaluasi “cukup baik” karena ada penurunan konsumsi BBM, khususnya Pertalite, sebesar 9 persen pada April. Pemerintah lalu memutuskan perpanjangan WFH untuk dua bulan berikutnya, sembari menyiapkan kebijakan turunan di kementerian, lembaga, dan sektor privat.

Landasan administratifnya sudah lebih dulu disiapkan lewat Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan No. M/6/HK.04/III/2026 tertanggal 31 Maret 2026. Surat itu mendorong perusahaan menerapkan WFH satu hari kerja per minggu, dengan pengaturan jam kerja ditentukan masing-masing perusahaan.

Penurunan 9 persen Pertalite terdengar sederhana, tetapi implikasinya luas karena menyentuh konsumsi energi rumah tangga dan mobilitas komuter. Jika mobilitas turun, biaya perjalanan berkurang, kemacetan mereda, dan tekanan permintaan BBM ikut melunak.

Namun angka 9 persen juga memunculkan pertanyaan metodologis: apakah penurunannya murni akibat WFH, atau dipengaruhi faktor lain seperti pola libur, cuaca, aktivitas ekonomi, atau perubahan harga dan pasokan. Tanpa membuka detail basis perbandingan, wilayah sampel, serta korelasi mobilitas, angka itu rentan dipakai sebagai justifikasi tunggal.

WFH juga memindahkan sebagian beban biaya dari kantor ke rumah, terutama listrik, internet, dan ruang kerja. Program “optimalisasi pemanfaatan energi di tempat kerja” bisa menghemat energi perkantoran, tetapi tidak otomatis berarti penghematan energi nasional jika konsumsi rumah tangga naik.

Dari sisi birokrasi, kebijakan WFH sering berbenturan dengan kualitas layanan tatap muka yang masih dibutuhkan warga. Layanan perizinan, administrasi kependudukan, hingga respons aduan publik berisiko melambat bila standar layanan digital belum seragam.

Di sektor privat, anjuran satu hari WFH per minggu terdengar moderat, tetapi implementasinya tidak setara antarindustri. Pekerja manufaktur, logistik, kesehatan, dan ritel tidak punya kemewahan yang sama seperti pekerja kantor, sehingga manfaat WFH cenderung dinikmati kelompok tertentu saja.

Karena itu, indikator keberhasilan seharusnya tidak berhenti pada konsumsi Pertalite. Pemerintah perlu menambahkan metrik produktivitas, kepuasan layanan publik, kesehatan mental, biaya energi rumah tangga, serta kesenjangan akses internet sebagai paket evaluasi yang utuh.

WFH diperpanjang pemerintah tampak seperti kebijakan energi yang memakai instrumen ketenagakerjaan. Ini cerdas secara politik karena mudah dipahami publik, tetapi berbahaya jika mengabaikan prasyarat: tata kelola kinerja dan kualitas layanan.

Jika negara ingin WFH menjadi alat ketahanan energi, maka transparansi data harus menjadi kebiasaan, bukan bonus. Publik berhak tahu: penurunan 9 persen itu terjadi di mana, dibandingkan bulan apa, dan apakah ada dampak pada konsumsi listrik rumah tangga.

Di sisi lain, WFH bisa menjadi momentum merapikan budaya kerja yang selama ini terlalu berorientasi kehadiran fisik. Tanpa sistem penilaian berbasis output, WFH mudah berubah menjadi sekadar “hari tanpa kantor” yang merusak disiplin dan memicu ketidakpercayaan.

Yang paling krusial adalah keadilan kebijakan. Ketika sebagian pekerja bisa menghemat ongkos transport, sebagian lain tetap harus hadir dan menanggung risiko serta biaya yang sama, sehingga negara perlu mengimbangi dengan insentif, perlindungan, atau skema fleksibilitas lain.

Perpanjangan WFH bisa menjadi langkah hemat BBM sekaligus uji kedewasaan manajemen kerja Indonesia. Angka 9 persen Pertalite adalah sinyal, tetapi bukan kesimpulan akhir.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah negara siap mengukur dampak WFH secara jujur, lintas sektor, dan lintas kelas pekerja. Jika WFH hanya dinilai dari konsumsi BBM, kita berisiko mengorbankan kualitas layanan dan keadilan sosial demi statistik yang tampak rapi.

Barangkali refleksi terpentingnya sederhana: hemat energi tidak boleh menghabiskan kepercayaan. Kebijakan yang baik bukan hanya mengurangi liter Pertalite, tetapi juga menambah rasa adil dan kepastian bagi warga. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)