Ekonomi Dunia Diproyeksikan Tembus US$150 Triliun pada 2030, Indonesia Masuk 20 Besar
ORBITINDONESIA.COM — Peta ekonomi dunia diperkirakan mengalami perubahan cukup signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Produk domestik bruto (PDB) global diproyeksikan menembus US$150,3 triliun pada 2030, atau bertambah hampir US$25 triliun dibandingkan 2026.
Proyeksi tersebut ditampilkan Visual Capitalist berdasarkan perkiraan PDB nominal negara-negara dunia yang bersumber dari International Monetary Fund (IMF) World Economic Outlook.
Angka US$150,3 triliun itu menggambarkan besarnya aktivitas ekonomi dunia pada 2030 sekaligus memperlihatkan bagaimana pusat pertumbuhan ekonomi semakin bergeser ke Asia.
Amerika Serikat diperkirakan masih menjadi ekonomi terbesar dunia dengan PDB mencapai US$37,7 triliun, disusul China sebesar US$26,0 triliun. Dengan demikian, kedua negara tersebut saja akan menyumbang sekitar 42,4 persen dari total ekonomi dunia pada 2030.
Yang menarik adalah persaingan di posisi ketiga.
Jerman dan India nyaris tak berjarak
Jerman diproyeksikan berada di posisi ketiga dengan PDB sekitar US$6,178 triliun. Namun, India hanya terpaut sekitar US$5 miliar, dengan proyeksi PDB mencapai US$6,173 triliun.
Artinya, secara nominal, kedua negara itu hampir berada pada posisi yang sama.
India bahkan berpeluang menyalip Jerman jika tren pertumbuhannya terus berlanjut. Gambaran tersebut menjadi lebih dramatis jika ekonomi diukur berdasarkan purchasing power parity (PPP), karena ekonomi India saat ini sudah jauh lebih besar dibandingkan Jerman dalam ukuran tersebut.
Di bawah empat negara teratas tersebut terdapat Inggris dengan PDB US$5,148 triliun, Jepang US$5,002 triliun, Prancis US$4,004 triliun, Brasil US$3,204 triliun, Italia US$3,046 triliun, dan Kanada US$3,008 triliun.
Rusia diperkirakan berada di peringkat ke-11 dengan PDB US$2,592 triliun, sementara Meksiko, Australia, Spanyol, dan Korea Selatan masing-masing menempati posisi berikutnya.
Indonesia masuk 20 besar
Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhatikan dalam proyeksi tersebut.
Dengan PDB nominal sekitar US$2,082 triliun, Indonesia diperkirakan berada di peringkat ke-16 dunia pada 2030, menyumbang sekitar 1,4 persen terhadap ekonomi global.
Posisi itu menempatkan Indonesia di atas Turki, Belanda, Arab Saudi, dan Polandia.
Indonesia juga menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dalam daftar tersebut. Malaysia diproyeksikan memiliki PDB sekitar US$672,5 miliar, Vietnam US$667,5 miliar, Thailand US$647,5 miliar, sedangkan Filipina sekitar US$715,5 miliar.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi salah satu ekonomi terbesar di ASEAN, tetapi juga masuk jajaran 20 ekonomi terbesar dunia berdasarkan PDB nominal.
Namun, angka tersebut sekaligus menunjukkan jarak yang masih sangat besar dengan dua raksasa ekonomi Asia, China dan India.
Asia menjadi motor pertumbuhan
Salah satu pesan penting dari proyeksi tersebut adalah semakin kuatnya posisi Asia dalam ekonomi global.
Asia dan Timur Tengah secara keseluruhan diperkirakan menghasilkan sekitar US$55,7 triliun output ekonomi pada 2030, atau lebih dari sepertiga ekonomi dunia.
China dan India menjadi dua mesin utama kawasan tersebut. Jepang diperkirakan tetap menjadi ekonomi terbesar ketiga di Asia dengan PDB sekitar US$5 triliun, disusul Korea Selatan sekitar US$2,3 triliun dan Indonesia sekitar US$2,1 triliun. (Yahoo Finance)
Perubahan ini mencerminkan pergeseran gravitasi ekonomi dunia yang sudah berlangsung selama beberapa dekade.
Jepang, misalnya, pernah menjadi ekonomi terbesar kedua dunia. Namun, negara tersebut kemudian dilewati China pada 2010 dan Jerman pada 2024. Dalam beberapa tahun mendatang, India juga diperkirakan semakin mendekati negara-negara maju dalam jajaran ekonomi terbesar dunia.
Bukan sekadar soal angka PDB
Meski demikian, besarnya PDB tidak otomatis berarti sebuah negara memiliki tingkat kesejahteraan yang sama tingginya.
PDB nominal mengukur nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam satu tahun berdasarkan harga dan nilai tukar yang berlaku. Karena itu, ukuran tersebut berbeda dengan PDB per kapita yang lebih berkaitan dengan rata-rata output ekonomi per penduduk.
Demikian pula dengan PPP. Negara dengan penduduk sangat besar seperti India dan Indonesia dapat terlihat jauh lebih besar ketika kemampuan daya beli domestik diperhitungkan.
Karena itu, peringkat ekonomi dunia harus dibaca secara hati-hati.
PDB memberikan gambaran mengenai bobot ekonomi sebuah negara, tetapi tidak dengan sendirinya menggambarkan kesejahteraan setiap warga negara.
Tantangan bagi Indonesia
Bagi Indonesia, proyeksi PDB US$2,08 triliun pada 2030 tentu merupakan kabar penting. Namun, angka tersebut juga membawa pertanyaan yang lebih besar: apakah pertumbuhan ekonomi itu akan menghasilkan peningkatan produktivitas, pendapatan, kualitas pekerjaan, dan daya saing nasional?
Masuk 20 besar ekonomi dunia merupakan pencapaian penting. Tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak hanya didorong oleh jumlah penduduk dan konsumsi domestik.
Indonesia perlu meningkatkan nilai tambah industri, produktivitas tenaga kerja, kualitas sumber daya manusia, teknologi, infrastruktur, serta kemampuan masuk ke rantai pasok global.
Sebab dunia pada 2030 kemungkinan bukan hanya menjadi dunia dengan ekonomi yang lebih besar.
Ia juga akan menjadi dunia dengan persaingan yang lebih keras.
Amerika Serikat dan China tetap berada jauh di depan. India terus mengejar. Negara-negara Asia lainnya memperkuat posisi mereka. Sementara negara-negara maju yang pertumbuhannya lebih lambat harus berhadapan dengan persoalan demografi dan produktivitas.
Dalam lanskap semacam itu, ukuran ekonomi menjadi penting, tetapi kemampuan mengubah ukuran ekonomi menjadi kekuatan strategis akan jauh lebih menentukan.
Proyeksi Visual Capitalist pada akhirnya memberi satu gambaran yang cukup jelas: pada 2030, ekonomi dunia akan semakin besar, tetapi sekaligus semakin Asia.
Dan bagi Indonesia, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah Indonesia akan masuk dalam 20 besar ekonomi dunia.
Jika proyeksi tersebut terwujud, jawabannya sudah cukup jelas.
Pertanyaannya adalah: apakah Indonesia hanya akan menjadi ekonomi besar berdasarkan ukuran PDB, atau benar-benar menjadi kekuatan ekonomi yang memiliki pengaruh terhadap arah perekonomian kawasan dan dunia? ***