International Self-Care Day 24 Juli: Self-Care 24/7, Bukan Tren
ORBITINDONESIA.COM – International Self-Care Day setiap 24 Juli kembali mengingatkan publik bahwa self-care bukan liburan sesaat, melainkan kebiasaan 24/7. Di tengah ritme kerja cepat dan layar yang tak pernah padam, kesehatan mental, fisik, dan emosional sering jadi pos terakhir yang diurus.
Tanggal 24/7 dipilih sebagai simbol sederhana: merawat diri seharusnya hadir di setiap jam, bukan hanya pada satu hari perayaan. Gagasan ini dipopulerkan secara global oleh International Self-Care Foundation untuk mendorong praktik harian yang realistis.
Masalahnya, banyak orang menukar kebutuhan tubuh dengan tuntutan produktivitas. Pandemi COVID-19 sempat memaksa kita menoleh pada rapuhnya daya tahan mental dan pentingnya pencegahan, namun pelajarannya cepat memudar saat hidup kembali “normal”.
Self-care yang paling efektif justru sering yang paling kecil: makan seimbang, cukup minum, tidur cukup, dan bergerak rutin. Untuk kesehatan mental, jeda gawai, meditasi singkat, atau journaling kerap memberi dampak lebih stabil daripada solusi instan yang viral.
Kerangka pencegahan juga kuat secara kebijakan publik, karena kebiasaan sehat menurunkan risiko masalah kesehatan yang lebih berat. WHO berulang kali menekankan pencegahan sebagai pilar kesehatan masyarakat, dan beban penyakit tidak menular seperti penyakit jantung serta diabetes banyak terkait pola hidup.
Namun ada sisi gelap dari industri self-care yang perlu dibaca kritis: perawatan diri dipasarkan sebagai komoditas mahal. Ketika self-care disempitkan menjadi belanja, spa, atau “healing” berbiaya tinggi, pesan intinya bergeser dari pemulihan menjadi konsumsi.
Di ruang kerja, self-care sering dibebankan sepenuhnya ke individu, seolah stres hanya soal manajemen waktu pribadi. Padahal jam kerja panjang, target tidak realistis, dan budaya selalu online adalah faktor struktural yang tidak bisa diselesaikan dengan afirmasi semata.
International Self-Care Day seharusnya dibaca sebagai kritik halus terhadap kultur yang menormalisasi kelelahan. Jika kita perlu “diingatkan” untuk tidur cukup dan makan teratur, berarti ada yang keliru dalam cara masyarakat mengukur nilai manusia.
Self-care yang matang bukan pelarian dari tanggung jawab, melainkan cara menjaga kapasitas untuk bertahan dan berkontribusi. Mengatakan “tidak”, memasang batas, dan memberi ruang bagi hobi adalah tindakan kesehatan, bukan sikap manja.
Lebih jauh, self-care juga bisa menjadi bahasa perlawanan yang sunyi terhadap eksploitasi waktu. Ketika seseorang berani mematikan notifikasi, memilih berjalan kaki, atau menemui keluarga, ia sedang menegaskan bahwa hidup tidak boleh seluruhnya dikuasai tuntutan.
Perayaan 24 Juli memberi jeda untuk menilai ulang: apakah rutinitas kita memperkuat tubuh dan pikiran, atau justru menggerusnya pelan-pelan. Self-care 24/7 tidak menuntut perubahan drastis, tetapi menuntut konsistensi yang jujur.
Pertanyaannya sederhana namun tajam: kebiasaan kecil apa yang akan Anda lindungi mulai hari ini, bahkan ketika dunia mendesak Anda untuk terus cepat? Mungkin di sanalah perawatan diri menemukan makna paling sunyi, sekaligus paling kuat. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)