Shinta Kamdani: Dunia Usaha Mulai Merasakan Tekanan Akibat Konflik Timur Tengah.
ORBITINDONESIA.COM - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengaku, dunia usaha mulai merasakan tekanan akibat konflik Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak mulai memberi tekanan pada biaya produksi. Komponen biaya yang paling cepat terdampak adalah energi dan logistik.
Selain itu bahan baku impor juga mulai mengalami tekanan. Meski begitu, pelaku usaha masih berusaha menahan kenaikan harga produk, khususnya saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa menyebut sektor yang bergantung pada energi langsung terdampak, sementara sektor lain seperti manufaktur dan ritel baru terdampak dalam 1-2 bulan lewat kenaikan biaya produksi dan tekanan margin.
Untuk meredamnya, ia menyarankan pemerintah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan energi, memastikan subsidi tepat sasaran, terutama untuk sektor produktif. Juga memberikan stimulus bagi sektor paling terdampak.
DPR RI sudah menetapkan langkah efisiensi sesuai arahan pemerintah akibat dari perang di Timur Tengah yang berimplikasi pada pasokan minyak mentah dunia.
Sekretaris Jenderal DPR Indra Iskandar mengatakan, efisiensi berupa pengurangan jatah BBM 1 hari per minggu untuk mobil dinas ASN.
Selain itu, lampu kawasan gedung DPR akan dimatikan setelah pukul 20.00 jika tidak ada sidang.
Menkeu Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,5%-5,7%, ditopang oleh data-data perekonomian khususnya sektor konsumsi yang menunjukan peningkatan.
Salah satu strateginya adalah memfokuskan kebijakan fiskal dan moneter berjalan beriringan untuk menggerakkan aktivitas usaha, belanja pemerintah gencar dan BI Rate akomodatif.
Saat ekonomi global tertekan pemerintah akan fokus menggelontorkan belanja negara tepat waktu sebagai pendorong aktivitas ekonomi, sambil terus memperbaiki iklim usaha dan likuiditas perekonomian.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan pertumbuhan kuartal I-2026 di kisaran 5,1%-5,2%.
Kenaikan lebih tinggi, menurut dia, sulit tercapai karena konflik Timur Tengah yang kian panas.
Pendorong utama pertumbuhan di rentang tersebut adalah konsumsi rumah tangga dipicu faktor musiman Ramadan dan Idul Fitri, serta belanja pemerintah.
Namun ada hambatan dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi dan net-ekspor.
Sementara itu, konflik Timur Tengah yang sudah berlangsung hampir 1 bulan sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda bakal berakhir. Ini berarti ketidakpastian masih akan berlangsung lama.
Dampak sosial ekonomi di dalam negeri Indonesia tentu saja akan semakin berat. Perlu diapresiasi kesiagaan pemerintah dalam menghadapi situasi dengan melakukan efisiensi anggaran.
Namun, masyarakat tentu berharap pemerintah juga lebih arif dalam menyikapi masalah-masalah yang menjadi perhatian publik, supaya tidak menjadi katalisator yang dapat memperburuk situasi.