Biaya 2 dan 20 Private Equity: Optimal atau Eksploitatif?

ORBITINDONESIA.COM – Biaya 2 dan 20 private equity kembali diperdebatkan saat investor ritel makin ramai masuk ke investasi alternatif. Model teoretis baru dari profesor Stanford, Jonathan Berk dan Peter DeMarzo, justru menyebut struktur fee hedge fund dan private equity itu “optimal” bagi manajer dan investor tertentu.

Struktur “2 and 20” berarti 2% biaya pengelolaan aset dan 20% bagian keuntungan. Publik menilainya mahal, apalagi ketika kinerja tidak selalu konsisten dan uang investor terkunci lama.

Di pasar reksa dana, pola berbeda berlaku karena fee umumnya flat di bawah 1% dan tanpa bagi hasil. Berk menekankan perbedaan inti: di mutual fund investor bisa keluar kapan saja dan menilai kinerja dengan informasi publik.

Di investasi alternatif, asetnya tidak likuid dan informasinya lebih gelap. Karena itu, investor tidak mudah membandingkan manajer, dan tidak bisa cepat “kabur” saat menemukan opsi lebih baik.

Berk dan DeMarzo menyusun “unified theory of delegated capital management” untuk menjelaskan mengapa fee berbasis kinerja bertahan puluhan tahun. Dalam kerangka ini, mahalnya fee bukan anomali, melainkan alat untuk menjaga insentif di pasar yang tidak transparan.

Masalah utama bukan sekadar biaya, tetapi informasi yang timpang. Investor yang mengeluarkan biaya riset lebih besar cenderung memilih manajer lebih baik, lalu memperoleh alpha yang positif.

“If you want to earn positive alpha, you have to put in the effort to investigate the manager,” kata Berk. Ia menambahkan hanya sedikit investor yang benar-benar mampu melakukan uji tuntas itu dengan baik.

Di titik ini, fee 20% berfungsi seperti “pajak” atas keterampilan manajer sekaligus filter bagi investor. Investor yang paham tetap bisa untung setelah membayar, sementara investor yang malas riset menerima hasil yang lebih biasa.

Temuan paling kontraintuitif adalah soal batas ukuran dana atau fund-size cap. Private equity sering menolak uang baru meski permintaan tinggi, dan riset ini menyebutnya sebagai mekanisme mencegah free riding.

Jika dana tidak dibatasi, sebagian investor akan menemukan manajer terbaik lalu investor lain meniru tanpa menanggung biaya riset. Akibatnya insentif mencari informasi runtuh, dan alpha menguap karena semua orang menumpuk di tempat yang sama.

Batas dana menjaga kelangkaan akses dan mempertahankan nilai informasi. Dalam logika ini, pasar alternatif “butuh” eksklusivitas agar riset tetap layak dilakukan dan hasil di atas rata-rata tetap mungkin.

Model tersebut juga menjelaskan mengapa syarat tiap investor tidak seragam. Jika semua orang mendapat terms identik, maka imbal hasil akan konvergen, dan ruang bagi investor berinformasi untuk “dibayar” atas risetnya hilang.

Karena itu, sebagian investor mendapat terms lebih baik dan sebagian lain lebih buruk. Ketidakseragaman bukan selalu ketidakadilan, melainkan cara sistem membebankan biaya informasi kepada pihak yang tidak mau menanggungnya.

Riset ini memberi konteks pada fenomena endowment universitas yang sering unggul di private markets. Keunggulan itu dipandang berasal dari kapasitas riset, jaringan, dan kemampuan mengidentifikasi manajer terampil lebih cepat.

Namun Berk dan DeMarzo menegaskan tidak ada “uang gratis” di sini. Keuntungan investor terinformasi adalah kompensasi atas biaya riset, dan hanya efisien bila mereka punya keunggulan kompetitif dalam mencari informasi.

Kesimpulan “optimal” patut dibaca hati-hati, karena optimal bagi model tidak selalu terasa adil bagi publik. Ketika investor ritel masuk, mereka sering membawa ekspektasi likuiditas dan transparansi ala reksa dana ke pasar yang memang dirancang sebaliknya.

Di sinilah risiko narasi berubah menjadi pembenaran industri. Fee tinggi bisa saja “rasional” secara teori, tetapi tetap bisa berujung eksploitatif bila dipasarkan tanpa menjelaskan ilusi kontrol dan keterbatasan evaluasi kinerja.

Fund-size cap dan terms yang berbeda memang mencegah free riding, tetapi juga menciptakan hierarki akses. Jika akses menjadi mata uang utama, maka pasar alternatif berpotensi memindahkan kompetisi dari kinerja ke kedekatan dan status.

Argumen likuiditas sebagai kunci juga mengandung pesan keras bagi regulator dan investor. Semakin illiquid sebuah produk, semakin mahal biaya informasi yang harus dibayar, dan semakin besar peluang salah paham di kalangan publik.

Investor ritel sering tidak kalah cerdas, tetapi kalah waktu, alat, dan jaringan. Jika “alpha” menuntut investigasi mendalam, maka banyak ritel memasuki arena dengan senjata yang tidak seimbang.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tajam bukan hanya “apakah 2 dan 20 wajar.” Pertanyaannya “siapa yang mampu membuat 2 dan 20 tetap menguntungkan setelah biaya riset, lock-up, dan risiko salah pilih manajer.”

Riset Berk dan DeMarzo mengajak kita melihat biaya 2 dan 20 private equity sebagai bagian dari arsitektur pasar yang tidak likuid dan minim informasi. Dalam arsitektur itu, fee tinggi, batas dana, dan terms yang berbeda justru menjaga insentif riset dan mempertahankan peluang alpha.

Tetapi pelajaran terpentingnya sederhana dan sedikit getir. Jika alpha lahir dari informasi, maka pertarungan sesungguhnya bukan melawan pasar, melainkan melawan keterbatasan kita sendiri untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita beli.

Mungkin pertanyaan terakhir yang perlu kita simpan adalah ini. Saat investasi alternatif makin dipaketkan untuk publik, apakah kita sedang memperluas kesempatan, atau hanya memperluas pasar bagi biaya yang tampak “optimal” di atas kertas.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Juli 2026)