Minuman Manis Kekinian Picu Obesitas dan Diabetes Meski Tanpa Nasi

sekitarjambi.com

sekitarjambi.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Minuman manis kekinian seperti milk tea, kopi susu gula aren, dan matcha latte kerap dianggap “cuma minum”, padahal kalori cair bisa lebih licin daripada sepiring nasi. Spesialis Gizi Klinik dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK menegaskan liquid calories sulit memicu sinyal kenyang, sehingga orang mudah kebablasan kalori tanpa sadar.

Di banyak kota, strategi diet paling populer adalah mengurangi nasi dan mengganti porsi makan. Namun kebiasaan minum minuman manis kekinian tetap berjalan, bahkan menjadi rutinitas harian yang dianggap aman.

Di titik ini, diet sering berubah menjadi ilusi kontrol. Piring memang mengecil, tetapi gelas justru membesar dengan gula yang tidak terlihat.

Dr. Christopher menjelaskan makanan padat seperti nasi membuat lambung meregang dan mengirim sinyal kenyang ke otak. Pencernaan yang lebih lambat juga membuat energi dilepas bertahap, sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama.

Minuman manis melewati lambung lebih cepat dan tidak memicu “alarm lapar-kenyang” secara optimal. Ia menyebut, “Minum milk tea bisa bikin lebih gemuk, karena kan dia liquid jadi alarm lapar-kenyangnya itu nggak berasa.”

Masalah berikutnya adalah gula yang tinggi dalam minuman kekinian. Lonjakan gula darah dalam waktu singkat dapat mengganggu metabolisme bila terjadi berulang, terutama ketika dikonsumsi setiap hari.

Pola ini selaras dengan temuan riset global tentang sugar-sweetened beverages. Meta-analisis BMJ (2015) melaporkan konsumsi minuman berpemanis berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, bahkan setelah mengontrol faktor berat badan.

WHO juga merekomendasikan pembatasan gula bebas kurang dari 10% total energi harian, dan idealnya di bawah 5% untuk manfaat kesehatan tambahan. Dalam praktiknya, satu gelas minuman manis bisa menyumbang porsi besar dari batas harian itu, apalagi bila ada topping dan sirup tambahan.

Yang sering luput adalah mekanisme “kompensasi” tubuh yang tidak berjalan baik pada kalori cair. Setelah minum manis, banyak orang tetap makan seperti biasa, sehingga total kalori harian melonjak tanpa terasa.

Dr. Christopher mengingatkan dampaknya bisa cepat terlihat pada usia muda. “Minuman seperti milk tea, kopi susu gula aren, matcha latte itu kan juga kebanyakan tinggi gula ya. Tidak sadar bisa tiba-tiba obesitas, diabetes,” ujarnya.

Budaya minum manis kekinian bukan sekadar soal selera, tetapi soal lingkungan yang mendorong konsumsi gula. Diskon, ukuran gelas besar, dan normalisasi “minum dulu baru kerja” membuat gula menjadi bagian dari produktivitas palsu.

Di sisi lain, narasi diet kita terlalu fokus pada nasi seolah ia satu-satunya musuh. Padahal yang lebih berbahaya sering datang dari bentuk yang paling mudah ditelan, yaitu kalori cair yang tidak terasa sebagai “makan”.

Ini bukan ajakan menyalahkan individu semata. Ini kritik pada kebiasaan kolektif: kita menimbang karbohidrat di piring, tetapi tidak pernah benar-benar menghitung gula di gelas.

Solusi yang paling realistis adalah mengubah standar harian: air putih sebagai default, minuman manis sebagai pengecualian. Dr. Christopher menyarankan mengurangi tambahan gula dan lebih bijak memilih minuman agar asupan kalori terkontrol.

Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: kalau kita rela mengurangi nasi demi sehat, mengapa kita begitu mudah memaafkan gula yang kita minum? (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)