Ketidakstabilan Politik Prancis: Implikasi Ekonomi dan Sosial
ORBITINDONESIA.COM – Kepergian cepat Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, setelah hanya 27 hari menjabat, menggarisbawahi krisis politik yang mengguncang negara tersebut.
Pemerintah Prancis menghadapi tantangan besar, termasuk kebijakan anggaran yang tidak populer dan persaingan ekonomi yang semakin ketat dari AS dan Cina. Resignasi cepat Lecornu mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap langkah-langkah penghematan yang diusulkan.
Perubahan yang diusulkan, seperti penghapusan dua hari libur nasional, dianggap perlu untuk meningkatkan kesehatan fiskal negara. Namun, langkah ini memicu perdebatan sengit mengenai keseimbangan antara efisiensi ekonomi dan kualitas hidup pekerja. Data menunjukkan bahwa Prancis menghadapi peningkatan utang dan tekanan untuk mempertahankan daya saing di pasar global.
Sejumlah ekonom mendukung kebijakan penghematan sebagai langkah penting untuk menstabilkan ekonomi. Namun, banyak warga negara Prancis melihatnya sebagai ancaman terhadap model sosial yang telah lama dibanggakan. Lionel Nesta dari French Observatory of Economic Cycles mempertanyakan kemampuan Prancis untuk bersaing sambil mempertahankan nilai-nilai sosialnya.
Krisis politik ini menyoroti pertanyaan besar tentang masa depan ekonomi Prancis dan nilai-nilai sosialnya. Apakah Prancis dapat menemukan jalan tengah yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan kesejahteraan sosial? Tantangan ini akan terus menguji kepemimpinan negara di tahun-tahun mendatang.
(Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2025)