DECEMBER 9, 2022
Nasional

Denny JA: Jokowi dan Prabowo Berpotensi Menjadi Dwi Tunggal Indonesia Berikutnya Setelah Soekarno dan Hatta

image
Jokowi (kanan) dan Prabowo Subianto (kiri). (Antara)

ORBITINDONESIA.COM – Joko Widodo akrab disapa Jokowi dan Prabowo Subianto berpotensi menjadi dwi tunggal Indonesia berikutnya setelah Soekarno dan Mohammad Hatta.

“Jika dwi Tunggal Soekarno-Hatta berjasa mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan, dwi tunggal Jokowi- Prabowo berpotensi mengantarkan kita menuju Indonesia Emas 2045,” kata peneliti senior dan konsultan politik Denny JA ketika menerima piagam penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena prestasinya menjadi konsultan politik yang memenangkan pemilihan presiden (Pilpres) lima kali beruntun, 2004, 2009, 2014, 2019, dan 2024 di Jakarta, Senin 25 Maret 2024.

Menurut Deny JA, tahun 2045 Indonesia menjadi negara terbesar keempat di dunia secara ekonomi seperti diprediksi oleh lembaga internasional.

Baca Juga: Menangkan Pilpres Lima Kali Beruntun, LSI Denny JA Peroleh Penghargaan dari MURI Jaya

“Saya senang menjadi saksi dan ikut membantu kemenangan Prabowo-Gibran, yang didukung Jokowi dalam Pilpres 2024.”

“Senang ikut membentuk dan mendorong dwi tunggal Jokowi-Prabowo,” tambahnya.

Denny JA menceritakan tiga momentum krusial yang menentukan kemenangan Prabowo-Gibran. Ia ceritakan itu dalam talk show Jayasuprana, ketika  menerima penghargaan dari MURI.

Pertama, percakapan empat mata Denny JA dengan Jokowi di akhir Juli 2023. Ketika itu, Denny JA ikut meyakinkan Jokowi agar mendukung Prabowo saja.

“Lima puluh tahun dari sekarang,” ujar Denny JA kepada Jokowi, “sejarahwan akan menulis siapa tiga- lima presiden Indonesia yang paling memberikan legacy untuk warna dan kemajuan Indonesia.”

Jokowi, kata Denny JA, berpotensi tercatat di antara tiga sampai lima presiden itu, sejauh legacy-nya dilanjutkan sampai tuntas oleh presiden berikutnya.

Legacy Jokowi antara lain: memindahkan ibu kota negara, hilirisasi, dan digitalisasi pemerintahan.

Di antara semua calon presiden yang berkompetisi, katanya kepada Jokowi, Prabowo adalah yang paling memberi ruang untuk itu, dan juga yang paling mungkin menang.

Kedua, percakapan empat mata Denny JA dan Prabowo, sekitar bulan September 2023, jauh hari sebelum Mahkamah Konstitusi membolehkan Gibran Rakabuming Raka menjadi wakil presiden.

Di bulan Agustus 2023, LSI Denny JA sudah memublikasi hasil survei ke publik. Inilah survei pertama yang menyatakan Prabowo-Gibran akan mengalahkan pasangan Ganjar Pranowo dan pasangan Anies Baswedan.

Denny JA ikut mendukung Prabowo mengambil Gibran sebagai pasangannya. Adalah Prabowo yang pertama kali menyampaikan hasratnya meminang Gibran.

Namun Denny JA datang dengan data, bahwa memang Gibran yang dapat membantunya terpilih sebagi presiden, karena berbagai alasan.

Gibran tak hanya bisa membawa suara yang puas dengan kinerja Jokowi (80 persen pemilih).

Gibran juga membawa suara generasi milenial ke bawah (50 persen pemilih).

Dan, Gibran mampu membelah Jawa Tengah, mengambil basis suara Ganjar, yang waktu itu menjadi kompetitor terkuat Prabowo.

Ketiga, momentum penting satu putaran saja. Di bulan Desember, dukungan kepada Prabowo-Gibran sempat mentok hanya di angka 43-45 persen.

Jika tertahan di sana, Prabowo-Gibran harus bertarung ulang di putaran kedua. Ini situasi kritis bahkan untuk Indonesia. Jokowi akan terus dikeritik dan digembosi. Para kubu kompetitornya tahu bahwa Jokowi ikut menjadi sandaran elektabilitas Prabowo-Gibran.

Jika popularitas Jokowi bisa dihancurkan, hancur pula elektabilitas Prabowo-Gibran.

Denga demikian, kemenangan satu putaran untuk Prabowo-Gibran menjadi keharusan. Data LSI Denny JA waktu itu menunjukkan peluang menang satu putaran saja cukup dengan memaksimalkan dukungan di kalangan pemilih wong cilik.

Pemilih wong cilik untuk kualifikasi pemilih yang penghasilannya 2 juta rupiah ke bawah. Total jumlah mereka 45 persen dari total pemilih Indonesia.

Ketika itu, pemilih wong cilik yang mendukung Prabowo- Gibran baru sebanyak 47 persen. Dukungan mereka ke Prabowo-Gibran harus dinaikkan menjadi 60 persen di seluruh Indonesia.

Hanya ini yang paling mungkin mendongkrak suara Prabowo-Gibran agar melampaui 50 persen. Maka perlu dilakukan gerakan door to door ke rumah-rumah wong cilik itu.

Divisi Konsultan Politi LSI Denny JA sendiri ikut menurunkan puluhan ribu relawan bergerak di puluhan kabupaten di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Bergerak juga banyak sekali relawan lain. Bantuan sosial hanya salah satu saja yang ikut mewarnai. LSI Denny JA sendiri bergerak door to door tanpa menyentuh bantuan sosial.

Tiga momentum itulahh yang akhirnya paling menentukan kemenangan Prabowo-Gibran, menang satu putaran saja!

Kepada wartawan, Denny JA menyatakan, setelah menang, Prabowo sendiri menelefonnya.

Prabowo mengucapkan terima kasih Denny JA yang sudah get things done, membantunya terpilih. Lalu, Prabowo juga mengutip ucapan Denny JA ketika berjumpa pertama kali untuk urusan Pilpres 2024.

Sambil tertawa Prabowo berkata: “Den, elo ngomong, saya tak akan datang ke capres yang akan kalah.”

“Saya juga tertawa.”

“Jadi kemenangan gue, elo sudah yakin sejak awal ya?” kata Prabowo.

Prabowo: “Jadi kemenangan gue ini menambah rekor kemenangan elo, ya Den?”

“Ini Pilpres keberapa yang elo menang?” kata Prabowo bertanya.

Saya jawab: “Kelima kali pak. Berturut-turut.”

Prabowo: “Hebat elo ya Den. Itu rekor kelas dunia.”

Sekarang MURI mendokumentasikan pencapaian Denny JA itu. Denny JA mencatat rekor menjadi konsultan politik pertama di dunia yang memenangkan Pilpres lima kali berturut-turut. ***

Berita Terkait