IMF Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menjadi 5% pada 2026, Lebih Rendah dari Proyeksi WEO Edisi Januari

ORBITINDONESIA.COM - Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% pada 2026, lebih rendah dari proyeksi WEO edisi Januari, 5,1%.

IMF juga memangkas pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1%. Dalam WEO edisi April, IMF menekankan dampak perang yang memberatkan pertumbuhan ekonomi dunia.

Proyeksi untuk Indonesia itu lebih tinggi dibandingkan China yang hanya tumbuh 4,4%, dan Filipina yang 4,1%. Namun, India diperkirakan tumbuh lebih tinggi, yakni 6,5%.

Sementara, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimismenya, ekonomi tumbuh di atas 5,1%. Di acara media briefing, Senin lalu, 13 April 2026, Airlangga yakin pertumbuhan kuartal I-2026 akan mencapai sekitar 5,5%.

Ia optimistis memasuki kuartal II ekonomi dalam posisi kuat. Itu tercermin dari inflasi yang terkendali, surplus perdagangan selama 70 bulan, dan tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Sektor manufaktur masih di fase ekspansi dengan indeks 50,1, cadangan devisa tetap kuat USD 148,2 miliar.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per akhir Februari mencapai USD 437,9 miliar, setara Rp 7.503,45 triliun (asumsi rupiah Rp 17.135/USD).

Angka ini naik dari Januari yang USD 434,9 miliar (Rp 7.452,01 triliun). ULN Indonesia tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dari Januari yang tumbuh 1,7%.

Peningkatan ULN terutama didorong oleh ULN sektor publik, khususnya BI, seiring masuknya modal asing ke instrumen moneter, yakni SRBI. Sementara, posisi ULN swasta mengalami penurunan.

Dari ULN publik, ULN pemerintah tercatat USD 215,9 miliar. Secara tahunan, tumbuh 5,5% (yoy), sedikit di bawah pertumbuhan Januari 5,6% (yoy). Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang.

Sementara peningkatan ULN BI didorong kenaikan kepemilikan nonresiden terhadap instrumen moneter, sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.

Sedangkan ULN swasta tercatat sebesar USD 193,7 miliar, turun 0,7% (yoy). Perkembangan ULN swasta dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan yang masing-masing turun 2,8% (yoy) dan 0,2% (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3% terhadap total ULN swasta.***