Wellness Betawi: Tangas, Borehan, dan Pijat Pulen Legit
ORBITINDONESIA.COM – Wellness Betawi seperti tangas Betawi, borehan, dan pijat pulen legit kini dibaca ulang sebagai tren wellness tourism Jakarta. Tradisi yang dulu melekat pada persiapan pengantin itu mulai dikemas menjadi pengalaman self-care autentik yang diburu pasar.
Di kota yang bergerak cepat, kebutuhan jeda dan pemulihan makin terasa sebagai gaya hidup. Karena itu, wellness berbasis budaya lokal muncul sebagai jawaban atas kejenuhan layanan spa generik.
Pakar wellness Betawi, Yoyoh R. Tambera, menyebut praktik ini menjaga keseimbangan energi, pikiran, dan spiritual. Ia menempatkan tangas, borehan, dan pijat Pulen Legit sebagai warisan self-care yang hidup di tengah modernitas.
Namun, ketika tradisi masuk ke industri pariwisata, muncul pertanyaan tentang batas antara pelestarian dan komodifikasi. Nilai budaya bisa menguat, tetapi juga bisa tereduksi menjadi sekadar paket layanan.
Tangas Betawi adalah body steam tradisional untuk mengeluarkan keringat, memberi efek segar, dan menghadirkan aroma yang meresap ke kulit. Rempahnya mencampur sedap malam dan melati, akar wangi, pandan dan serai, hingga kayu manis dan cengkeh.
Dalam narasi populer, rempah itu dikaitkan dengan relaksasi, sirkulasi, dan kebersihan kulit. Beberapa klaim seperti “antiseptik alami” pada kayu manis dan cengkeh masuk akal secara umum, tetapi tetap perlu standar higienitas dan uji praktik jika dijual sebagai layanan publik.
Borehan, atau lulur khas Betawi, diposisikan sebagai tahap penyempurna setelah tangas. Manfaat yang paling mudah diverifikasi adalah eksfoliasi, yakni mengangkat sel kulit mati agar kulit tampak lebih halus.
Yoyoh juga menautkan borehan dengan stabilisasi suhu tubuh dan pencegahan masuk angin saat lelah persiapan pernikahan. Klaim ini merefleksikan cara masyarakat membaca tubuh secara tradisional, meski terminologi medis modern tidak selalu sejalan.
Bagian paling sensitif ada pada pijat Pulen Legit Betawi yang dipromosikan untuk kesehatan kewanitaan dan pemulihan energi. Dalam artikel, pijat ini bahkan disebut populer sebagai “back to virgin” karena diyakini mengencangkan otot area vagina.
Di titik ini, industri wellness berhadapan dengan risiko misinformasi dan tekanan sosial terhadap tubuh perempuan. Penguatan otot dasar panggul memang dikenal dalam ilmu kesehatan, tetapi istilah “kembali perawan” adalah konstruksi sosial yang bisa menormalisasi kontrol atas tubuh perempuan.
Potensi ekonominya tetap nyata, terutama ketika wellness tourism menjadi segmen bernilai tinggi. Dalam FGD Perda Wellness Betawi & Tourism pada 20 November 2025, Lourda Hutagalung dari Board Etnaprana Wellness menyebut wellness Betawi masuk paket 15 etnaprana di Gaya Spa.
Lourda mengklaim ada permintaan dari sekitar 30 negara untuk layanan wellness spa Indonesia, meski negara tidak dirinci. Klaim ini menarik sebagai sinyal pasar, tetapi membutuhkan transparansi data agar tidak berhenti sebagai jargon promosi.
Ia juga meminta dukungan Pemprov DKI Jakarta agar layanan seperti pulen legit dan tangas masuk program kerja formal. Logikanya sederhana, standardisasi, sertifikasi terapis, dan kurasi narasi budaya akan menentukan apakah Jakarta sekadar ikut tren atau benar-benar memimpin.
Wellness Betawi akan kuat jika diperlakukan sebagai pengetahuan hidup, bukan sekadar “eksotik” untuk turis. Ketika tradisi dipaketkan, yang paling mudah hilang justru konteks, yakni mengapa ritual itu dilakukan, kapan, dan dengan etika apa.
Promosi yang cerdas semestinya memisahkan manfaat yang bisa diuji dengan klaim yang bersifat kepercayaan. Tangas dan borehan dapat diposisikan sebagai relaksasi dan perawatan kulit, sementara pijat kewanitaan harus dikomunikasikan dengan bahasa kesehatan yang aman dan tidak mengobjektifikasi.
Jika pemerintah serius, fokusnya jangan hanya festival dan brosur. Yang dibutuhkan adalah pelatihan berbasis kompetensi, protokol kebersihan, perlindungan konsumen, serta pelestarian bahan dan pengetahuan rempah agar rantai pasoknya tidak merusak lingkungan.
Di sisi lain, Betawi juga berhak menentukan cara dirinya ditampilkan. Tanpa pelibatan komunitas, industri bisa mengambil simbol dan meninggalkan manfaat ekonomi yang timpang.
Wellness Betawi memberi pelajaran bahwa sehat tidak selalu lahir dari teknologi baru, tetapi dari cara lama yang dirawat dengan disiplin. Tangas Betawi, borehan, dan pijat Pulen Legit bisa menjadi identitas Jakarta yang lebih manusiawi, jika dikemas dengan etika dan bukti.
Pertanyaannya, apakah kita ingin menjual “aroma tradisi” saja, atau merawat maknanya sekaligus melindungi tubuh yang mengalaminya. Ketika budaya menjadi komoditas, yang menentukan martabatnya adalah standar, kejujuran, dan keberpihakan pada manusia, bukan sekadar pasar. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juli 2026)