Ali Samudra: Tafsir Al-Baqarah Ayat 197-202, Haji dan Kesadaran Egalitarianisme
Oleh Ali Samudra
ORBITINDONESIA.COM - Surat Al-Baqarah ayat 197–202 menempatkan fondasi etika dan struktur batin bagi perjalanan menuju Baitullah . Ayat-ayat tersebut tidak memulai haji dengan rincian fiqih, tetapi dengan pembersihan moral: larangan rafats, fusuq, dan jidal.
Ini menunjukkan bahwa inti haji bukan berada di langkah kaki, tetapi di langkah hati; bukan pada gerakan ritual, tetapi pada revolusi batin. Keharusan menjauhi rafats, fusuq, dan jidal sesungguhnya merupakan ajakan untuk melepaskan tiga musuh paling kuat dalam diri manusia: syahwat, maksiat, dan ego.
Karena seseorang tidak bisa menuju Allah dengan: tubuh yang diperbudak syahwat, hati yang buruk, atau ego yang melambung. Seseorang hanya dapat memasuki cahaya Allah dengan jiwa yang jernih, hati yang merendah, dan tubuh yang tunduk. Inilah fondasi haji: membersihkan diri dari tiga musuh batin, agar perjalanan menuju Allah benar-benar dimulai dari dalam.
Ihram dan Kesadaran Egalitarianisme
Ketika seseorang memasuki ihram, ia melepaskan seluruh atribut duniawi: status sosial, jabatan, gelar akademik, kekayaan, profesi, dan seluruh tanda identitas yang selama ini ia gunakan untuk membangun semesta egonya. Dua helai kain putih yang disandang bukan sekadar pakaian; ia adalah deklarasi kesadaran baru, bahwa manusia hanya menjadi manusia ketika semua lapisan artifisial itu dicabut.
Ihram adalah titik nol kesadaran, kondisi di mana manusia kembali ke bentuknya yang paling asli—tanpa topeng, tanpa peran sosial, tanpa citra diri yang dikonstruksi.
Ali Syariati menyebut ihram sebagai “kematian simbolik”: manusia meninggalkan atribut dunianya sebagaimana ia meninggalkannya saat mati. Namun dalam konteks hidup, kematian simbolik ini justru adalah kelahiran kesadaran yang murni.
Kesetaraan Radikal: Manusia Tanpa Kelas
Tidak ada ibadah lain yang meruntuhkan hierarki manusia seintens haji. Seorang presiden dan seorang pedagang biasa memakai pakaian yang sama. Seorang profesor dan seorang buruh dari negara miskin membaca talbiyah dengan nada yang sama. Seorang bangsawan dan seorang nelayan berdiri bersama, berjalan bersama, mengangkat tangan bersama.
Inilah egalitarianisme radikal yang diajarkan haji. Dalam kitab-kitab tafsir klasik, para mufasir menekankan bahwa: ihram meniadakan perbedaan fisik, thawaf meniadakan perbedaan ruang, Arafah meniadakan perbedaan spiritual, Mina meniadakan perbedaan emosi, dan semuanya mengarah pada peniadakan kesombongan.
Namun lebih dari itu, dalam bacaan reflektif, ihram mengajari kita sesuatu yang lebih besar: Tidak ada manusia yang lebih tinggi dari manusia lain kecuali takwa. Dan takwa tidak dapat dipamerkan.
Ihram sebagai Latihan Melepaskan Kontrol
Ihram bukan hanya tentang pakaian, tetapi juga tentang penyerahan diri. Orang yang berada dalam ihram dilarang: memotong kuku, memakai wangi-wangian, menutup kepala (bagi laki-laki), memburu hewan, memutus rantai ciptaan.
Larangan-larangan ini bukan sekadar aturan _fikih; ia adalah latihan penting untuk melepaskan kontrol. Dalam kehidupan modern, manusia ingin mengontrol segalanya: citra dirinya, jadwalnya, komentarnya, dunia digitalnya, bahkan takdirnya.
Haji sebagai Laboratorium Kesetaraan Manusia
Ketika jutaan manusia mengenakan pakaian yang sama, bergerak dalam arus yang sama, dan membaca talbiyah yang sama, haji menciptakan ruang sosial yang unik—ruang tempat seluruh struktur kelas runtuh secara total.
Namun egalitarianisme haji bukan hanya kesetaraan tekstual; ia adalah kesetaraan pengalaman. Semua orang: lelah pada saat yang sama, menangis pada saat yang sama, berdoa pada saat yang sama, merasakan ketidakberdayaan yang sama, dan mengharap ampunan yang sama.
Ini membentuk kesadaran baru bahwa manusia bukan musuh satu sama lain; kita hanya berbeda karena perbedaan-perbedaan yang dibuat oleh dunia, bukan oleh Tuhan.
Dalam perspektif sosiologi Islam: Haji adalah upaya merekonstruksi masyarakat tauhid—masyarakat tanpa kelas dan tanpa superioritas palsu. Sebuah konsep yang sangat relevan bagi dunia saat ini yang semakin terpolarisasi oleh ekonomi, ideologi, dan teknologi.
Doa Hasanah: Keseimbangan Dunia–Akhirat
Ayat 201 dari Surat Al-Baqarah memuat doa yang sangat terkenal: “Rabbana atin fid-dunya hasanahut wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.” Menurut Ar-Razi doa ini sebagai formula keseimbangan eksistensial: manusia tidak diperintahkan untuk menolak dunia, tetapi untuk menempatkannya dalam orbit yang benar agar ia mengarah pada kebaikan akhirat.
Doa hasanah menyimpan logika spiritual yang mendalam: manusia tidak bisa hidup hanya dalam satu dimensi. Jika ia hanya mengejar dunia, ia kehilangan jiwanya; jika ia hanya mengejar akhirat, ia kehilangan pijakan realitas dan tanggung jawab sosialnya.
Ayat 202 menyebutkan bahwa orang-orang yang berdoa dengan keseimbangan—memohon kebaikan dunia dan akhirat—akan memperoleh bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bahwa “Allah Maha Cepat Perhitungan-Nya.” Dalam tafsir Ibn Katsir, kalimat ini mengingatkan bahwa Allah tidak membutuhkan waktu, alat, memperbaiki dirinya, karena waktu tidak pernah menunggu.
Sementara itu, Fakhr al-Dīn al-Rāzī melihat ayat ini sebagai ajakan untuk memiliki kesadaran eksistensial bahwa hidup adalah perjalanan yang pendek, dan manusia harus hidup dalam keadaan sadar bahwa “perhitungan” bisa datang kapan saja.
Ayat ini hadir untuk mengingatkan bahwa hidup ini singkat, rapuh, dan tidak ada jaminan bahwa esok masih milik kita. Hisab yang cepat: adalah ajakan untuk berhenti sejenak, menata ulang orientasi, memperbaiki niat, dan menjaga integritas. Di tengah dunia yang menawarkan kecepatan tanpa kedalaman, ayat ini mengajak manusia untuk memperlambat batinnya agar ia kembali pada kejernihan.
Pada akhirnya, kesadaran akan hisab bukan tentang ketakutan, tetapi tentang kualitas hidup: agar manusia hidup dengan lebih bermakna, lebih tulus, lebih sadar, dan lebih dekat kepada Allah.
Haji sebagai Proyek Kemanusiaan dan Egalitarianisme Sosial
Secara filosofis, haji adalah kritik terhadap cara manusia membangun dunia sosialnya. Kita hidup dalam sistem yang dipenuhi hierarki: kelas ekonomi, jenjang pendidikan, status digital, simbol-simbol prestise, dan pengelompokan sosial yang sering kali menciptakan jarak. Ihram, thawaf, wukuf, dan bermalam di Mina sesungguhnya adalah praktik sosial yang meruntuhkan semua itu. Haji adalah ruang latihan egalitarianisme radikal—manusia dipaksa menanggalkan identitas buatan agar ia kembali pada identitas fitrahnya sebagai hamba.
Dari perspektif sosiologi, haji adalah laboratorium sosial: manusia belajar bersabar dalam kerumunan, mengelola emosi, menghargai ruang orang lain, dan memahami bahwa seluruh umat manusia berbagi takdir yang sama. Kesetaraan di hadapan Allah yang diwujudkan dalam haji adalah cermin dari tatanan masyarakat yang seharusnya terbentuk di bumi: masyarakat yang adil, rendah hati, dan saling peduli.
Refleksi Kehidupan Modern
Di era modern, ketimpangan sosial semakin nyata: jurang antara kaya dan miskin melebar, polarisasi politik memecah masyarakat, dan identitas digital menciptakan kasta-kasta baru. Haji menjadi kritik moral bagi dunia yang terobsesi pada hierarki dan simbol-simbol status.
Dua helai kain ihram menampar kesadaran manusia modern: bahwa martabat tidak lahir dari harta, gelar, atau ketenaran, tetapi dari kemurnian hati dan takwa. Haji mengajarkan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang menghargai manusia sebagai manusia, bukan sebagai label sosial.
Dalam dunia yang semakin individualistik, haji menawarkan kembali makna kolektivitas dan kesetaraan. Ia mengingatkan kita bahwa umat manusia berasal dari sumber yang sama dan kelak kembali pada Tuhan yang sama. Dari sinilah lahir proyek kemanusiaan: bahwa tugas manusia setelah haji bukan hanya menjadi lebih saleh, tetapi juga menjadi lebih adil, lebih rendah hati, dan lebih manusiawi.
Relevansi Modern: Haji dalam Dunia Digital, Individualisme, dan Krisis Makna
Dalam dunia yang terfragmentasi oleh teknologi, politik identitas, kesepian urban, dan krisis makna, haji menjadi sumber inspirasi spiritual yang luar biasa. Ia mengajarkan bahwa manusia hanya bisa menemukan dirinya ketika ia meninggalkan egonya; bahwa ketenangan tidak lahir dari kelimpahan, tetapi dari kesederhanaan; bahwa martabat tidak terletak pada pencitraan diri, tetapi pada takwa; dan bahwa hubungan antar manusia harus dibangun di atas kesetaraan, bukan hierarki kesuksesan.
Haji mengembalikan manusia modern pada pusat hidupnya: bahwa ia hanyalah hamba yang berjalan pulang kepada Tuhannya. Dalam keheningan talbiyah, manusia modern menemukan sesuatu yang telah lama hilang: keutuhan diri. Zaman berubah, teknologi berkembang, tetapi ayat-ayat haji tetap berdiri sebagai peta pulang—peta bagi manusia yang kehilangan arah di tengah kebisingan dunia dan membutuhkan tempat untuk kembali
Penutup: Jalan Pulang sebagai Hamba
Ayat-ayat Al-Baqarah 197–202 membentangkan struktur ibadah haji bukan sebagai rangkaian ritual semata, tetapi sebagai proyek transformasi manusia secara total. Dimulai dari larangan rafats, fusuq, dan jidal; dilanjutkan dengan perintah ihram sebagai ruang kesetaraan; taqwa sebagai bekal; zikir sebagai pembentuk identitas baru; doa hasanah sebagai keseimbangan eksistensial; hingga kesadaran hisab sebagai penjaga moral. Keseluruhan ayat ini membentuk satu benang merah: bahwa haji adalah perjalanan menuju kemurnian diri dan kesadaran tertinggi tentang kehidupan.
Setelah haji, tidak ada yang perlu dibanggakan, tidak ada gelar baru yang perlu dipamerkan, tidak ada identitas baru yang harus diangkat. Yang tersisa hanyalah keheningan batin. Talbiyah yang dahulu lantang kini berubah menjadi bisikan syukur. Tangis di bawah cahaya Arafah kini menjadi ketenangan dalam dada.
Dalam diam itu, manusia mendengar sesuatu yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia: suara kelembutan Allah. Di dalam diam, manusia menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa, tetapi Allah telah menjadikannya seseorang. Di dalam diam, ia memahami bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan, tetapi perjalanan menuju kerendahan hati.*
Pondok Kelapa, 28 November 2025
REFERENSI:
Al-Rāzī, Fakhr al-Dīn, Mafātīḥ al-Ghayb (al-Tafsīr al-Kabīr). Beirut: Dār al-Fikr, 1993.
Shariati, Ali, Hajj: The Pilgrimage. Tehran: The Shariati Foundation / Hosseiniyeh Ershad Publications, 1970.
(Tulisan ini merupakan pengantar diskusi Ba'da Salat Jum'at, 28 November 2025 Masjid Baitul Muhajirin - Pondok Kelapa - Jakarta Timur).***