Tren 'Quiet Holiday': Batasan Kerja dan Liburan yang Semakin Samar

ORBITINDONESIA.COM – Seorang pekerja di Inggris menikmati karnaval Rio tanpa sepengetahuan manajernya, berkat tren 'quiet holiday' yang meningkat di kalangan pekerja milenial dan Gen Z.

Fenomena 'quiet holiday' muncul dari kekaburan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Banyak pekerja merasa terjebak dalam budaya kerja 'always on' yang menyulitkan mereka untuk benar-benar beristirahat.

Survei Harris Poll menunjukkan 37% pekerja milenial dan 24% Gen Z telah mengambil cuti tanpa izin. Pandemi Covid-19 mendorong kebijakan kerja jarak jauh, yang secara tidak sengaja merangsang tren ini. Keamanan data dan kepercayaan manajerial menjadi isu utama dalam praktik ini.

Beberapa pekerja merasa permohonan cuti dianggap sebagai kurang komitmen. Namun, dari sudut pandang manajemen, 'quiet holiday' dapat mengikis kepercayaan, menyoroti perlunya komunikasi yang lebih terbuka antara karyawan dan atasan.

Memahami dinamika ini, kedua belah pihak perlu membangun budaya kerja yang mendukung transparansi dan keseimbangan hidup. Akankah 'quiet holiday' menjadi solusi permanen, atau bisakah organisasi menemukan jalan tengah yang lebih sehat?

(Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2025)