Literasi Keuangan Gen Z Stagnan, Program Sekolah Jadi Kunci
ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan masih rendah, bahkan ketika anak muda fasih matematika dan tata bahasa. Riset TIAA Institute dan Global Financial Literacy Excellence Center mencatat tingkat literasi keuangan di Amerika Serikat stagnan pada level rendah selama beberapa tahun, dengan Gen Z lebih tertinggal. Celah ini bukan soal nilai rapor, melainkan soal kemampuan membuat keputusan uang yang menentukan masa depan.
Selama bertahun-tahun, sekolah mengajarkan cara menghitung, tetapi jarang mengajarkan cara mengelola gaji pertama. Akibatnya, banyak orang baru belajar tentang anggaran, utang, dan investasi setelah terlanjur salah langkah. Literasi keuangan akhirnya berubah menjadi “biaya belajar” yang mahal.
Artikel sumber menekankan bahwa literasi keuangan bukan sekadar mata pelajaran, melainkan rencana aksi. Intinya sederhana, yaitu memahami cara memperoleh, menabung, membelanjakan, dan menginvestasikan uang dengan bijak. Namun kesederhanaan itu sering kalah oleh rasa takut pada istilah finansial yang terdengar rumit.
Di titik ini, peran keluarga dan komunitas menjadi penentu. Percakapan kecil tentang target membeli tiket konser atau kendaraan pertama dapat membuka pintu diskusi tentang menabung. Kebiasaan itu lebih mudah dibangun ketika dimulai sejak dini, bukan saat krisis datang.
Riset TIAA Institute dan GFLEC menunjukkan literasi keuangan AS tidak banyak bergerak, dan Gen Z berada pada posisi lebih rendah. Temuan ini penting karena literasi keuangan berkorelasi kuat dengan hasil finansial yang lebih baik. Artikel menyebut kaitannya dengan lebih rendahnya “debt constraint” dan “financial fragility”.
Masalahnya bukan hanya kurang pengetahuan, tetapi juga arsitektur pembelajaran yang terlambat. Banyak kurikulum menempatkan uang sebagai topik “dewasa”, padahal keputusan finansial pertama terjadi saat remaja. Ketika akses kredit digital dan paylater makin mudah, keterlambatan ini makin berisiko.
Di sisi lain, ada model intervensi yang menargetkan anak dan remaja melalui kemitraan. Schwab, misalnya, mempromosikan program edukasi seperti Money Matters bersama Boys & Girls Clubs of America. Artikel menyebut kolaborasi nasional yang menjangkau lebih dari 17 juta anak muda per tahun.
Angka jangkauan itu terdengar impresif, tetapi pertanyaan kuncinya adalah kualitas dampaknya. Apakah peserta benar-benar berubah perilaku, atau sekadar “pernah ikut kelas”? Dalam literasi keuangan, indikator paling jujur biasanya bukan sertifikat, melainkan kebiasaan, seperti rutin mencatat pengeluaran dan konsisten menabung.
Artikel juga menekankan pentingnya relawan sebagai mentor, pengajar, dan role model. Pendekatan ini dapat menurunkan hambatan psikologis karena belajar uang terasa lebih dekat dan manusiawi. Namun, ketergantungan pada relawan juga bisa membuat program timpang jika tidak ada standar materi dan evaluasi yang kuat.
Literasi keuangan sering diperlakukan sebagai solusi moral, seolah masalah finansial semata-mata akibat individu kurang disiplin. Padahal, banyak orang terhimpit oleh biaya hidup, akses kredit agresif, dan ketidakpastian kerja. Mengajarkan anggaran tanpa membahas realitas ekonomi bisa berubah menjadi nasihat kosong.
Meski begitu, menolak literasi keuangan juga keliru karena ia tetap alat bertahan. Memahami bunga majemuk, skor kredit, dan dana darurat bisa menjadi “sabuk pengaman” ketika ekonomi tidak ramah. Literasi tidak menyelesaikan semua, tetapi sering menentukan seberapa parah seseorang jatuh.
Peran perusahaan seperti Schwab perlu dibaca dengan dua kacamata. Di satu sisi, sumber daya dan jaringan mereka memungkinkan program berskala besar dan berkelanjutan. Di sisi lain, publik berhak menuntut transparansi, termasuk evaluasi dampak dan potensi bias materi yang terlalu pro-produk finansial.
Solusi paling masuk akal adalah menggabungkan percakapan rumah, inisiatif sekolah, dan dukungan komunitas. Remaja perlu diajak menetapkan tujuan, menyusun rencana, lalu merasakan kemenangan kecil dari tabungan yang terkumpul. Kemenangan kecil itu sering lebih efektif daripada ceramah panjang tentang “masa depan”.
Rendahnya literasi keuangan Gen Z adalah alarm, bukan vonis. Artikel sumber mengingatkan bahwa semakin awal keterampilan uang diajarkan, semakin kuat fondasi finansial seseorang. Dari obrolan keluarga hingga program sekolah, jalurnya banyak, tetapi konsistensi adalah kuncinya.
Pada akhirnya, literasi keuangan adalah soal martabat, yaitu kemampuan memilih tanpa panik saat tagihan datang. Jika kita sepakat uang memengaruhi kesehatan, pendidikan, dan relasi, mengapa kita masih menunda mengajarkannya sejak remaja? Barangkali pertanyaan yang lebih jujur adalah, siapa yang diuntungkan ketika orang tetap bingung mengelola uang. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)