Konflik Mematikan Thailand-Kamboja: Memahami Akar Perpecahan
ORBITINDONESIA.COM – Perang antara Thailand dan Kamboja kembali menelan korban jiwa, dengan sembilan tentara dan tiga warga sipil dari Thailand dilaporkan tewas. Ketegangan ini mencuatkan pertanyaan tentang masa depan perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
Konflik militer antara Thailand dan Kamboja bukanlah fenomena baru. Perselisihan perbatasan sering kali menjadi pemicu utama, terutama terkait wilayah yang mengelilingi Kuil Preah Vihear. Sengketa ini berakar pada peta kolonial yang berbeda dan telah memicu ketegangan berkala selama beberapa dekade.
Tragedi terbaru ini menyoroti pola konflik yang berulang di antara kedua negara. Data menunjukkan bahwa setiap kali ketegangan meningkat, korban jiwa di pihak militer dan sipil tak terhindarkan. Sebuah studi terbaru dari lembaga keamanan regional mencatat bahwa eskalasi retorika nasionalis sering kali mendahului pecahnya konflik militer, memperburuk situasi yang sudah tegang.
Para analis berpendapat bahwa solusi jangka panjang untuk konflik ini terletak pada diplomasi yang sabar dan negosiasi multilateral. Namun, peningkatan belanja militer di kedua negara menunjukkan bahwa strategi militeristik masih menjadi pilihan utama. Tatkala ASEAN sering digembar-gemborkan sebagai model kerja sama regional, kenyataannya konflik semacam ini mencerminkan tantangan besar yang harus diatasi.
Perang antara Thailand dan Kamboja menimbulkan pertanyaan kritis tentang efektivitas mekanisme regional dalam mencegah konflik bersenjata. Apakah ASEAN dapat berperan lebih aktif dalam memfasilitasi dialog damai? Sementara dunia menanti jawaban, para pemimpin regional harus merenungkan langkah konkret untuk menjaga perdamaian yang rapuh ini.
(Orbit dari berbagai sumber, 12 Desember 2025)