USPS di Ambang Krisis Keuangan: Perubahan atau Kemunduran?
ORBITINDONESIA.COM – USPS menghadapi krisis keuangan yang mengancam keberlanjutannya dalam setahun mendatang, memicu kekhawatiran dan seruan tindakan dari Kongres.
USPS, layanan pos nasional Amerika Serikat, dilaporkan akan kehabisan kas dalam waktu kurang dari satu tahun. Situasi ini memaksa Kongres untuk mempertimbangkan peningkatan batas pinjaman USPS dengan Departemen Keuangan. Meskipun reformasi besar disahkan pada tahun 2022 yang menghemat $107 miliar, USPS tetap berada di bawah bayang-bayang masalah keuangan mendalam yang terus berlanjut sejak pandemi COVID-19.
Postmaster General David Steiner menyoroti bahwa USPS tidak dapat terus beroperasi dengan status quo saat ini. Meskipun ada penghematan tenaga kerja dan penerapan strategi reformasi, USPS mencatat kerugian bersih $9,5 miliar pada akhir tahun fiskal 2025. Volume surat yang menurun hampir setengah dalam dua dekade terakhir menjadi salah satu penyebab utama krisis ini. USPS, pada saat yang sama, menghadapi persaingan sengit dari perusahaan seperti FedEx dan UPS dalam industri pengiriman paket yang lebih menguntungkan.
Kritik datang dari berbagai pihak di Kongres, terutama dari Partai Republik yang skeptis terhadap permintaan bantuan lebih lanjut. Mereka mempertanyakan upaya pengurangan biaya USPS dan menyarankan langkah-langkah seperti pembekuan perekrutan. Namun, Steiner berargumen bahwa beberapa pengurangan tidak memungkinkan tanpa mengorbankan layanan inti. Dengan meningkatnya tekanan, USPS juga menghadapi tantangan dari peraturan yang membatasi frekuensi kenaikan harga surat. Hal ini semakin memperburuk situasi keuangan agensi ini.
USPS berada di persimpangan jalan yang kritis. Dengan pilihan terbatas dan waktu yang semakin menipis, keputusan yang diambil dalam beberapa bulan mendatang akan menentukan masa depan layanan pos ini. Apakah reformasi tambahan atau perubahan struktural diperlukan? Ataukah ini saatnya untuk mempertimbangkan kembali model bisnis yang sudah berumur dekade? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi urgensi tindakan tidak bisa diabaikan.
(Orbit dari berbagai sumber, 17 April 2026)