Bangkitnya Budaya Kerja Panjang di Silicon Valley: Tantangan Baru

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah persaingan global dalam kecerdasan buatan (AI), budaya kerja panjang kembali mengemuka di Silicon Valley. Sandra Lin, warga Cupertino, menceritakan bagaimana adiknya meninggalkan Apple demi bergabung dengan startup AI yang menuntut kerja keras tanpa kenal lelah.

Perubahan ini terjadi ketika perusahaan-perusahaan teknologi beralih ke budaya kerja yang mengutamakan kinerja di atas keseimbangan hidup. Fenomena ini menyerupai praktik '996' di China, di mana karyawan bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu. Tren ini menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik pekerja.

Menurut laporan dari Wired, perusahaan startup seperti Rilla secara eksplisit menerapkan sistem 996 dalam lowongan pekerjaan mereka. Meskipun praktik ini telah dinyatakan ilegal di China sejak 2021, tekanan persaingan dalam perlombaan AI mendorong perusahaan di Amerika untuk mengadopsinya kembali. Beberapa perusahaan bahkan menawarkan insentif seperti peningkatan gaji dan opsi saham ganda untuk menarik karyawan agar bersedia bekerja lebih lama.

Margaret O'Mara, sejarawan Amerika modern, menyatakan bahwa Silicon Valley kini memasuki era teknologi keras dengan persaingan intens. Ini bertolak belakang dengan awal 2020-an yang ditandai dengan berbagai tunjangan dan keseimbangan kerja-hidup. Di sisi lain, Korea Selatan mencoba mengurangi jam kerja, yang menimbulkan dilema antara produktivitas dan kesejahteraan pekerja.

Perubahan budaya kerja ini menuntut refleksi mendalam tentang nilai-nilai yang ingin kita pertahankan dalam dunia kerja modern. Apakah kita akan terus mengejar produktivitas dengan mengorbankan kesehatan, atau mencari jalan tengah yang lebih berkelanjutan? Persoalan ini membutuhkan pendekatan yang seimbang agar tidak membebani generasi pekerja masa depan.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Oktober 2025)