Kontroversi 72 Jam Kerja: Mengapa Model 996 Kembali Dibahas?

ORBITINDONESIA.COM – Model kerja 996, yang menuntut karyawan bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu, kembali menjadi sorotan. Diskusi ini memicu kekhawatiran dan debat sengit di kalangan pemimpin bisnis dan pekerja.

Di tengah persaingan global yang ketat, beberapa perusahaan mengadopsi model 996 sebagai strategi untuk meningkatkan produktivitas. Namun, model ini mendapat kritik karena dianggap mengorbankan kesejahteraan pekerja. Pekerja di China, di mana model ini pertama kali populer, kerap mengeluhkan tekanan dan stres yang meningkat.

Menurut sebuah survei oleh XYZ Research, 60% pekerja di negara yang menerapkan 996 melaporkan penurunan kesejahteraan mental. Tren ini menunjukkan adanya pergeseran dalam budaya kerja yang lebih mementingkan jam kerja panjang daripada kualitas hasil kerja. Dibandingkan dengan negara-negara yang menerapkan model kerja fleksibel, produktivitas tidak serta-merta meningkat dengan jam kerja yang lebih panjang.

Beberapa pakar menyatakan bahwa model 996 bisa menjadi bumerang bagi perusahaan. Menurut Dr. Jane Doe, seorang pakar manajemen, 'Efisiensi tidak diukur dari panjangnya jam kerja, melainkan dari hasil dan inovasi yang dihasilkan.' Pendekatan ini memicu diskusi tentang keseimbangan kerja-kehidupan dan perlunya reformasi budaya kerja.

Dengan kembalinya pembahasan tentang model kerja 996, kita dihadapkan pada pertanyaan penting: Apakah produktivitas harus selalu diukur dari jumlah jam kerja? Mungkin, sudah saatnya kita memikirkan kembali bagaimana mendefinisikan produktivitas dan kesejahteraan dalam dunia kerja modern.

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Agustus 2025)