Herry Tjahjono: Jika Kita Benar, Benteng Akan Kokoh Berdiri

ORBITINDONESIA.COM - Jokowi adalah mantan presiden, pemimpin, yang paling brutal diserang oleh pihak yang memang ingin menghancurkannya–bukan sekadar menjatuhkannya. Saya akan membatasi pada empat episode serangan mutakhir terhadap Jokowi, yang jelas tendensius, dan brutal.

Pertama, ijazah palsu. Narasi yang dibangun dengan target meruntuhkan Jokowi, kini malah runtuh sendiri. Kebenaran ada di pihak Jokowi. Kenapa? Karena setidaknya sampai tahap ini: para penyeranglah yang menyandang status tersangka. Catatan: ijazah hanya sarana untuk memutuskan skenario lain yang lebih besar.

Fakta (hukum) berhenti pada satu titik sederhana: kebenaran tidak bisa dipalsukan.

Kedua, Whoosh. Upaya mengecilkan, memojokkan, mereduksi nilai dan manfaat, pun menabur ketakutan soal besarnya beban. Namun begitulah, waktu selalu lebih jujur daripada opini, pun asumsi. Publik kini melihat sendiri Whoosh–seperti disampaikan Jokowi sendiri–menjadi simpul awal ekosistem ekonomi baru. Bahkan Presiden Prabowo sendiri akan meneruskannya sampai Surabaya, Banyuwangi. Fakta kebenaran teknologis, ekonomis, dan visi masa depan kembali memihak Jokowi.

Ketiga, utang. Mantra klasik para pengusung dan pengasong kiamat ekonomi. Namun data tidak pernah tunduk pada kebencian. Rasio utang kita di kisaran 40%, jauh di bawah batas 60% yang digariskan undang-undang (debt to GDP ratio 60%). Purbaya, Menkeu, sebagai otoritas yang bertanggung jawab, memastikan posisinya aman. Lagi-lagi, fakta kebenaran perekonomian menjadi benteng kebenaran yang kokoh, menepis suara gaduh yang penuh tendensi.

Keempat, bandara Morowali. Euforia serangan akibat efek samping pernyataan “heroik” sang Menhan, kehilangan daya ketika kebenaran muncul ke permukaan: yang diresmikan Jokowi adalah Bandara Maleo, bukan fasilitas IMIP. Ada saja berita yang ngotot bahwa Jokowi yang meresmikan IMIP, disertai gambar gunting pita. Sebuah media memberitakannya. Tapi data dari dokumen resmi Setkab menegaskan: bandara Morowali lah yang diresmikan Jokowi (link terlampir di bawah).

Tuduhan “negara dalam negara” yang awalnya ingin mereka arahkan ke Jokowi pun–kehilangan aksentuasinya. Para penyerang yang nyaris orgasme, menjadi loyo.

Empat kali serangan, empat kali pula benteng kebenaran berdiri kokoh. Bergeming. Bukan kebenaran versi kasak-kusuk, bukan kebenaran hasil framing, bukan kebenaran melalui klaim, tetapi kebenaran faktual obyektif yang bisa ditelaah dengan akal sehat. Lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah kebenaran semesta sedang bekerja? Mungkin benar kata Bambang Pacul: jangan lawan orang baik. Atau paling tidak, jangan lawan kebenaran dengan kebencian. Kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri.

Pada tahap ini, bangsa kita sebenarnya sedang diuji. Apakah kita mau menjadi masyarakat yang menilai pemimpinnya dengan kaca mata objektivitas, atau dengan napsu tendensius diri dan kelompok yang subyektif? Apakah kita berani berpihak pada fakta, atau tetap memilih hidup berkubang pada lumpur kebencian yang primitif?

Ingat, republik ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang benar, tetapi juga rakyat yang benar. Rakyat yang mampu melihat kebenaran tanpa rasa takut, tanpa prasangka.

Kebenaran tidak selalu menang dengan berkacak-pinggang. Kadang ia hanya berdiri dengan tenang, sementara kegaduhan di sekelilingnya tumbang satu per satu. Dan mungkin–seperti hari-hari ini–kita sedang menyaksikan hal itu terjadi.***