Rokhmin Dahuri: Greta Thunberg dan Karhutla Borneo

Greta Thunberg.

Greta Thunberg.

Opini

Oleh Rokhmin Dahuri

ORBITINDONESIA.COM - Greta Thunberg meradang. Melalui Instagramnya, 16 Oktober 2026, Person of the Year Time Magazine 2019 itu memperingatkan krisis kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sangat parah dan sudah berlangsung 4 bulan.

Gadis aktivis lingkungan asal Norwegia, 23 tahun, yang menciutkan nyali Donald Trump itu menyebut bahwa kondisi Karhutla di lapangan jauh lebih buruk dari yang terlihat di media sosial. Greta menyoroti jumlah korban Karhutla: 277.075 orang dirawat di rumah sakit akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) -- 62.400 di antaranya balita.

Asap itu beracun, membuat balita dan orang tua terkena ISPA. Mereka tak bisa beradaptasi dengan lingkungan asap Karhutla seperti maunya Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Iklim Bumi Terancam

Greta menjerit: 2 juta hektare lahan musnah. Hewan-hewan langka mati terbakar. Warga kehilangan hutan adat dan kebun karet. Petugas pemadam kebakaran gugur saat bertugas.

Greta di Instagram itu, membagikan ulang video aktivis lingkungan Emmanuela Shinta. Video itu memperlihatkan kota Palangka Raya dikepung asap, dengan langit oranye pekat.

Greta tak berhenti pada keprihatinan. Ia mengajak jutaan follower-nya di seluruh dunia berdonasi lewat Borneo's Fires and Haze Crisis Fundraising Campaign. Dana yang terkumpul akan dipakai untuk operasional petugas damkar, pembangunan ruang perlindungan bebas asap, dan perlindungan kelompok rentan.

Keprihatinan Greta -- pembela rakyat Palestina yang ditakuti Benjamin Netanyahu itu -- jelas menaikkan sorotan dunia internasional terhadap krisis api Borneo. Meskipun Menhut Raja Juli Antoni, angkat tangan menghadapi Karhutla.

Anggaran untuk pemadam kebakaran tak ada, ujar Menhut jujur. Tapi, kenapa malu minta bantuan asing bila tak sanggup? Mengapa tim bantuan Jepang dan Malaysia untuk atasi Karhutla pulang? Netizens +62 yang usil pun nyinyir di sosmed: Sikap Presiden Prabowo dan Menteri memalukan bangsa Indonesia. .

Nama Greta Thunberg dikenal dunia sejak 2018. Pada Agustus 2018, saat usianya 15 tahun, ia bolos sekolah dan duduk sendirian di depan parlemen Swedia di Stockholm. Remaja itu mengusung baliho bertuliskan "Skolstrejk för klimatet" -- Mogok Sekolah Demi Iklim

Ternyata aksi berani Greta viral ke seluruh dunia.

Dalam hitungan bulan, jutaan pelajar di berbagai benua ikut turun ke jalan dengan tema Fridays for Future.

Greta berbicara di forum internasional yang dihadiri kepala negara, dari KTT Iklim PBB hingga Davos. Pada 2019, pidatonya yang berjudul "How dare you" mengguncang para pemimpin dunia. Di tahun yang sama, Majalah Time menobatkannya sebagai Person of the Year.

Greta bukan ilmuwan. Ia sendiri menegaskan bahwa dirinya hanya minta dunia mendengarkan para ilmuwan tentang krisis iklim dan global warming. Kata Greta, bumi tengah menghadapi ancaman besar. Manusia harus menyelamatkan bumi. Pesan sederhana itu menohok Presiden Trump yang menyatakan krisis iklim dan global warming adalah hoax.

"Tak usah didengarkan kat-kata gadis nakal itu," timpal Trump. Tapi peringatan Greta justru mendapat pengakuan luas dunia internasional. Greta yang menuduh Trump dan Netanyahu perusak kedamaian dan keadilan itu -- memperoleh sambutan luas. Dunia pun mengakui reputasi Greta.

Greta Menoleh ke Kalimantan

Kini Greta menoleh ke Borneo. Ia menegaskan krisis hutan tropis di Borneo itun sangat parah dan mengancam iklim bumi.

Orang-orang Malaysia dan Singapura sudah terkena dampak asap Karhutla. Ribuan orang terkena ISPA. Sekolah diliburkan. Bandara ditutup. Masyarakat diminta mengurung di rumahnya.

Singapura dan Malaysia mendengungkan SOS. Ya, Karhutla bukan lagi masalah lokal. Tapi regional. Bahkan dunia. Emisi karbon yang dihamburkan ke atmosfer, ikut mengeskalasi global warming.

Setiap hektar lahan gambut yang terbakar melepas karbon sangat besar yang selama ribuan tahun tersimpa di dalam bumi. Karena ulah manusia, gas karbon itu naik ke atmosfer, lalu terbang ke seluruh dunia, mengikuti arah angin. Tak ada kekuatan apa pun di muka bumi yang bisa menghentikan arus angin.

Mengapa Api Sulit Padam

Borneo adalah salah satu pulau paling kaya keanekaragaman hayati di dunia. Hutan hujannya lebih tua dari Amazon. Di sana, antara lain, hidup orangutan, owa-owa, bekantan, macan dahan, beruang madu, dan gajah kerdil Kalimantan. Jutaan jenis lainnya hidup di hutan hujan tropis yang ajaib itu.

Sayangnya luas hutan itu terus menyusut. Penyebabnya pembalakan, tambang, dan pembukaan lahan sawit serta tanaman industri.

Para pelaku bisnis itu tak peduli hutan Kalimantan berada di atas lahan gambut. Lahan ini menyimpan karbon dalam jumlah raksasa.

Saat dikeringkan gambut berubah menjadi bahan bakar. Dan api yang dinyalakan untuk membuka lahan sawit bisa merambat ke bawah tanah. Api itu bisa membara berbulan-bulan. Karena itu, krisis kebakaran hutan yang telah berlangsung 4 bulan seperti yang disebut Greta bukan ilusi. Tapi nyata.

Anak muda Indonesia sudah lama bergerak. Ada pemadam gambut desa, jurnalis lingkungan, peneliti, dan aktivis seperti Emmanuela Shinta yang videonya diunggah Greta. Mereka bekerja dengan sumber daya terbatas dan sering di bawah tekanan. Karena itu, suara Greta memberi mereka megafon yang selama ini sulit didapat. Bahkan diredam aparat.

Mogok sekolah di Stockholm dan asap di Palangka Raya, bagi Greta adalah dua sisi persoalan yang sama. Dunia menunda-nunda solusi atas global warming ketika bukti sudah menumpuk.

Kini pertanyaannya bukan lagi -- apakah krisis kebakaran hutan itu nyata? Ratusan ribu pasien ISPA; balita yang terbatuk sekarat; lansia yang pingsan; orangutan yang kehilangan rumah; dan petugas damkar yang gugur -- semua itu jawabannya. Kini tinggal satu soal: siapa yang mau bertindak sebelum hutan terakhir Borneo habis?

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

Guru Besar Emiritus IPB University/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI