
ORBITINDONESIA.COM - Ketika Ramadan mengetuk pintu
Masjid-masjid riuh dalam rindu
Subuh tak lagi sunyi membeku
Isya dan Tarawih berpadu syahdu
Anak-anak berlarian di serambi
Remaja tertawa di sudut sepi
Orang tua khusyuk menunduk diri
Menghitung doa di tiap sujud suci
Sandal-sandal berserakan di tangga
Bertumpuk rapat bagai cerita
Langkah-langkah menuju cahaya
Mengejar pahala seluas surga
Baca Juga: Puisi Ahmad Gusairi: Sang Pewarta
Namun waktu perlahan menyaring niat
Separuh Ramadan, hati mulai penat
Shaf yang panjang kini berlipat
Satu demi satu langkah tersirat
Di mana sandal-sandal yang hilang?
Jejaknya lenyap di malam panjang
Subuh kembali sunyi dan tenang
Hanya wajah-wajah tua yang datang
Padahal Ramadan bulan yang agung
Rahmat Allah luas menyingkap tabir
Pahala berlipat menanti yang tekun,
Bagi hati yang sabar dan hadir
Baca Juga: Puisi Ahmad Gusairi: Kopi Hitam
Mari cari sandal yang hilang, kawan
Ajak mereka meniti jalan iman
Jangan biarkan rindu berkarat perlahan
Hadirlah di masjid, genggam harapan
Karena ibadah bukan sekadar mula
Namun istiqamah di setiap langkahnya
Pastikan sandal kita tetap ada
Menanti di tangga rumah-Nya
(Toboali, 18 Ramadan 1446 H/18 Maret 2025)
Baca Juga: Puisi Ahmad Gusairi: Paradoks Kehidupan
*Ahmad Gusairi, penulis puisi ini adalah pengajar SMA 1 Negeri Toboali, Bangka Selatan. ***