Satrio Arismunandar: Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei Telah Mempersiapkan Kematiannya Sendiri!
Oleh Satrio Arismunandar
ORBITINDONESIA.COM - Di tengah ketegangan yang makin meningkat antara AS dan Iran saat ini, setiap sinyal yang dikirim Iran secara publik mengatakan siap untuk perdamaian. Tetapi setiap tindakan yang diambil Iran di bawah layar mengatakan kesiapan untuk perang.
The New York Times baru-baru ini mengkonfirmasikan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, pada awal Januari 2026, diam-diam telah mendelegasikan wewenang operasional yang luas kepada Ali Larijani, dengan arahan eksplisit untuk kelangsungan rezim jika Khamenei terbunuh.
Larijani, 67 tahun, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sejak Agustus 2025, sekarang dilaporkan menjalankan urusan keamanan dan militer utama sebagai pemerintahan bayangan yang dirancang untuk berfungsi tanpa arsiteknya, Khamenei.
Berikut detail yang seharusnya membuat Anda terkejut.
Khamenei tidak memilih putranya sendiri sebagai penerus. Padahal Mojtaba Khamenei telah dipersiapkan untuk suksesi kepemimpinan selama bertahun-tahun. Setiap analis yang meliput transisi Iran telah memodelkan Mojtaba sebagai pewaris yang diunggulkan.
Dan pada saat Khamenei harus memilih siapa yang akan menjaga negara tetap bersatu di bawah tekanan, ia sepenuhnya mengabaikan garis keturunannya sendiri. Khamenei menyerahkannya kepada seorang operator politik dengan hubungan kelembagaan di seluruh IRGC (Korps Garda Revolusi Islam), ulama, peradilan, dan korps diplomatik.
Pilihan itu adalah poin data terpenting dalam seluruh krisis ini. Lebih penting daripada pergerakan pesawat-pesawat angkut raksasa C-17 AS. Lebih penting daripada pergerakan kelompok kapal induk AS. Karena itu memberi tahu kita tiga hal sekaligus.
Pertama, Khamenei percaya bahwa pembunuhan terhadap dirinya adalah probabilitas operasional yang nyata dalam jangka waktu saat ini. Khamenei tidak membangun pemerintahan bayangan untuk sesuatu yang sifatnya hipotetis.
Khamenei membangun pemerintahan bayangan karena dinas intelijen Iran menilai bahwa ancaman AS-Israel telah beralih, dari perencanaan kontingensi menjadi penargetan aktif terhadap pemimpin spiritual tertinggi Iran: Khamenei.
Axios mengkonfirmasi bahwa Trump telah diberi pilihan untuk menyerang/membunuh Khamenei secara langsung. Tindakan Pemimpin Tertinggi sendiri mengkonfirmasi bahwa dia mengetahui hal ini.
Kedua, Khamenei tidak mempercayai rencana lama tentang suksesinya sendiri. Mojtaba diperkirakan tidak akan dapat mempertahankan IRGC dalam kondisi medan perang.
Pemimpin Tertinggi yang berusia 86 tahun itu memandang putra, yang telah ia posisikan selama beberapa dekade. Dan Khamenei menyimpulkan --di bawah ancaman nyata-- bahwa kelangsungan hidup institusional pemerintah Islam membutuhkan seseorang yang dapat mengelola para jenderal, bukan cuma mewarisi gelar “pemimpin tertinggi.”
Itu adalah penilaian yang sangat buruk terhadap calon pewarisnya sendiri, yang dibuat di bawah tekanan, dan itu menunjukkan bahwa kerapuhan internalnya lebih buruk daripada yang ditangkap oleh analisis eksternal mana pun.
Ketiga, dan ini adalah bagian yang tidak dibahas siapa pun. Pendelegasian itu terjadi pada awal Januari 2026. Beberapa minggu sebelum peningkatan kekuatan militer AS. Beberapa minggu sebelum peningkatan jumlah pesawat angkut raksasa C-17. Beberapa minggu sebelum tenggat waktu 10 hari Trump.
Khamenei membaca lingkungan strategis pada bulan Januari. Ia menyimpulkan bahwa kemungkinan terbunuhnya dirinya sendiri cukup tinggi untuk mengaktifkan protokol keberlanjutan, sebelum satu pun pesawat kargo meninggalkan tanah Amerika.
Intelijen Iran melihat ini akan terjadi, bahkan sebelum Pentagon menunjukkan niatnya. Pemerintah bayangan dibangun, bahkan sebelum ancaman AS itu dipublikasikan.
Sekarang, kita selaraskan ini dengan semua yang telah dikatakan Iran di depan umum sejak Januari. Menlu Iran Abbas Araghchi di MSNBC: “kesepakatan sedang dibentuk.” ISNA melalui Bloomberg: “AS menerima pengayaan uranium.” Diplomat Iran di Jenewa: “proposal tertulis akan datang dalam beberapa hari.”
Setiap sinyal publik dari Teheran pada bulan Februari telah memproyeksikan kepercayaan diri, fleksibilitas, dan momentum diplomatik. Dan di balik semua itu, sejak Januari, Pemimpin Tertinggi Iran diam-diam telah mempersiapkan kematiannya sendiri.
Pemerintah yang percaya diplomasi mereka akan berhasil tidak membangun pemerintahan bayangan. Pemerintahan bayangan bukanlah rencana cadangan. Itu adalah penilaian yang sebenarnya. Segala sesuatu yang lain hanyalah sandiwara yang dipentaskan.
Berdasarkan pengalaman selama ini, Iran tahu bahwa Israel dan AS tidak akan pernah puas sebelum pemerintahan Islam di Teheran runtuh. Segala macam tuntutan ini-itu yang terus meningkat hanyalah sarana untuk menuju tujuan tersebut. Jadi Iran tetap melayani basa-basi perundingan atau diplomasi dengan AS, tetapi sebetulnya Teheran sudah hilang kepercayaan pada pola-pola yang dimainkan AS-Israel.
Pesawat patroli AS sedang terbang berputar-putar. Armada kapal induk terus menunggu perintah. Personel dievakuasi. Pasukan IRGC telah berkumpul di perbatasan. Target Iran telah menyebarkan kepemimpinannya.
Dan Pemimpin Tertinggi memilih siap mati demi kelangsungan hidup pemerintahan Islam Iran, bahkan sebelum dunia tahu ada krisis.
Ketika target sudah bersiap untuk datangnya serangan, sebelum si penembak mengumumkan akan menyerang, satu-satunya orang yang terkejut adalah mereka yang hanya mendengarkan kata-kata, alih-alih memperhatikan gerakan di bawah layar.
*Satrio Arismunandar,* pakar SCSC (South China Sea Council). Dinarasikan dari sumber data: BRICS News. ***