Iran Sebut Nama 2 Perwira Kapal Perang Amerika USS Spruance sebagai Penjahat Perang
ORBITINDONESIA.COM - Berita dari The Times of India melaporkan bahwa Iran secara resmi menyebut dua perwira Angkatan Laut AS dari kapal perusak USS Spruance sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan rudal ke sebuah sekolah putri di Minab, Iran, yang menewaskan 168 pelajar.
Nama perwira itu adalah Commander Leigh R. Tate (komandan kapal) dan Executive Officer Jeffrey E. York (wakil komandan).
Iran menuduh keduanya memerintahkan peluncuran rudal Tomahawk sebanyak tiga kali ke arah sekolah putri itu.
Kronologi serangan
Serangan terjadi pada awal operasi militer gabungan AS–Israel bernama Operation Epic Fury. Sekolah tersebut berada berdekatan dengan pangkalan militer IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) di dekat Selat Hormuz.
Media AS menyebut bahwa sekolah rusak akibat operasi presisi yang menargetkan instalasi militer di sekitar lokasi. Laporan menyebut 165–168 korban tewas, sebagian besar anak-anak.
Pemakaman massal ditayangkan oleh media Iran, dengan peti jenazah berbalut bendera Iran dan foto anak-anak korban.
Respons internasional
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuding AS dan Israel bertanggung jawab. Israel membantah keterlibatan.
Di Washington, lebih dari 45 senator Demokrat meminta klarifikasi dari Menteri Pertahanan AS mengenai apakah benar serangan itu dilakukan oleh militer AS dan apakah prosedur perlindungan sipil dijalankan.
Temuan sementara menyebut kemungkinan terjadi kesalahan identifikasi target sehingga sekolah terkena dampak serangan terhadap fasilitas militer di dekatnya.
Serangan ini menjadi salah satu titik paling kontroversial dalam konflik AS–Iran–Israel, karena menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar di hari-hari awal perang.
Iran menekankan aspek “kejahatan perang” dengan menyebut nama perwira AS secara terbuka, sementara pihak AS menghadapi tekanan politik dan publik terkait akurasi intelijen serta perlindungan warga sipil.
Reaksi PBB dan Lembaga Internasional
Sekjen PBB dan Komisioner HAM Volker Turk menyebut insiden ini sebagai “tragedi absolut” dan menuntut investigasi cepat, transparan, serta akuntabilitas penuh. Dewan HAM PBB menyerukan agar AS segera menjelaskan apakah prosedur perlindungan sipil dijalankan.
UNICEF menyatakan keprihatinan mendalam atas tewasnya ratusan anak sekolah, menekankan bahwa serangan terhadap fasilitas pendidikan melanggar hukum humaniter internasional.
Council on Foreign Relations (CFR) menyebut serangan ini sebagai salah satu insiden korban sipil paling mematikan dalam sejarah militer AS modern.
Human Rights Watch (HRW) menyebut serangan ini sebagai kemungkinan kejahatan perang, menekankan bahwa target sipil tidak boleh diserang meski berada dekat fasilitas militer.
Amnesty International mendesak adanya pengadilan internasional untuk mengusut perwira yang disebut Iran bertanggung jawab.
International Committee of the Red Cross (ICRC) mengingatkan semua pihak bahwa hukum perang jelas melarang serangan terhadap sekolah dan anak-anak. ***