Dari Indonesia untuk Dunia: Humanity First Indonesia Raih Penghargaan Internasional di London

ORBITINDONESIA.COM — Di sebuah aula besar di London, akhir November 2025, ratusan delegasi dari berbagai negara berkumpul dalam Konferensi Humanity First Internasional. Mereka datang membawa cerita tentang misi kemanusiaan, tentang bantuan yang menjangkau wilayah terdampak bencana, tentang tangan-tangan relawan yang bekerja tanpa banyak sorotan.

Di antara delegasi yang hadir, Indonesia tampil menonjol. Bukan hanya karena jumlah utusannya yang menjadi salah satu yang terbesar tahun ini, tetapi karena rekam jejak pengabdian yang telah terbangun selama dua dekade terakhir.

Humanity First Indonesia, organisasi kemanusiaan yang didirikan oleh Jemaat Ahmadiyah dan berada di bawah naungan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), menerima penghargaan khusus atas keaktifan dan konsistensinya dalam menjalankan misi kemanusiaan selama 20 tahun terakhir. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Khalifatul Masih V, Mirza Masroor Ahmad, pemimpin Jemaat Ahmadiyah tingkat dunia.

Momen itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi penanda perjalanan panjang sebuah organisasi yang tumbuh dari kepedulian, bertahan dalam dinamika sosial, dan terus bergerak menjawab kebutuhan kemanusiaan.

Sejak berdiri, Humanity First Indonesia dikenal aktif dalam berbagai aksi sosial: respons tanggap darurat bencana, layanan kesehatan gratis, distribusi bantuan pangan, hingga program pemberdayaan masyarakat. Di berbagai daerah, relawan mereka kerap hadir lebih dulu, bekerja dalam senyap, membantu tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun status sosial penerima manfaat.

Selama 20 tahun, ribuan relawan telah terlibat dalam misi-misi kemanusiaan di berbagai penjuru Indonesia. Dari wilayah yang terdampak gempa, banjir, hingga daerah terpencil yang membutuhkan layanan kesehatan dan pendidikan, Humanity First Indonesia menjadikan prinsip kemanusiaan sebagai fondasi utama gerakannya.

Keikutsertaan delegasi Indonesia dalam konferensi di London pada 28–30 November 2025 menjadi refleksi atas semangat tersebut. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi sebagai representasi pengalaman lapangan yang kaya—tentang bagaimana solidaritas dibangun di tengah tantangan, dan bagaimana nilai kemanusiaan diterjemahkan ke dalam aksi nyata.

Penghargaan dari Khalifatul Masih V menjadi simbol apresiasi atas dedikasi itu. Namun bagi para relawan, pengakuan terbesar tetaplah senyum masyarakat yang terbantu dan komunitas yang kembali bangkit setelah diterpa musibah.

Humanity First Indonesia menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan tidak selalu membutuhkan sorotan besar untuk memberi dampak luas. Konsistensi, kolaborasi, dan komitmen jangka panjang menjadi kunci. Dalam setiap programnya, organisasi ini berupaya menghadirkan bantuan yang tidak hanya menyelesaikan masalah sesaat, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat.

Di tengah dunia yang kerap diliputi krisis dan perpecahan, kisah Humanity First Indonesia menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan melampaui batas geografis dan identitas. Dari Indonesia, semangat itu dibawa ke panggung internasional—dan di London, ia mendapat pengakuan.

Namun perjalanan belum selesai. Dua puluh tahun adalah fondasi. Tantangan ke depan tentu lebih kompleks. Tetapi satu hal yang tetap sama: komitmen untuk hadir, membantu, dan menguatkan sesama, di mana pun dibutuhkan.

Karena pada akhirnya, kemanusiaan bukan sekadar program. Ia adalah panggilan.***