Sastri Bakry - Hikmah Ramadan: Berpuasa dan Berjualan
Oleh Sastri Bakry, Koordinator SATUPENA Sumbar
ORBITINDONESIA.COM - Sebulan lalu, anak saya, Ranti Arastri, mengirimkan sebuah foto yang membuat saya terkejut sekaligus bangga. Dalam foto itu, cucu saya, Asyifa, tampak berdiri di depan meja kecil di sekolahnya. Di atas meja tersusun pizza mini yang ia jual seharga dua ribu rupiah per buah.
Ternyata hari itu adalah program Happy Market Day. Asyifa membawa 30 buah pizza mini—dan semuanya habis terjual. Sistem yang diterapkan gurunya sederhana namun cerdas: setiap anak di kelas yang berjumlah 30 orang mendapat giliran berjualan, dan teman-temannya wajib membeli. Hari ini membeli dagangan Asyifa, besok Asyifa membeli dagangan temannya dengan harga yang sama. Begitu seterusnya.
Saya tersenyum. Di balik transaksi kecil dua ribu rupiah itu, ada pelajaran besar: hidup memerlukan usaha. Uang tidak jatuh dari langit; ia diperoleh melalui kerja, sekecil apa pun langkahnya.
Namun pelajaran itu rupanya tidak berhenti di sekolah. Di bulan Ramadan, Ranti kembali mengajarkan anaknya tentang makna usaha dan kemandirian. Menjelang berbuka puasa, Alle, Asyifa, dan Aisyah bersama anak-anak Teras Talenta—Lala, Regia, dan Olive—menjajakan dagangan di depan Rumah Baca Teras Talenta. Mereka menjual 12 boks cendol kecebong seharga dua belas ribu rupiah per boks.
Saya mengamati dari kejauhan. Dengan wajah penuh semangat, mereka menawarkan dagangan kepada orang-orang yang lewat. Ada yang tersenyum, ada yang tak acuh. Melihat usaha kecil mereka yang kadang tak digubris, hati saya terasa hangat sekaligus terharu. Di situlah pelajaran sejati berlangsung—bukan hanya tentang menjual, tetapi tentang keberanian, ketekunan, dan menghadapi penolakan.
Ramadan memang bulan puasa. Kita menahan lapar dan dahaga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan. Namun puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Ia adalah latihan spiritual—melatih kesabaran, disiplin, dan kepekaan hati.
Puasa mengajarkan empati. Ia mengingatkan kita bahwa di luar sana, ada orang-orang yang bahkan untuk sepuluh ribu rupiah pun terasa begitu berarti. Ada yang kesulitan sekadar untuk makan. Ada yang hidup dalam keterbatasan yang tak pernah kita bayangkan.
Dalam konteks itulah pengalaman anak-anak berjualan menjadi relevan. Mereka belajar bahwa uang diperoleh dari usaha, dari menawarkan, dari berani mencoba. Mereka merasakan bahwa tidak semua orang akan langsung membeli. Ada proses, ada perjuangan, ada hasil yang kadang sesuai harapan, kadang tidak.
Mengajarkan anak untuk berjualan bisa menjadi cara yang baik untuk menumbuhkan kemandirian—selama dilakukan dengan bijak. Dari sana mereka belajar berkomunikasi, mengatur waktu, mengelola uang, dan memahami nilai kerja keras. Namun tentu saja, anak-anak tidak boleh dibebani tanggung jawab yang bukan milik mereka. Mereka tidak dituntut menopang ekonomi keluarga. Masa kanak-kanak adalah masa bermain dan belajar dengan bahagia.
Ketika suara adzan maghrib berkumandang, Alle, Asyifa, dan Aisyah menghitung hasil jualan mereka. Hari itu hanya tiga boks yang terjual. “Alhamdulillah,” kata mereka. Bukan jumlahnya yang penting, melainkan pengalaman yang melekat di hati.
Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang lapar yang tertahan, tetapi tentang hati yang dilembutkan. Tentang belajar ikhlas, bekerja keras, dan berbagi. Tentang merasakan perjuangan, sekecil apa pun, agar tumbuh empati terhadap sesama.
Dan melihat anak-anak tersenyum meski jualannya belum habis, saya sadar: di sanalah hikmah Ramadan bekerja—diam-diam, sederhana, tetapi membekas sepanjang usia. ***