Menbud Fadli Zon: Puisi Jadi Media dalam Merekam Potret Sejarah Perjalanan Bangsa

ORBITINDONESIA.COM - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyebut bahwa puisi menjadi media dalam merekam potret sejarah perjalanan bangsa Indonesia termasuk perjuangan para pahlawan bangsa.

“Kita telah melihat bahwa puisi merekam potret perjalanan bangsa kita, diterpa berbagai cobaan," ujar Menbud Fadli Zon dalam kegiatan "Sasana Sastra: Membaca 80 Tahun Indonesia" yang digelar di Jakarta, Jumat, 22 Agustus 2025.

Fadli Zon berharap, gelaran yang menghadirkan puisi dari zaman ke zaman ini akan memberi sumbangan dalam bentuk penghormatan bagi para tokoh-tokoh bangsa yang mengupayakan kemerdekaan dan mengawal perjalanan bangsa lewat ragam ekspresi dan kemampuan para seniman.

“Karya-karya dari para penyair kita itu merupakan refleksi dari sebuah perjalanan sebuah bangsa juga apakah itu tentang perjuangan tentang revolusi, tentang cinta, rindu, tentang jatuh bangun, tentang kecintaan, patriotisme, nasionalisme dan sebagainya,” katanya.

Kementerian Kebudayaan, kata dia, ikut membangun ekosistem sastra agar bisa kembali hidup dan berjaya.

Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan sentuhan teknologi serta musik, sehingga mampu menghadirkan sebuah paket penampilan yang mampu menarik antusiasme masyarakat terhadap puisi sastra.

"Sentuhan-sentuhan teknologi yang saya kira semakin available sekarang, semakin mudah diakses. Dan ini menurut saya harus meningkatkan kecintaan terutama generasi muda kepada sastra dan juga kepada puisi," kata Menbud lagi.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Ahmad Mahendra mengatakan bahwa gelaran ini tak hanya panggung pembacaan puisi, melainkan bagian dari dinamika sejarah bangsa.

Puisi yang dibacakan pun dilakukan dengan berbagai teknik, menghadirkan kolaborasi apik dengan musik hingga tarian.

Adapun dalam gelaran ini menghadirkan E. Aminuddin Aziz, Iman Soleh, Taufiq Ismail, Jose Rizal Manua, Esha Tegar Putra, Happy Salma, Andhini Puteri, Rania Maheswari Yamin, Nisa Rengganis hingga Fadli Zon yang membacakan puisi dengan cerita atau makna yang berbeda-beda.***