Berawal dari Usaha Rumahan, Pia Yango Kini Menjadi Ikon Oleh-Oleh Gorontalo

“Tidak semua orang berani meninggalkan rasa aman untuk memulai sesuatu yang belum pasti. Namun sering kali, keputusan itulah yang membuka jalan baru.”

 

Di sudut Kota Gorontalo, aroma pia hangat yang baru keluar dari oven kini menjadi bagian dari denyut wisata kuliner daerah itu. Banyak pelancong mengenal Pia Yango sebagai salah satu oleh-oleh khas yang wajib dibawa pulang.

Namun siapa sangka, di balik nama besar Pia Yango hari ini, terdapat cerita perjuangan seorang mantan sopir yang merintis usahanya mulai dari usaha rumahan hingga pelan-pelan tumbuh menjadi pengusaha sukses.

Idris Andriadi Bouta, sosok di balik lahirnya Pia Yango, memulai perjalanannya bukan sebagai pengusaha besar, melainkan seorang sopir rental mobil. Di tengah rutinitas bekerja, sebuah momen sederhana justru menjadi titik awal lahirnya usaha yang kini dikenal luas di Gorontalo.

Suatu hari sepulang bekerja, Idris mencicipi pia yang disuguhkan sang istri di rumah. Rasa pia yang dinilainya lezat membuatnya melihat peluang usaha yang menjanjikan. Dari situlah muncul ketertarikannya untuk mulai terjun ke bisnis kuliner, khususnya produk pia sebagai oleh-oleh khas daerah.

Pada tahap awal, Idris belum langsung memproduksi sendiri. Ia terlebih dahulu mendaftar sebagai reseller dengan menjual produk pia dari pabrik yang sudah lebih dulu beroperasi. Namun seiring meningkatnya jumlah pesanan, sistem tersebut mulai menemui kendala, terutama dalam memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah.

Situasi itu mendorong Idris untuk mengambil langkah lebih besar. Ia kemudian memutuskan memproduksi pia secara mandiri dengan mengontrak sebuah ruangan kecil yang kemudian dijadikan tempat produksi. Dari tempat sederhana itulah perjalanan Pia Yango mulai dibangun secara perlahan hingga berkembang menjadi salah satu ikon oleh-oleh khas Gorontalo.

Harga produknya pun relatif affordable, hingga membuat pia ini tidak hanya diminati oleh wisatawan domestik, tetapi juga mampu menjangkau pasar menengah ke bawah yang selama ini menjadi bagian besar dari konsumen oleh-oleh lokal.

Strategi tersebut menjadi salah satu kekuatan Pia Yango di tengah persaingan industri kuliner. Idris memahami bahwa produk oleh-oleh bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga soal aksesibilitas bagi masyarakat luas. Ia juga berupaya terus menjaga agar produknya tetap bisa dinikmati berbagai kalangan tanpa kehilangan kualitas yang menjadi ciri khasnya.

Pia Yango menjadi potret bagaimana sebuah usaha kecil dapat tumbuh menjadi kebanggaan daerah ketika dibangun dengan ketekunan dan keberanian untuk mengambil peluang di tengah keterbatasan.