Abdul Aziz: Pengaruh Mazhab Syiah terhadap Islam di Indonesia

Oleh Dr. Abdul Aziz, M.Ag.
Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said, Surkarta 

ORBITINDONESIA.COM - Jauh sebelum ketegangan Iran versus Israel-Amerika memanas, benih-benih tradisi Syiah telah lama bersemi dalam tubuh Islam Nusantara — tersembunyi dalam ritual, legenda, dan kerinduan eskatologis rakyat.

Ketika rudal Iran melayang ke arah Tel Aviv dan pasukan Amerika bersiaga di Teluk Persia, perdebatan Sunni-Syiah kembali memenuhi linimasa media sosial Indonesia. Umat Islam Indonesia — yang mayoritas bermazhab Sunni Syafi'i — tiba-tiba dihadapkan pada pertanyaan lama: di mana posisi kita? 

Namun di balik hiruk-pikuk geopolitik itu, tersembunyi sebuah ironi sejarah yang jarang diungkap secara jujur: Islam Indonesia sesungguhnya telah menyerap banyak dari tradisi Syiah, jauh sebelum kata "Syiah" menjadi “momok” yang menakutkan di kalangan Islam Wahabi di Timur Tengah. Demikian pula ulama-ulama Indonesia yang belajar Islam di Saudi Arabia dan terseret paham Wahabi-Salafi.

Pengaruh itu tidak datang dalam bentuk konversi masif atau gerakan teologis terorganisir. Ia datang perlahan, melalui jalur perdagangan, sufisme, dan lanskap budaya yang porous — meresap ke dalam ritual, seni, dan imajinasi eskatologis masyarakat Nusantara hingga menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari wajah Islam lokal.

Tradisi Duka Karbala 

Setiap tahun di Bengkulu, perayaan Tabot digelar dengan semarak. Arak-arakan prosesi, tabuhan tassa dan dhol, serta pembuatan replika menara dari bambu dan kertas warna-warni mengisi jalanan kota. Bagi kebanyakan warga, ini adalah tradisi budaya turun-temurun yang melekat pada identitas Bengkulu. Namun akar tradisi ini menancap dalam pada tragedi Karbala — peristiwa gugurnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, pada 10 Muharram 680 M.

Nama "Tabot" sendiri berasal dari kata Arab tabut, yang berarti peti atau paron — merujuk pada peti jenazah Husain. Tradisi serupa ditemukan di Pariaman, Sumatera Barat, di mana prosesi Tabuik dirayakan tiap tahun dengan membuang replika peti mati ke laut sebagai simbol kepergian roh Husain. Tradisi ini dibawa oleh tentara Sepoy dari India — yang sebagian besar adalah Muslim Syiah pada masa kolonial Inggris dan Belanda.

Di Aceh, jejak pengaruh Syiah bahkan lebih tua. Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara, memiliki hubungan erat dengan Persia dan Gujarat (India) yang membawa warna Syiah dalam ritualnya. 

Beberapa nisan kuno di Aceh menggunakan syair ratapan atas kematian Husain — sebuah praktik zikir yang khas Syiah.

Imam Mahdi dan Ratu Adil

Tidak ada doktrin Syiah yang lebih kuat merasuki imajinasi keagamaan Indonesia daripada keyakinan tentang juru selamat akhir zaman. Dalam teologi Syiah Imamiyah (Dua Belas Imam), Imam Mahdi adalah Imam Kedua Belas yang bersembunyi (ghaib) dan akan kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan. Keyakinan ini, yang secara teologis lebih elaboratif dalam Syiah daripada dalam Sunni, menemukan padanannya dalam konsep Jawa: Ratu Adil.

Ratu Adil — "Raja yang Adil" — adalah figur mesianik dalam ramalan Jayabaya abad ke-12, yang kelak berpadu dengan narasi Islam tentang Imam Mahdi. Dalam kepercayaan rakyat Jawa, kedua figur ini sering disamakan atau dianggap saling melengkapi: seorang pemimpin yang akan datang, muncul di saat dunia penuh kezaliman, untuk memulihkan tatanan kehidupan yang benar dan adil.

Sinkretisme ini bukan kebetulan; ia adalah hasil dari proses Islamisasi yang berlangsung melalui jalur tasawuf  dan pesantren yang lebih adaptif  terhadap unsur-unsur lokal dan asing. 

Gerakan-gerakan ratu adil meletus berulang kali dalam sejarah Indonesia — dari pemberontakan petani Banten hingga gerakan keagamaan di pedalaman Jawa (Diponegoro) dan Sunda (Kartosuwiryo). Semuanya menyiratkan kerinduan eskatologis yang secara struktural mirip dengan mesianisme Syiah.

Salah satu keunikan eskatologi Islam populer di Indonesia adalah perpaduan antara keyakinan tentang Imam Mahdi dan kedatangan kembali Nabi Isa (Jesus) di akhir zaman. Dalam hadis-hadis Sunni pun terdapat riwayat tentang turunnya Nabi Isa untuk membantu Imam Mahdi menegakkan keadilan. Namun dalam Islam Indonesia, kedua narasi ini berpadu dengan cara yang lebih intim dan lebih terasa "hidup" — bukan sekadar doktrin abstrak, melainkan keyakinan yang menghidupi ekspektasi dan perilaku sosial.

Di pesantren-pesantren tradisional, diskusi tentang tanda-tanda kiamat — Dajjal, Yakjuj-Makjuj, turunnya Nabi Isa, munculnya Imam Mahdi — disampaikan dengan semangat yang hampir menyerupai kepercayaan Syiah tentang al-ghaibah (kegaiban Imam). Ada nuansa harap-harap cemas yang sama: bahwa sang juru selamat itu ada, tersembunyi, dan akan tiba pada waktunya. Nuansa ini, meskipun bisa dijelaskan dari perspektif Sunni, terasa jauh lebih kuat di Indonesia dibanding di negara-negara Islam Sunni lainnya seperti di Malaysia dan Pakistan. Kenapa? Pengaruh Syiah melalui jalur tasawuf adalah salah satu faktor penjelasnya.

Sufisme: Jembatan Sunni dan Syiah

Jalur masuknya pengaruh Syiah ke Nusantara yang paling signifikan adalah sufisme. Banyak tokoh sufi besar yang menjadi agen Islamisasi di Nusantara — termasuk beberapa Wali Songo — memiliki silsilah atau afiliasi spiritual yang berakar di Persia dan dunia Syiah. Hamzah Fansuri, sufi Aceh abad ke-16 yang sangat berpengaruh, menggunakan konsep-konsep yang sangat dekat dengan teologi Syiah tentang cahaya Muhammad (nur Muhammad) dan hierarki spiritual.

Tradisi ratib, zikir kolektif, dan peringatan wafatnya orang-orang suci yang umum dalam Islam di Nusantara memiliki keserupaan struktural dengan praktik Syiah dalam meratapi dan memperingati para Imam. Bukan berarti ini adalah Syiah dalam pengertian teologis, tetapi pengaruh kultus kewalian yang khas Syiah dan paham tasawuf jelas sangat terasa.

Geopolitik dan Teologi

Perang Iran versus koalisi Israel-Amerika telah mendorong Islam Indonesia ke dalam dilema identitas yang tajam. Di satu sisi, solidaritas sesama Muslim menumbuhkan simpati terhadap Iran sebagai negara yang melawan hegemoni Barat. Di sisi lain, narasi anti-Syiah yang menguat sejak 2000-an — didorong sebagian oleh pengaruh Salafi-Wahabi dan geopolitik Arab Saudi — membuat banyak umat Islam Indonesia bersikap ambivalen. 

Ironi terbesarnya adalah ini: mereka yang paling keras menolak Syiah, sering kali tanpa sadar, mewarisi sebagian tradisi yang berakar dari pengaruh Syiah itu sendiri. Misalnya cara mereka mengekspresikan kerinduan akan keadilan:  membayangkan adanya figur juru selamat. 

Salah kaprah? Tidak. Sejarah memang tidak berjalan dalam garis teologi yang lurus dan murni. Islam Indonesia adalah sedimen yang berlapis. Dan sebagian lapisan itu, tak terelakkan, berwarna Syiah.

Memahami pengaruh Syiah dalam Islam Indonesia bukan berarti mendelegitimasi identitas Sunni mayoritas, atau sebaliknya membenarkan segala bentuk sektarianisme. Ini adalah undangan untuk membaca sejarah dengan jujur — bahwa kekayaan Islam Nusantara justru lahir dari persilangan yang kompleks, dari kemampuan para ulama lokal menyerap dan mentransformasi berbagai aliran --  menjadi sesuatu yang khas dan hidup. 

Dengan demikian, Islam Indonesia tidak pernah benar-benar murni Sunni dalam pengertian tekstual. Ia adalah komposit — perpaduan Syafi'i, sufi, dan nuansa Syiah — yang membentuk karakter unik Islam di Nusantara.  

Di tengah dunia yang semakin mudah terbakar oleh label dan identitas, kejujuran historis semacam ini menjadi “kelebihan Islam” di Nusantara. 

Mengapa? Karena Kejujuran ini bisa untuk membangun toleransi dan kebersatuan umat Islam. Khususnya di Indonesia.***