Rusmin Sopian: Bum Panjang TTB Mendadak Booming
Oleh Rusmin Sopian, penulis asal Toboali, Bangka Selatan.
ORBITINDONESIA.COM - “Bum Panjang Ketapang lagi booming, Ceng. Duluk e tempet kite main.”
Pesan WhatsApp itu masuk ke ponsel saya pada Jumat pagi, 30 April 2026, dari seorang kawan lama yang kini tinggal di luar Kota Toboali.
Saya membalasnya dengan senyum—sebuah respons yang segera berubah menjadi nostalgia panjang. Kami pun larut dalam kenangan tentang Bum Panjang milik PT Timah yang berada di kawasan Wasrey, pusat pencucian timah yang dulu begitu hidup.
Pada era 1970 hingga 1990-an, bagi warga Toboali dan sekitarnya, kawasan Tanjung Ketapang bukanlah tempat asing. Di sanalah berdiri sebuah pelabuhan yang akrab disebut warga sebagai Bum Panjang TTB. Sebutan itu melekat karena fasilitas tersebut memang milik PT Timah.
Fungsinya kala itu sangat vital. Dari Bum Panjang, bijih timah diangkut dari Wasrey menuju kapal-kapal yang kemudian berlayar ke Pusmet Mentok. Tak hanya itu, pelabuhan ini juga menjadi jalur distribusi bahan bakar minyak untuk operasional PT Timah. Di kawasan Wasrey sendiri berdiri tangki-tangki minyak berukuran besar—penanda betapa strategisnya lokasi ini.
Tak heran jika pada masa itu, konvoi kendaraan keluar-masuk kawasan Wasrey menjadi pemandangan sehari-hari. Jalanan di sekitar Kampung Tanjung Ketapang pun kerap diperbaiki oleh PT Timah ketika rusak—sebuah bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat setempat.
Namun Bum Panjang bukan hanya milik industri. Ia juga milik kenangan warga.
Di masa lalu, kawasan ini menjadi surga bagi para pemancing. Saat musim cumi tiba, puluhan lampu petromax menyala di sepanjang pelabuhan, menciptakan suasana magis di tengah malam. Cahaya-cahaya itu berkelip seperti kunang-kunang, menari di atas permukaan laut yang tenang.
Di sekitar Wasrey, perahu-perahu nelayan bersandar rapi. Puluhan kapal kecil menjadi bagian dari lanskap harian yang begitu akrab di mata warga.
Waktu berlalu.
Bum Panjang sempat kehilangan denyutnya. Ia terbengkalai, perlahan ditinggalkan. Warga tak lagi datang memancing. Struktur pelabuhan mulai rapuh—tiang penyangga hilang, papan-papan kayu lapuk dimakan usia. Ia seakan hanya tinggal cerita.
Namun siapa sangka, kini Bum Panjang kembali hidup.
Tanpa banyak aba-aba, tempat ini mendadak booming. Warga berduyun-duyun datang, bukan lagi sekadar untuk memancing, melainkan untuk berwisata. Pada hari libur, kawasan ini dipadati pengunjung. Jalan menuju Wasrey penuh kendaraan, dari sepeda motor hingga mobil pelancong yang datang dari berbagai daerah.
Bum Panjang telah berubah wajah. Dari pelabuhan industri, menjadi ruang publik yang hidup. Dari tempat kerja, menjadi tempat rekreasi.
Lebih dari sekadar lokasi, Bum Panjang kini menjadi simbol bahwa ruang-ruang lama bisa menemukan makna baru. Bahwa jejak sejarah tidak harus dilupakan, tetapi bisa dihidupkan kembali dengan cara yang relevan bagi zaman.
Dan mungkin, di situlah letak keindahannya.
Tempat yang dulu kita datangi untuk bekerja atau sekadar bermain, kini kembali memanggil—dengan wajah yang berbeda, tetapi dengan rasa yang tetap sama.
Yo kite ngayau ke Bum Panjang.
Catatan:
Ngayau (bahasa Toboali): berkunjung.