Iran Mengatakan Siap Perang Sepenuhnya – Akankah Diplomasi Berhasil?

ORBITINDONESIA.COM - Iran dilaporkan telah menyelesaikan persiapan perangnya, dan negosiasi yang akan datang dapat menentukan apakah ketegangan meningkat menjadi konflik terbuka atau beralih ke diplomasi.

Pertanyaan kuncinya sekarang adalah apakah Presiden Donald Trump akan memilih tekanan militer atau mundur demi pembicaraan.

Keseimbangan Militer: Kekuatan Udara vs Kekuatan Rudal
Tidak diragukan lagi bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan udara yang luar biasa. Angkatan Udara AS, yang didukung oleh jet tempur canggih, pesawat siluman, kapal induk, dan amunisi berpemandu presisi, mendominasi peperangan udara konvensional.

Dalam konfrontasi langsung apa pun, serangan udara Amerika dapat menargetkan fasilitas nuklir Iran, sistem pertahanan udara, dan pusat komando dalam hitungan jam.

Namun, strategi Iran tidak bergantung pada pencocokan kekuatan udara AS. Sebaliknya, Teheran telah berinvestasi besar-besaran dalam sistem rudal balistik dan jelajah yang mampu menyerang pangkalan AS regional dan target sekutu. Persenjataan rudalnya dianggap sebagai salah satu yang terbesar di Timur Tengah.

Faktor Selat Hormuz
Elemen strategis utama adalah Selat Hormuz, jalur air sempit yang dilalui hampir 20% pasokan minyak dunia. Iran telah berulang kali memberi sinyal bahwa jika terjadi perang, mereka dapat mengganggu lalu lintas maritim di jalur penting ini.

Bahkan gangguan terbatas pun dapat menyebabkan harga minyak global melonjak, berdampak pada pasar dari Asia hingga Eropa dan memberikan tekanan ekonomi pada pemerintah Barat.

Mungkinkah Perang Ini Berlangsung Singkat?
Beberapa analis percaya Washington mungkin mempertimbangkan serangan udara terbatas yang berlangsung beberapa hari untuk melemahkan infrastruktur militer Iran. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kampanye pengeboman jangka pendek jarang mengakhiri konflik geopolitik yang kompleks.

Jika Iran merespons dengan serangan rudal ke pangkalan regional atau target di Israel, eskalasi dapat terjadi dengan cepat. Sekutu regional, termasuk Israel dan negara-negara Teluk, akan semakin terlibat dalam konfrontasi.

Pertanyaan yang Lebih Besar
Pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah AS dapat menyerang Iran — jelas bisa. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi setelah gelombang serangan pertama:

Akankah Iran meningkatkan eskalasi melalui perang asimetris?

Akankah pasar minyak runtuh dan mengalami krisis?

Akankah milisi regional pro-Iran membuka banyak front?

Atau akankah negosiasi berhasil di saat-saat terakhir?

Diplomasi atau Eskalasi?
Pembicaraan hari ini bisa menjadi titik balik. Jika diplomasi gagal, Timur Tengah mungkin memasuki salah satu babak paling berbahaya dalam sejarah baru-baru ini.

Jika pembicaraan berhasil, hal itu dapat mencegah perang regional yang lebih luas yang tidak hanya akan berdampak pada Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga ekonomi global. Dunia mengamati dengan saksama.***