Perbedaan Penetapan Idul Fitri: Antara Rukyat dan Hisab

ORBITINDONESIA.COM – Ketika dunia Islam menyambut Idul Fitri, perbedaan penetapan tanggal tetap menjadi isu menarik. Tahun ini, beberapa negara merayakan Lebaran pada tanggal berbeda, mencerminkan beragam metode penentuan awal bulan Hijriah.

Penetapan Hari Raya Idul Fitri sering kali menimbulkan perbedaan di kalangan umat Islam. Berbagai negara menggunakan metode rukyat atau hisab untuk menentukan awal bulan Syawal. Tahun 2026, fenomena ini kembali terlihat ketika negara-negara seperti Arab Saudi dan Indonesia menetapkan tanggal berbeda untuk merayakan Idul Fitri.

Banyak negara Timur Tengah dan Afrika mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 20 Maret 2026. Sementara itu, Indonesia dan Singapura memilih 21 Maret sebagai hari raya. Perbedaan ini muncul dari ketidakmampuan melihat hilal di beberapa lokasi. Arab Saudi dan negara Teluk menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari setelah hilal tak terlihat.

Metode rukyat dan hisab mencerminkan pendekatan berbeda dalam memahami ajaran Islam. Rukyat mengandalkan observasi langsung, sementara hisab menggunakan perhitungan astronomi. Kedua metode ini memiliki pendukung yang berargumen dari sisi keakuratan dan kepatuhan terhadap tradisi.

Perbedaan penetapan Idul Fitri menyoroti keragaman dalam praktik keagamaan umat Islam. Ini mengundang refleksi tentang bagaimana umat menerima perbedaan tersebut dengan saling menghormati. Mungkinkah suatu hari nanti kita mencapai kesepakatan yang lebih universal?

(Orbit dari berbagai sumber, 24 Maret 2026)