CORE Peringatkan Pembengkakan Subsidi Energi Akibat Impor Minyak dan Gas dari AS
ORBITINDONESIA.COM - Center of Reform on Economics (CORE) hari Rabu, 25 Februari 2026, memperingatkan risiko pembengkakan subsidi energi akibat impor minyak dan gas dari AS.
Ekonom energi CORE, Muhammad Ishak Razak mengatakan, jarak Teluk Meksiko — tempat pengangkutan komoditas energi AS ke Indonesia — bisa lebih jauh 3-4 kali dibanding Timur Tengah.
Kewajiban Indonesia membeli minyak dan gas dari AS tertuang dalam Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau resiprokal (Agreement of Reciprocal Trade/ART), yang diteken pekan lalu.
Kewajiban tersebut membuat biaya transportasi lebih mahal, sehingga harga yang diterima RI pun lebih tinggi. Jika landed cost lebih tinggi, ada dilema apakah pemerintah menanggung selisihnya dengan subsidi ataukah meneruskan ke konsumen yang berisiko memicu inflasi.
Risiko lain, waktu tempuh kapal lebih lama yakni 30-45 hari, sementara dari Timur Tengah, minyak rata-rata tiba di Indonesia dalam 10-15 hari.
Ini meningkatkan kerentanan pasokan terhadap gangguan seperti cuaca dan sebagainya.
Selain itu, Ishak menilai komitmen pembelian dalam volume besar dan jangka waktu panjang, membuat Indonesia kehilangan fleksibilitas untuk memanfaatkan pasar spot yang lebih murah dan supplier yang lebih dekat seperti pasar spot Singapura.***